Udara di dalam ruang kendali ini terasa tebal, berbau ozon dan plastik terbakar yang samar. Cahaya biru elektrik dari puluhan monitor memantul di dinding logam yang dingin, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari setiap kali aku melangkah. Di setiap layar itu, aku melihat diriku sendiri. Diriku yang sedang mandi, diriku yang sedang menangis di sudut tempat tidur, diriku yang sedang mematut diri di depan cermin dengan obsesi g*** pada setiap pori kulit.
Ribuan Vanya menatapku balik dengan tatapan kosong, terfragmentasi dalam berbagai sudut kamera tersembunyi yang tidak pernah kuketahui keberadaannya.
"Indah, bukan? Seni yang paling murni adalah kejujuran yang tidak disadari," suara itu muncul dari balik kegelapan di sudut ruangan.
Aku tersentak, tanganku gemetar hebat di dalam saku jaket, meremas gagang perangkat Aero-Pulse milikku. "Keluar, ba******. Tunjukkan wajahmu!"
Seorang pria berkerudung gelap berputar di atas kursi ergonomisnya. Dia tidak tampak seperti monster. Wajahnya kurus, pucat karena terlalu banyak terpapar cahaya artifisial, dengan kacamata yang memantulkan barisan kode hijau yang mengalir deras. Dialah The Watcher. Dia tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang tidak mencapai matanya yang dingin.
"Kamu datang lebih cepat dari yang kuprediksi, Vanya. Efek stimulasi Aero-Pulse itu memang meningkatkan fungsi kognitif, tapi juga membuatmu impulsif. Lihat dirimu—begitu berantakan, begitu nyata."
"Kau menjual hidupku!" teriakku, suaraku pecah karena amarah dan rasa malu yang meluap-luap. "Kau membiarkan orang-orang asing melihat... melihat segalanya!"
The Watcher berdiri, langkah kakinya tidak terdengar di atas lant** berlapis karet. "Aku memberimu keabadian digital. Mereka tidak hanya melihatmu; mereka memujamu. Bit demi bit, kau menjadi dewi di pasar gelap. Kau seharusnya berterima kasih padaku karena telah menangkap esensimu yang paling rapuh."
Dia melangkah mendekat, dan rasa mual menyerang perutku. Bau keringat apek dan kopi basi menguar darinya. Ketika dia mengulurkan tangan seolah ingin menyentuh pipiku, instingku mengambil alih. Aku mundur selangkah, menarik perangkat Aero-Pulse dari saku.
"Jangan mendekat," ancamku, jempolku menekan tombol aktivasi. Perangkat itu berdengung rendah, getaran ultrasoniknya merambat ke lenganku.
The Watcher tertawa meremehkan, tawa yang kering seperti kertas tua. "Apa yang akan kau lakukan dengan mainan kosmetik itu? Memberiku perawatan wajah gratis? Alat itu dirancang untuk stimulasi saraf sensorik yang lembut, Vanya. Bukan sebagai senjata."
Dia benar, tapi dia tidak tahu satu hal. Aku telah mengutak-atik limiter-nya semalam.
"Mungkin untuk orang awam, ini hanya alat kecantikan," kataku dengan napas memburu, jempolku menggeser tuas kecil di samping alat tersebut yang sudah kubypass sistem keamanannya. "Tapi aku tahu cara kerja frekuensi laser getar ini. Jika aku memaksanya bekerja pada sinkronisasi saraf yang salah..."
"Kau tidak akan berani," potongnya, wajahnya tiba-tiba mengeras. Dia menerjang maju dengan kecepatan yang tidak kuduga, tangannya yang kurus namun kuat mencengkeram pergelangan tanganku, mencoba memutar alat itu agar terlepas.
Kami bergulat di tengah hutan kabel dan server yang mendengung. Tubuhku yang lebih kecil terdesak ke meja kontrol, punggungku menghantam tepian besi yang tajam. Rasa sakit menjalar di tulang belakangku, tapi amarahku lebih besar. Aku bisa melihat pantulan diriku di monitor di belakangnya—Vanya yang ketakutan, Vanya yang selama ini dia tonton sebagai hiburan.
*C**up.* Aku tidak akan menjadi tontonannya lagi.
Dengan sisa tenagaku, aku menyentakkan lututku ke perutnya. Dia terbatuk, pegangannya melonggar sedetik. Itu sudah c**up. Aku mengarahkan ujung Aero-Pulse langsung ke pelipisnya, tepat di mana *interface* saraf biasanya terpasang.
"Nikmati stimulasi ini," bisikku.
Aku menekan tombol *overdrive*.
Cahaya ungu yang menyilaukan meledak dari ujung alat itu. Bukannya getaran lembut yang menenangkan, Aero-Pulse itu melepaskan gelombang laser frekuensi tinggi yang tidak stabil. Suara dengungan yang tadinya rendah berubah menjadi jeritan elektronik yang m****akkan telinga.
The Watcher membelalak. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar. Seluruh tubuhnya mulai bergetar hebat seiring dengan stimulasi neurologis yang dipaksakan ma**k ke sistem saraf pusatnya. Itu bukan rasa sakit fisik biasa; itu adalah kelebihan beban sensorik. Otaknya dipaksa merasakan jutaan sensasi taktil dalam satu detik—panas membara, dingin yang menusuk, dan tekanan yang menghancurkan—semuanya bercampur aduk.
Dia terjerembap ke belakang, menghantam dinding monitor yang langsung pecah dan memercikkan bunga api. Tubuhnya kejang di lant**, matanya berputar ke belakang, sementara perangkat Aero-Pulse di tanganku mulai berasap, panasnya membakar telapak tanganku.
Aku menjatuhkan alat itu ke lant**, terengah-engah, menyaksikan pria yang telah menghancurkan privasiku itu kini meringkuk seperti janin, tak berdaya akibat senjatanya sendiri—hasrat akan stimulasi sensorik.
Namun, kegembiraanku tidak bertahan lama. Di dinding monitor yang masih menyala, angka-angka merah mulai berkedip cepat. Sebuah tulisan besar muncul di tengah-tengah rekaman wajahku yang sedang menangis: *UPLOADING TO MAIN CLOUD: GLOBAL BROADCAST IN 60 SECONDS.*
Jantungku seolah berhenti berdetak. Ternyata, konfrontasi ini hanyalah bagian dari pertunjukan yang lebih besar.
"Tidak... tidak, tidak!" aku merangkak menuju meja kontrol, jemariku gemetar di atas papan ketik yang penuh dengan kode asing. "Hentikan! Matikan!"
The Watcher, dalam kondisi setengah sadar dan sisa-sisa kejangnya, mengeluarkan suara parau yang terdengar seperti tawa mencekik. "Sudah terlambat... Vanya. Pintunya... pintunya sudah terbuka untuk seluruh dunia."
Aku menatap layar, melihat bar kemajuan unggahan yang merayap menuju angka 100 persen. Tanganku mencari-cari kabel utama di bawah meja, mencoba mencabut paksa apa pun yang bisa menghentikan keg***an ini sebelum seluruh duniaku benar-benar menjadi milik publik selamanya. Namun, sebuah peringatan baru muncul di layar, membuat darahku membeku.
*Encryption Key Required: Biological Signature Verified.*
Satu-satunya cara untuk mematikan siaran itu bukan melalui kabel, melainkan melalui akses saraf langsung yang hanya bisa diberikan oleh The Watcher—atau orang yang bisa meretas ma**k ke otaknya sekarang juga. Terlambat sedikit saja, dan privasiku akan menjadi sejarah yang tidak bisa dihapus.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!