Keringat dingin membasahi tengkuk Vanya, membuat helai rambut pendeknya menempel tidak nyaman di kulit. Di lorong remang-remang lant** rubanah Apartemen Zenith, udara terasa berat oleh bau ozon dan logam berkarat. Setiap langkah kakinya yang terbungkus sepatu bot karet bergema pelan, namun di telinga Vanya, suara itu terdengar seperti dentuman genderang perang yang mengumumkan keberadaannya pada seluruh gedung—dan pada *dia*.
Vanya merapatkan jaket hitamnya, jemarinya yang gemetar meraba saku tempat dia menyembunyikan dek peretas rakitan. Dia tahu The Watcher sedang memperhatikannya. Di sudut langit-langit, lensa kamera pengawas berputar halus, mengikuti gerakannya dengan presisi predator. Lampu indikator merah kecil di kamera itu berkedip, seolah-olah sedang mengedipkan mata dengan nada mengejek.
*Tarik napas, Vanya. Fokus,* bisiknya dalam hati.
Pikirannya masih sedikit berkabut, sisa-sisa euforia dari penggunaan Aero-Pulse sejam yang lalu masih meninggalkan denyut aneh di belakang matanya. Stimulasi neurologis itu seharusnya memberinya ketenangan estetika, tapi sekarang, yang tersisa hanyalah paranoia yang tajam. Dia bisa membayangkan ribuan pasang mata di luar sana, di ceruk-ceruk gelap internet, sedang menontonnya melalui layar mereka. Menonton Vanya yang malang, Vanya yang te******* secara emosional, sedang mencoba melawan.
Dia sampai di depan pintu baja berat dengan tulisan "MAINTENANCE - SERVER ROOM 04". Vanya mengeluarkan dek peretasnya, menghubungkan kabel optik pendek ke panel akses digital pintu tersebut. Layar di tangannya menyala, menampilkan baris-baris kode yang berkejaran.
"Ayo, ayo... sedikit lagi," gumamnya. Giginya menggigit bibir bawah sampai rasa perih logam darah mulai terasa.
Tiba-tiba, speaker interkom di atas pintu berderak. Sebuah suara yang telah dimodulasi secara digital—berat, dingin, dan tanpa emosi—mengisi kekosongan lorong.
"Kau terlihat sangat cantik saat sedang panik, Vanya. Rating siaranmu baru saja melonjak sepuluh persen karena aksi 'pelarian' ini."
Vanya tersentak, hampir menjatuhkan deknya. "Berhenti mengikutiku! Matikan siarannya, kau ba******!" teriaknya ke arah kamera terdekat. Suaranya pecah di ujung, mengkhianati ketakutan yang berusaha dia sembunyikan.
"Kenapa aku harus menghentikan karya seni?" suara itu tertawa pelan, sebuah suara elektronik yang kering. "Dunia ingin melihatmu. Mereka ingin melihat setiap inci kerentananmu. Ma**klah, jika kau pikir itu akan mengubah sesuatu."
*Klik.*
Kunci magnetik pintu terbuka. Vanya tidak membuang waktu. Dia mendorong pintu berat itu dan ma**k ke dalam hutan kabel dan server yang menderu. Ruangan itu jauh lebih dingin, suhunya dijaga rendah untuk mendinginkan tumpukan prosesor yang bekerja nonstop. Lampu-lampu LED biru dan hijau berkedip di sepanjang rak server yang menjulang, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding.
Vanya berlari ke arah pusat kendali utama—Main Distribution Frame (MDF). Jika dia bisa memutuskan *uplink* satelit gedung dari sini, siaran langsung itu akan terputus secara fisik, melewati segala protokol keamanan perangkat lunak yang mungkin telah dikuasai The Watcher.
Tangannya bergerak lincah di atas papan ketik fisik yang berdebu. Layar monitor besar di depannya menampilkan grafik aliran data. Di sana, di pojok kanan bawah, sebuah jendela kecil menampilkan *feed* video yang membuatnya mual: itu adalah sudut pandang dari dalam kamar mandinya sendiri. Dia melihat dirinya sendiri yang sedang memegang botol Aero-Pulse dalam rekaman tunda.
"Ketemu," bisik Vanya. Jarinya melayang di atas tombol *override*.
Namun, sebelum dia sempat menekan tombol itu, seluruh ruangan tiba-tiba bermandikan cahaya merah darah. Suara alarm melengking tinggi, m****akkan telinga.
"Protokol Karantina Diaktifkan," suara sistem gedung bergema datar.
Vanya menoleh ke arah pintu ma**k. Pintu baja yang tadi dia lewati menutup dengan bantingan keras yang menggetarkan lant**. Suara penguncian mekanis terdengar bertubi-tubi—*clack, clack, clack*.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu merusak klimaksnya?" suara The Watcher kembali terdengar, kali ini melalui speaker internal di ruang server. "Kau adalah milik publik sekarang, Vanya. Dan publik tidak suka gangguan teknis."
Vanya berlari ke pintu, menarik tuas darurat, tapi benda itu tidak bergerak. Dia menggedor baja dingin itu dengan tinjunya. "Buka! Buka pintunya!"
Di layar monitor, barisan kode baru muncul. *Lockdown Level 5*. Semua akses keluar-ma**k apartemen Zenith telah diputus secara total. Vanya terjebak di dalam jantung mesin yang sedang mengulitinya hidup-hidup di depan mata dunia.
Dia berbalik, menyandar pada pintu yang tertutup rapat, napasnya tersengal. Di layar monitor utama, jendela video itu tiba-tiba berubah. Bukan lagi rekaman dari kamar mandinya, melainkan sudut pandang kamera pengawas di ruangan tempat dia berada sekarang.
Vanya melihat dirinya sendiri di layar: seorang gadis kecil yang ketakutan di tengah hutan mesin. Dan di bawah video itu, sebuah baris komentar mengalir dengan kecepatan yang mengerikan, ribuan orang mengetik, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Tiba-tiba, suhu di ruangan itu mulai meningkat. Kipas-kipas pendingin di rak server berhenti berputar satu per satu. Suara deru yang tadinya menenangkan kini berubah menjadi hening yang mencekam, hanya menyisakan suara detak jantung Vanya yang liar.
"Suhu server meningkat, Vanya," bisik The Watcher. "Jika kau tidak segera mematikan sistemnya secara manual, ruangan ini akan menjadi oven dalam sepuluh menit. Tapi ingat, jika kau mematikannya, kau akan memutus oksigen untuk lant** ini juga. Pilihan yang menarik untuk sebuah tontonan, bukan?"
Vanya menatap panel kendali yang kini terkunci oleh enkripsi baru yang rumit. Dia merasa seperti tikus yang ma**k ke dalam perangkap yang dia buat sendiri. Di sudut matanya, dia melihat asap tipis mulai keluar dari salah satu rak prosesor di ujung ruangan.
The Watcher tidak hanya ingin menyiarkannya. Dia ingin membakarnya di panggung utama.
Vanya meraba dek peretasnya kembali, otaknya berputar mencari celah yang tersisa, namun sebuah pesan teks muncul di layar deknya, berasal dari nomor yang tidak dikenal:
*Jangan lihat ke arah kamera. Aku tahu cara mengeluarkanmu, tapi kau harus menghancurkan server nomor 09 sekarang juga.*
Vanya mendongak, matanya mencari-cari di mana server nomor 09 berada, sementara keringat mulai menetes dari ujung hidungnya karena suhu ruangan yang kian memanas. Siapakah pengirim pesan itu? Sekutu baru, atau sekadar bagian lain dari permainan kejam The Watcher?
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!