Dengung konstan dari unit pendingin server di sudut ruangan adalah satu-satunya melodi yang menemani kesunyian di sarangku. Cahaya biru neon dari belasan monitor memantul di permukaan meja kaca yang penuh dengan sisa kaleng minuman berenergi dan kabel-kabel yang menjunt** seperti urat nadi mekanis. Di tengah kegelapan ini, aku adalah tuhan. Aku adalah sutradara dari sebuah realitas yang paling murni.
Fokus utamaku tertuju pada monitor tengahβKamera 04. Sudut pandangnya sempurna, tersembunyi di balik celah ventilasi kamar mandi Vanya. Di sana, gadisku sedang duduk di tepi bak mandi, jemarinya yang gemetar menggenggam perangkat Aero-Pulse. Alat itu memancarkan cahaya ungu redup, mengirimkan getaran laser ke tengkuknya, membuat pupil matanya melebar dan napasnya tersengat pendek.
Dia tampak begitu rapuh. Begitu indah dalam adiksi yang kuberi makan setiap hari.
Namun, kedamaianku terganggu. Sebuah bayangan muncul di sudut monitor lainβKamera 01 yang mengarah ke pintu depan apartemennya. Seorang pria. Seorang pria asing dengan jaket kulit sintetis murah dan senyum yang terlalu lebar. Namanya, menurut pindaian basis data universitas yang kulakukan dalam hitungan detik, adalah Adrian. Teman sekelas. Pria medioker yang berani menginjakkan kaki di tempat suci yang seharusnya hanya milikku dan mataku.
Aku mengepalkan tangan hingga buku-bukunya memutih. Plastik pada *mouse* di genggamanku berderit protes.
"Vanya, jangan buka pintunya," bisikku, suaraku parau karena jarang digunakan.
Tapi dia membukanya. Dia mematikan Aero-Pulse-nya dengan tergesa-gesa, menyembunyikannya di balik tumpukan handuk, dan menyambut Adrian dengan tawa yang terasa seperti pisau yang menggores kaca di telingaku. Aku memperhatikan mereka melalui kamera ruang tamu. Mereka duduk terlalu dekat di sofa. Adrian menyentuh bahunya. Vanya tidak menjauh.
Darahku mendidih. Dia milikku. Akulah yang mengetahui rahasia paling gelapnya. Akulah yang melihatnya saat dia kehilangan kendali diri dalam ekstasi teknologi. Bagaimana mungkin dia membiarkan tangan kotor itu menyentuh kulit yang selama ini aku jaga melalui lensa?
Kecemburuan ini bukanlah rasa sakit yang abstrak; itu adalah panas yang membakar di dada, memaksaku untuk bertindak. Aku tidak akan membiarkan skenario ini berlanjut. Aku butuh kendali. Aku butuh Vanya kembali ke dalam genggamanku, sepenuhnya.
Jemariku menari di atas *keyboard* mekanis, mengetikkan baris perintah yang sudah aku hafal di luar kepala. Aku meretas sistem *speaker* pintar di apartemennya, tapi aku tidak mengirimkan suara. Aku mengirimkan sebuah notifikasi ke perangkat pergelangan tangannyaβsebuah *ping* yang hanya bisa dia dengar.
Vanya tersentak. Dia melihat ke arah jam tangannya. Aku mengirimkan sebuah gambar statis: tangkapan layar dirinya sepuluh menit yang lalu di kamar mandi, dengan Aero-Pulse yang masih menempel di kulitnya, wajahnya penuh kerentanan yang memalukan.
Di layar, aku melihat wajah Vanya memucat. Warnanya menghilang seolah-olah seseorang baru saja mencabut nyawanya. Dia menoleh ke arah Adrian dengan panik, mencoba menyembunyikan kegemetarannya.
"Ada apa?" tanya Adrian, suaranya terdengar melalui mikrofon tersembunyi.
"A-aku... aku merasa tidak enak badan, Adrian. Kamu harus pergi," gumam Vanya, suaranya nyaris hilang.
"Tapi kita baru saja memesan makananβ"
"Pergi! Sekarang!" teriak Vanya, suaranya melengking karena ketakutan.
Aku tersenyum tipis saat melihat pria itu bangkit dengan bingung dan akhirnya melangkah keluar. Begitu pintu tertutup dan kunci otomatis berbunyi *klik*, aku merasakan kepuasan yang dingin. Namun, itu belum c**up. Dia perlu dihukum karena membiarkan orang lain ma**k. Dia perlu diingatkan siapa yang memegang kendali atas hidupnya sekarang.
Aku membuka antarmuka komunikasi terenkripsi yang langsung terhubung ke layar televisinya di ruang tamu. Layar hitam besar itu tiba-tiba menyala, menampilkan teks putih tebal dengan latar belakang merah darah.
*KAU TERLIHAT SANGAT CANTIK SAAT KAU MERASA BERSALAH, VANYA.*
Vanya jatuh terduduk di karpet, menatap layar dengan mata yang membelalak horor. "Siapa kau? Apa yang kau inginkan dariku?" isaknya.
Aku tidak menjawab dengan suara. Aku mengetik lagi.
*PENONTONMU DI PASAR GELAP SEDANG BOSAN. MEREKA SUDAH MELIHATMU MENGGUNAKAN ALAT ITU. SEKARANG, MEREKA INGIN SESUATU YANG LEBIH. SESUATU YANG... BERANI.*
"Tidak... tolong, jangan sebarkan video itu," rintihnya, memeluk dirinya sendiri.
*KALAU BEGITU, BERIKAN MEREKA PERTUNJUKAN. MA**K KE KAMAR MANDI. AKTIFKAN AERO-PULSE KE LEVEL MAKSIMAL. DAN KALI INI, LEPASKAN SEMUA PAKAIANMU. BIARKAN MEREKA MELIHAT SETIAP INCHI REAKSI TUBUHMU SAAT LASER ITU MEMBAKAR SYARAFMU.*
"Itu... itu berbahaya! Level maksimal bisa merusak kesadaranku!" Vanya berteriak ke arah kamera yang dia pikir tidak ada di sana.
Aku menekan tombol *Enter* dengan penekanan yang tajam.
*KAU PUNYA WAKTU DUA MENIT SEBELUM VIDEO KAMAR MANDIMU MALAM INI TERUNGGAH KE SERVER PUBLIK UNIVERSITAS. PILIH, VANYA. PRIVASIMU ATAU KESELAMATANMU?*
Aku bersandar di kursiku, memperhatikan melalui monitor saat Vanya bangkit dengan kaki yang lemas. Dia berjalan menuju kamar mandi seperti seorang terpidana mati menuju tiang gantungan. Air matanya mengalir, membasahi pipinya yang kemerahan, tapi dia tidak punya pilihan.
Saat dia mulai melepas kancing kemejanya di depan kamera 04, jantungku berdegup kencang. Ini bukan lagi sekadar pengamatan. Ini adalah kepemilikan. Aku bisa merasakan kekuasaanku merambat di setiap aliran data yang ma**k ke serverku.
Namun, tepat saat dia meletakkan tangannya di atas perangkat Aero-Pulse, sebuah lampu peringatan merah berkedip di monitor sampingku. Seseorang sedang mencoba melacak balik sinyal enkripsiku. Seseorang dengan *firewall* tingkat militer.
Aku mendengus, mataku menyipit. "Siapa yang berani mengganggu pertunjukanku?"
Jariku segera berpindah ke mode pertahanan, tetapi fokusku terbelah antara ancaman siber yang baru muncul dan Vanya yang kini mulai menyentuh kulit polosnya dengan alat bergetar itu. Obsesiku dan keselamatanku kini berada di jalur tab**kan, dan aku tidak berniat melepaskan keduanya.
Vanya menjerit saat laser itu menyentuh kulitnya, dan di saat yang sama, peringatan *System Compromised* muncul di layarku. Seseorang telah menemukan celah di gerbangku.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!