Udara di dalam kamar mandi ini terasa seberat timah, meskipun sistem ventilasi apartemen murah ini menderu keras berusaha membuang uap air yang tersisa. Aku menatap pantulanku di cermin yang permukaannya mulai mengelupas di sudut-sudutnya. Cahaya neon dari papan reklame "Synthe-Life" di luar jendela menembus tirai tipis, menyiram kulitku dengan warna ungu lebam yang tidak sehat.
Tanganku gemetar saat meraih unit *Aero-Pulse* yang tergeletak di pinggiran wastafel. Alat itu ramping, berwarna perak kromium yang dingin, tampak seperti perhiasan futuristik daripada sebuah instrumen adiksi. Di sudut penglihatanku, sebuah jendela notifikasi transparan muncul di antarmuka sarafku—sebuah pesan terenkripsi yang dikirim melalui jalur privat yang tidak seharusnya ada.
*“Kau tampak ragu, Vanya. Jangan buat penontonmu menunggu. Kau tahu apa yang mereka sukai.”*
Kata-kata itu membuat perutku mual. *The Watcher*. Aku tidak tahu di mana kamera itu disembunyikan—mungkin di balik cermin, di dalam lubang ventilasi, atau tertanam di dalam perangkat *Aero-Pulse* itu sendiri. Dia melihat segalanya. Setiap inci kulitku, setiap embusan napas panikku, kini menjadi komoditas di pasar gelap digital.
Aku memejamkan mata sejenak, memaksakan paru-paruku untuk mengambil napas dalam-dalam. *Tenang, Vanya. Pikirkan kodenya. Pikirkan arsitektur jaringannya.*
Aku tidak boleh mematikan koneksi secara kasar, atau dia akan menyebarkan rekaman malam itu ke seluruh server publik universitas sebelum aku sempat berkedip. Satu-satunya jalan keluar adalah menemukan titik asalnya. Aku butuh waktu. Dan untuk mendapatkan waktu, aku harus memberikan apa yang dia inginkan.
Aku menyentuh tombol aktivasi pada *Aero-Pulse*. Alat itu mulai berdenyut pelan, mengirimkan getaran ultrasonik yang merambat ke ujung jariku. Sambil melakukan itu, tangan kiriku yang tersembunyi di bawah wastafel, di luar jangkauan sudut pandang yang aku perkirakan sebagai area fokus kamera, meraba tablet kecil yang terhubung ke *port* diagnostik apartemen.
"Aku... aku hanya sedikit lelah," bisikku, suaranya parau dan gemetar—sebagian akting, sebagian lagi ketakutan murni. Aku menatap ke arah cermin, mencoba memberikan tatapan kosong dan rapuh yang biasa dicari oleh para predator ini.
Aku menempelkan ujung laser *Aero-Pulse* ke pangkal leherku. Seketika, stimulasi neurologis itu menghantamku. Gelombang kesenangan artifisial menyengat saraf-sarafku, memaksa otakku melepaskan dopamin dalam jumlah yang tidak wajar. Kepalaku terkulai ke belakang, mataku memutar. Rasanya seperti tenggelam dalam sirup panas yang manis namun mematikan.
Di balik kabut euforia paksaan itu, otak logisku berteriak. Jari tangan kiriku bergerak lincah di atas layar tablet yang tersembunyi. Aku menggunakan protokol *backdoor* yang kupelajari di kelas keamanan siber semester lalu. Aku tidak mencoba memutus aliran datanya; aku mencoba menungganginya. Setiap perintah yang dikirimkan *The Watcher* ke perangkatku memiliki jejak balik—sebuah alamat IP yang disamarkan melalui berlapis-lapis *proxy*.
*“Bagus,”* sebuah pesan baru muncul, melayang di udara di depanku. *“Lebih dekat lagi ke cermin. Biarkan mereka melihat denyut nadimu.”*
Rasa jijik merayap di tenggorokanku, lebih pahit daripada logam. Aku melangkah maju, membiarkan dadaku menyentuh pinggiran wastafel yang dingin. Aku menaikkan intensitas *Aero-Pulse* ke level tiga. Tubuhku tersentak. Keringat dingin mulai membasahi pelipisku. Aku harus berakting seolah-olah aku menikmati penghancuran diriku sendiri, sementara di bawah sana, layar tabletku menampilkan barisan kode hijau yang bergulir cepat.
*Ping.*
Satu *node* berhasil dilewati. Aku berhasil menembus lapisan enkripsi pertama. Alamat IP asalnya mulai terlihat, berpindah-pindah dari server di Neo-Tokyo ke satelit pribadi di orbit rendah.
*Ayo, sedikit lagi,* batinku. Jantungku berdegup kencang, sinkron dengan denyut alat di tanganku. Aku merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis di atas jurang yang dalam. Jika aku terlalu fokus pada peretasan, ekspresiku akan menjadi terlalu datar dan dia akan curiga. Jika aku terlalu larut dalam stimulasi *Aero-Pulse*, aku akan kehilangan kesadaran dan menjadi boneka seutuhnya.
"Apakah ini... yang kau inginkan?" tanyaku dengan nada desahan yang dipaksakan. Aku benci betapa lemah suaraku terdengar. Aku benci betapa aku harus merendahkan harga diriku demi satu kesempatan untuk membalas.
Layar tablet di bawah wastafel menunjukkan kemajuan 85%. Pelacakan itu hampir mencapai *gateway* terakhir. Tanganku yang memegang tablet mulai kaku karena posisi yang tidak nyaman, tetapi aku tidak berani bergerak.
Tiba-tiba, getaran pada *Aero-Pulse* berhenti seketika.
Hening.
Duniaku yang tadinya dipenuhi stimulasi mendadak menjadi kosong dan sunyi. Aku tersentak, napas tersengal-sengal karena efek penarikan sensorik yang tiba-tiba. Aku menatap cermin dengan bingung, lupa sejenak pada peranku.
Sebuah pesan muncul, kali ini dengan huruf berwarna merah darah yang memenuhi seluruh bidang pandangku.
*“Kau pikir kau c**up pintar untuk melacakku, Vanya?”*
Darahku serasa membeku. Tanganku yang memegang tablet gemetar hebat. Di layar tablet, proses pelacakan yang tadinya hampir selesai tiba-tiba berubah menjadi karakter-karakter sampah yang tidak terbaca.
*“Kau merusak suasana,”* pesan itu berlanjut. *“Dan untuk itu, harus ada konsekuensinya. Lihat ke luar jendela.”*
Dengan jantung yang serasa ingin melompat keluar dari tulang rusuk, aku berjalan perlahan menuju jendela kamar mandi. Aku menyingkap tirai tipis itu sedikit saja. Di seberang jalan, di atas gedung apartemen yang setengah runtuh, sebuah drone pengint** kecil dengan lampu sensor merah yang berkedip sedang melayang statis.
Moncong drone itu tidak diarahkan ke arahku. Ia diarahkan ke bawah, ke arah kerumunan orang yang sedang lalu lalang di trotoar bawah yang diterangi lampu neon. Dan di layar LED raksasa yang biasanya menampilkan iklan kosmetik di samping gedung itu, wajahku tiba-tiba muncul. Bukan wajahku yang sekarang, melainkan rekaman dari sepuluh menit yang lalu—saat aku dalam kondisi paling rentan, paling hancur, dan paling intim di dalam kamar mandi ini.
Orang-orang di bawah mulai berhenti. Mereka menengadah. Mereka menunjuk.
"Tidak..." bisikku, kakiku lemas hingga aku terduduk di lant** yang dingin. "Tolong, jangan."
Lalu, sebuah notifikasi baru ma**k ke dalam penglihatanku, sebuah hitungan mundur yang hanya terdiri dari sepuluh detik.
*“Sepuluh detik sebelum aku mengirimkan versi durasi penuh ke seluruh kontak di daftar ponselmu. Kecuali, kau melakukan apa yang akan aku perintahkan selanjutnya tanpa bertanya lagi.”*
Angka itu mulai berubah. *9... 8... 7...*
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!