Hujan asam mengguyur distrik bawah dengan ritme yang monoton, menciptakan simfoni statis di atas atap-atap seng yang berkarat. Di bawah pendar lampu neon berwarna fuchsia dan biru elektrik yang memantul di genangan air berminyak, Vanya berdiri mematung. Jemarinya yang dingin meremat ujung jaket sintetisnya yang mulai merembas. Di hadapannya, sebuah etalase kaca antipeluru menampilkan satu unit benda berbentuk melengkung ergonomis, berwarna perak metalik dengan aksen lampu indikator yang berdenyut lembut seperti detak jantung.
*Aero-Pulse Gen-5.*
Vanya menarik napas panjang, menghirup aroma ozon dan asap knalpot yang pekat. Hari ini dia genap berusia dua puluh satu tahun. Secara hukum, dia sudah dewasa. Secara sosial, dia hanyalah satu dari jutaan semut di megacity ini yang mencoba mencari alasan untuk tetap merasa hidup.
"Kau sudah menatapnya selama sepuluh menit, Nona. Mau ma**k atau hanya ingin membuat kacaku berembun?"
Suara serak itu berasal dari speaker kecil di atas pintu toko. Vanya tersentak, bahunya sedikit menciut. Dia melangkah ma**k melewati sensor pemindai yang berbunyi *tit* pendek, menyapu identitas digitalnya. Udara di dalam toko itu kering dan beraroma steril, kontras dengan kelembapan pengap di luar.
Seorang pria paruh baya dengan mata sibernetik yang terus berfokus-ulang menatapnya dari balik meja konter. "Ulang tahun, ya?" tanya pria itu, melihat data yang muncul di layar hologramnya. "Selamat. Aero-Pulse adalah cara terbaik untuk merayakannya. Stimulasi neurologis murni. Tanpa efek samping kimiawi, hanya getaran laser yang menyentuh titik-titik saraf paling dalam."
Vanya mendekat, matanya tidak bisa lepas dari kotak hitam elegan di atas meja. "Berapa?" suaranya hampir berbisik.
"Lima ribu koin kredit. Edisi terbatas dengan modul 'Deep Serenity'."
Vanya merasakan perutnya mual. Lima ribu koin. Itu adalah tabungannya selama tiga tahun bekerja paruh waktu sebagai pemilah data sampah di sub-level. Itu adalah uang sewa apartemennya untuk enam bulan ke depan. Itu adalah jaminan bahwa dia bisa makan protein asli, bukan pasta kedelai olahan, setiap hari Minggu.
"Aku... aku tidak yakin," gumam Vanya. Tangannya gemetar saat dia mengangkat pergelangan tangan kirinya, mengaktifkan antarmuka holografik yang menunjukkan saldo banknya. Angka-angka itu berkedip pucat, seolah ikut merasa cemas.
"Dengar, Vanyaβnamamu Vanya, kan?" Pria itu condong ke depan, mata sibernetiknya berputar dengan bunyi mekanis halus. "Dunia di luar sana berisik. Kotor. Orang-orang akan selalu menilaimu, menghakimimu karena kau tidak c**up cantik, tidak c**up kaya, tidak c**up *sempurna*. Tapi dengan alat ini? Di dalam kamarmu sendiri? Kau bisa menjadi dewi. Kau bisa merasakan kebahagiaan yang dipahat langsung ke otakmu. Kau berhak mendapatkannya sekali seumur hidup."
Kata-kata pria itu seperti jarum yang tepat sasaran. *Menghakimimu.* Vanya selalu merasa seperti kaca transparan yang penuh retakan; setiap kali dia berjalan di trotoar yang ramai, dia merasa ribuan pasang mata menelanjangi ketidakamanannya. Rendahnya harga diri adalah bayangan yang tidak pernah meninggalkannya, bahkan di kegelapan sekalipun.
"Hanya sekali ini saja," bisik Vanya pada dirinya sendiri.
Dia menempelkan pergelangan tangannya ke alat pemindai pembayaran. *Beep.* Suara itu terasa seperti vonis mati sekaligus kelahiran kembali. Saldo banknya merosot drastis hingga menyentuh angka yang sangat menyedihkan.
Pria itu tersenyum lebar, memperlihatkan satu gigi perak. Dia mema**kkan kotak itu ke dalam tas pelindung statis. "Pilihan cerdas. Pasang di area belakang leher, sinkronkan dengan aplikasi di perangkatmu, dan biarkan Aero-Pulse melakukan sisanya. Selamat menikmati privasimu, Nona."
Vanya menerima tas itu. Beratnya tidak seberapa, tapi rasanya seperti dia baru saja memikul bongkahan timah. Dia keluar dari toko tanpa menoleh lagi, kembali ke bawah guyuran hujan yang kini terasa lebih dingin.
Sepanjang perjalanan pulang dengan kereta gantung yang penuh sesak, Vanya memeluk tas itu di dadanya. Dia menundukkan kepala, menghindari kontak mata dengan penumpang lainβseorang pria dengan lengan mekanis yang kasar dan seorang wanita dengan implan wajah yang terlalu berkilau. Dia merasa mereka semua tahu apa yang ada di dalam tasnya. Dia merasa mereka semua sedang menertawakan kebodohannya menghabiskan harta terakhirnya demi kebahagiaan buatan.
Sesampainya di kompleks apartemen kapsulnya yang kumuh, Vanya bergegas menaiki tangga manual karena lift sedang matiβlagi. Bau sampah yang membusuk di lorong tidak lagi mengganggunya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal.
Dia membanting pintu unitnya yang sempit dan segera menguncinya dengan tiga kunci manual dan satu kunci elektronik. Ruangan itu hanya berisi sebuah tempat tidur lipat, sebuah meja kecil yang penuh dengan tumpukan kabel, dan sebuah kamar mandi prefabrikasi di sudut ruangan yang dindingnya mulai menguning.
Vanya duduk di pinggir tempat tidur, napasnya memburu. Dia membuka tas pelindung itu dengan tangan gemetar. Di sana, Aero-Pulse Gen-5 berkilau di bawah lampu temaram ruangannya. Alat itu tampak begitu suci, begitu murni di tengah kekacauan hidupnya.
Dia bangkit dan melangkah ke arah kamar mandi, menyalakan lampu neon redup di atas cermin yang retak. Dia menatap bayangannya sendiriβrambut yang lepek karena hujan, mata yang tampak lelah dengan lingkaran hitam di bawahnya, dan ekspresi seorang wanita yang haus akan pengakuan, meski hanya dari sebuah mesin.
"Selamat ulang tahun, Vanya," ucapnya getir pada bayangan di cermin.
Dia meletakkan alat itu di pinggir wastafel. Tangannya bergerak ke belakang leher, meraba kulit lembut di mana perangkat itu nantinya akan menempel. Vanya tidak menyadari bahwa di sudut atas plafon kamar mandinya, tepat di balik ventilasi udara yang berdebu, sebuah lensa mikroskopis baru saja berputar.
Sebuah titik merah kecil, hampir tak terlihat oleh mata manusia, berkedip sekali. Di sebuah ruang gelap di belahan kota yang lain, sebuah layar lebar menyala, menampilkan sudut pandang yang tepat menyorot ke arah kerentanan Vanya yang baru saja mulai melepas kancing jaketnya.
Vanya menarik napas lega, merasa aman dalam isolasi total di kamar mandinya, tanpa tahu bahwa pintu privasinya baru saja didob**k lebar-lebar ke seluruh dunia digital. Matanya terpejam saat dia bersiap untuk pengalaman pertamanya, sementara di luar sana, "The Watcher" mulai menghitung jumlah penonton yang ma**k ke dalam siaran langsungnya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!