Suara dengung mesin Gulfstream G650ER ini biasanya terdengar seperti nyanyian pengantar tidur yang menenangkan bagiku. Namun hari ini, di ketinggian empat puluh ribu kaki di atas Samudra Hindia, bunyi itu justru terdengar seperti detak jantung yang memburu. Aku menyandarkan punggung ke kursi kulit premium, menyesap wiski berumur dua puluh tahun yang terasa kering di tenggorokanku. Mataku tidak pernah lepas dari sosok wanita yang duduk beberapa meter di depanku.
Sela. Sekretarisku.
Dia sedang berpura-pura sibuk dengan iPad-nya, namun aku bisa melihat jemari lenturnya gemetar setiap kali ia menggeser layar. Dia tidak benar-benar membaca laporan kuartalan itu. Aku tahu karena kepalanya sedikit tertunduk, helai rambut hitamnya menutupi profil wajahnya yang tampak pucat sekaligus merona.
"Sela," panggilku. Suaraku lebih berat dari biasanya, membelah kesunyian kabin yang kedap suara.
Dia tersentak kecil, hampir menjatuhkan perangkat di tangannya. "Ya, Pak Adrian?"
"Kemari."
Dia ragu sejenak, menelan ludah sebelum bangkit berdiri. Rok pensil abu-abu yang dikenakannya memeluk pinggulnya dengan sempurnaβhasil dari instruksi spesifikku mengenai *wardrobe* perjalanan ini. Setiap langkahnya menuju kursiku terasa seperti siksaan yang direncanakan. Aku bisa mencium aroma vanila dan sedikit wangi *musk* yang lembut saat dia berdiri tepat di hadapanku.
"Duduk di sini," perintahku, menunjuk kursi ottoman di depanku.
Dia patuh, meskipun aku bisa melihat dadanya naik turun dengan cepat di balik blus sutra putihnya yang tipis. "Ada yang perlu saya siapkan untuk pertemuan besok, Pak?" suaranya mencicit, berusaha keras mempertahankan nada profesional.
Aku meletakkan gelas wiski ke meja lipat di sampingku. "Lupakan soal pertemuan besok. Kita punya urusan yang lebih mendesak sekarang." Aku memajukan tubuh, memperpendek jarak di antara kami hingga aku bisa melihat butiran keringat halus di pelipisnya. "Kau sudah menyelesaikan semua persiapan yang kuminta sebelum kita berangkat tadi malam?"
Wajah Sela memerah padam. Dia menunduk, tidak berani menatap mataku. "Sudah, Pak. Semuanya... sesuai instruksi yang Bapak kirimkan lewat dokumen privat itu."
"Semuanya?" desakku. Aku ingin mendengar pengakuannya. Aku ingin tahu apakah dia benar-benar merombak dirinya, membuang semua batasan pribadinya hanya karena perintahku. "Terma**k perawatan kulit dan... bagian yang lebih personal?"
Sela mengangguk pelan, jemarinya meremas kain roknya sendiri. "I-iya. Semuanya sudah saya bersihkan dan rapikan... sesuai standar yang Bapak minta."
Aku merasakan ketegangan yang familiar di pangkal pahaku. Aku adalah pria yang terobsesi dengan kendali. Dalam bisnis, aku mengatur setiap det**l hingga ke unit terkecil. Dan sekarang, Sela adalah proyekku. Dia adalah aset yang telah kupahat sesuai keinginanku. Namun, ada bagian dari diriku yang memberontakβbagian yang menginginkannya bukan sebagai bawahan yang patuh, melainkan sebagai wanita yang mendambakanku.
"Aku tidak terbiasa hanya menerima laporan verbal, Sela," ucapku pelan, suaraku kini serak. "Kau tahu aku sangat menjunjung tinggi kualitas kerja. Aku perlu melakukan inspeksi langsung untuk memastikan kau tidak melewatkan det**l sekecil apa pun."
Sela mendongak, matanya yang bulat melebar karena terkejut. Ada ketakutan di sana, tapi juga ada sesuatu yang lainβkilatan keinginan yang dia sendiri mungkin belum menyadarinya. "Maksud Bapak... sekarang? Di sini?"
"Kita sedang berada di jet pribadiku, Sela. Tidak ada yang akan ma**k ke kabin ini tanpa izinku," kataku sambil menyandarkan punggung, memberikan ruang baginya namun tetap mengintimidasinya dengan tatapanku. "Berdiri."
Dia berdiri dengan kaki yang tampak sedikit lemas. Aku memerhatikannya dengan teliti. "Buka kancing blusmu. Dua teratas saja."
Tangannya gemetar saat menyentuh kancing kecil berbahan mutiara itu. Satu kancing terbuka, menyingkap pangkal lehernya yang jenjang. Kancing kedua terbuka, memperlihatkan kulit putih mulusnya yang kini meremang karena dinginnya AC kabinβatau mungkin karena pandanganku.
Aku bangkit dari kursi, berdiri tepat di hadapannya. Aku jauh lebih tinggi darinya, membuat Sela harus mendongak sepenuhnya. Aku bisa merasakan panas tubuhnya. Tanganku bergerak perlahan, hampir tanpa menyentuh, mengikuti garis rahangnya lalu turun ke arah dadanya yang naik turun tak beraturan.
"Kau menggunakan minyak tubuh yang kuminta?" tanyaku, jariku kini menyentuh sedikit permukaan kulit di atas dadanya.
"I-iya, Pak," bisiknya, matanya mulai sayu.
"Kulitmu terasa sangat lembut," gumamku, lebih kepada diriku sendiri. Jariku terus turun, menyelusup ke balik kain blusnya yang terbuka, menyentuh area sensitif yang seharusnya tidak boleh disentuh oleh seorang atasan.
Logikaku berteriak bahwa ini salah. Ini melanggar semua kode etik yang kubangun selama sepuluh tahun memimpin perusahaan. Namun, saat melihat bagaimana Sela memejamkan mata dan mengeluarkan desahan kecil yang tertahan saat jariku bergerak lebih jauh, semua logika itu menguap. Dia sangat polos, sangat penurut, dan itu justru membuat sisi gelap dalam diriku ingin menghancurkannya sekaligus melindunginya.
Aku menarik pinggangnya mendekat, hingga tubuhnya menempel pada tubuhku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang liar beradu dengan detak jantungku yang sama tak terkendalinya.
"Sela, buka matamu," perintahku dengan nada memerintah yang tak terbantahkan.
Saat dia membuka matanya, aku melihat kehancuran total dari pertahanannya. Dia bukan lagi sekretaris yang efisien; dia adalah milikku.
"Ini baru permulaan dari inspeksinya," bisikku tepat di telinganya, membiarkan napas panas ku membelai kulitnya. "Dan aku baru saja menemukan sesuatu yang butuh perhatian lebih mendalam."
Tanganku turun ke arah ritsleting di belakang roknya, dan aku tahu, begitu aku menariknya turun, tidak akan ada jalan kembali bagi kami berdua. Perjalanan ke Maldives ini bukan lagi soal bisnis, melainkan tentang bagaimana aku akan mengklaim setiap inci dari dirinya yang telah ia persiapkan untukku.
Namun, tepat saat jariku menyentuh logam dingin ritsleting itu, interkom di dinding kabin berbunyi, memecah ketegangan yang nyaris meledak. Suara pilot terdengar tenang namun bagi kami, itu seperti petir di siang bolong.
"Pak Adrian, kita akan mema**ki zona turbulensi dalam lima menit. Mohon agar semua penumpang kembali ke kursi dan mengenakan sabuk pengaman."
Sela tersentak, seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang indah. Dia mundur dua langkah, tangannya dengan cepat merapatkan blusnya yang terbuka. Wajahnya merah padam, dan dia tampak kehabisan napas.
Aku mengepalkan tangan di sisi tubuhku, mencoba meredam gejolak frustrasi yang membakar. Aku menatapnya tajam, menandai ketakutan dan gairah yang masih tersisa di matanya.
"Duduklah, Sela," kataku dengan suara yang kembali dingin dan terkontrol, meski mataku masih menyala. "Pasang sabuk pengamanmu. Kita akan melanjutkan 'inspeksi' ini setelah guncangan ini berakhir. Dan percayalah, aku tidak akan membiarkanmu lolos semudah itu."
Sela mengangguk cepat, hampir tersandung saat kembali ke kursinya. Aku duduk kembali, meraih gelas wiskiku dan meneguknya hingga habis dalam satu tarikan. Guncangan pesawat mulai terasa, tapi guncangan di dalam dadaku jauh lebih hebat. Aku tahu, begitu turbulensi ini lewat, tidak akan ada lagi yang bisa menghentikan obsesi yang sudah lama kupendam ini.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!