Dengung statis dari server-server raksasa di sekelilingku terasa seperti ribuan lebah yang bersarang di dalam tengkorakku. Bau ozon dan logam panas menyengat hidung, memicu mual yang sejak tadi kutahan di pangkal tenggorokan. Di hadapanku, layar holografik setinggi dua meter memancarkan cahaya neon biru yang menyakitkan mata, menampilkan ribuan jendela kecil yang berisi satu hal: diriku sendiri.
Aku melihat diriku di sana, dalam berbagai sudut kamera tersembunyi yang pernah dipasang *The Watcher* di apartemenku. Versi diriku yang sedang menangis, yang sedang tertawa sendiri karena pengaruh Aero-Pulse, dan yang paling menyakitkanβdiriku yang sedang te******* dan rapuh di balik uap kamar mandi, tidak menyadari bahwa jutaan mata sedang menonton setiap jengkal kulitku dengan gairah yang menjijikkan.
"Kau tidak akan melakukannya, Vanya," suara itu muncul dari pengeras suara di sudut ruangan. Suara yang dimodulasi secara digital, dingin, dan penuh percaya diri. "Kau terlalu takut pada penghakiman mereka. Jika kau menekan tombol itu, kau bukan hanya menghancurkanku, kau mengabadikan aibmu sendiri di dalam *blockchain* selamanya."
Tanganku gemetar di atas papan tik virtual. Keringat dingin mengalir di punggungku, membuat kaos tipis yang kukenakan terasa lengket dan tidak nyaman. Ba****** itu benar. Selama ini, ketakutan terbesarku adalah tatapan orang lain. Aku takut mereka melihat betapa hancurnya aku, betapa kecanduannya aku pada getaran Aero-Pulse yang melumpuhkan akal sehat.
"Kau merasa memiliki kendali, bukan?" lanjut *The Watcher*. Kali ini, sebuah wajah muncul di layar utamaβmasker digital berbentuk wajah malaikat yang tersenyum statis. "Padahal kau hanyalah konten. Kau adalah produk paling laris di pasar gelap tahun ini. Jangan hancurkan kariermu sendiri."
Aku memejamkan mata sejenak, menghirup napas dalam-dalam yang berbau kabel terbakar. Rasa perih di lenganku, bekas suntikan stimulasi saraf yang berlebihan, berdenyut seirama dengan detak jantungku. Aku ingat rasa malu yang menyumbat dadaku setiap kali aku keluar rumah, merasa seolah semua orang di jalanan telah melihatku di balik layar mereka.
"Aku bukan produkmu," bisikku, suaraku parau namun tajam.
Jariku bergerak dengan kecepatan yang tidak pernah kusangka aku miliki. Aku memanggil protokol enkripsi yang telah kupelajari secara rahasia selama berminggu-minggu. Baris demi baris kode hijau mulai mengalir, menimpa protokol keamanan *The Watcher*.
"Apa yang kau lakukan?" Suara digital itu mulai retak, kehilangan ketenangannya. "Berhenti! Kau akan memicu penghapusan massal!"
"Tidak," kataku sambil menyeringai pahit, air mata mulai menggenang namun tidak jatuh. "Aku melakukan pengungkapan massal."
Dengan satu sentakan tangan, aku menarik data pribadi yang kusembunyikan di dalam *cache* tersembunyi servernya. Foto-foto asli tanpa sensor, rekening bank, lokasi GPS real-time, dan wajah asli pria di balik topeng malaikat itu. Dia bukan dewa digital; dia hanyalah seorang pria paruh baya kurus dengan kacamata tebal yang duduk di sebuah apartemen kumuh di Sektor 4.
"Ini dia penonton setiamu!" teriakku pada kekosongan ruangan. "Lihatlah siapa yang selama ini kalian bayar untuk mengintip hidupku!"
Aku menekan perintah 'Broadcast to All Channels'.
Seketika, ribuan layar di hadapanku berubah. Gambar diriku menghilang, digantikan oleh profil lengkap *The Watcher*. Semua data dirinya, semua kejahatannya, disiarkan langsung ke setiap pengguna yang sedang menonton siarannya. Aku bisa membayangkan kepanikan yang terjadi di luar sana, di sudut-sudut gelap internet di mana para predator bersembunyi.
"Kau g***!" teriaknya, sekarang suaranya asli, melengking ketakutan. "Kau menghancurkan segalanya! Kau juga akan ikut hancur!"
"Mungkin," jawabku tenang. Aku kini mema**kkan perintah terakhir: *Thermal Overload*.
Sistem pendingin ruangan mendadak mati. Kipas-kipas besar berhenti berputar. Suhu di dalam ruangan mulai naik dengan cepat. Aku bisa mendengar suara retakan dari sirkuit yang mulai meleleh. Aku harus segera keluar, tapi kakiku terasa berat.
Aku menatap layar sekali lagi. Di sana, di salah satu jendela kecil yang belum mati, aku melihat rekaman diriku sendiri dari malam pertama aku mencoba Aero-Pulse. Wajahku terlihat begitu polos, begitu penuh rasa ingin tahu, sebelum kecanduan dan pengkhianatan ini merenggut segalanya.
Aku menyadari satu hal yang pahit. Meskipun aku telah membalikkan keadaan, meskipun identitas *The Watcher* kini tersebar luas, jejak digital milikku tidak akan pernah benar-benar hilang. Video-video itu mungkin telah diunduh oleh ribuan orang. Wajahku, tubuhku, kerentanankuβsemuanya telah menjadi milik publik. Aku tidak akan pernah bisa kembali menjadi Vanya yang dulu, mahasiswa biasa yang tidak dikenal siapa pun.
Aku adalah korban yang membalas dendam, tapi aku tetaplah korban yang terpampang nyata. Luka ini tidak akan sembuh hanya dengan menghancurkan server. Ini adalah tato digital yang akan melekat padaku selama sisa hidupku di dunia yang tak pernah lupa ini.
Ledakan kecil terjadi di ujung ruangan, memercikkan api ke tumpukan kabel. Aku berbalik dan berlari menuju pintu keluar darurat, meninggalkan kekacauan yang kubuat. Udara panas mengejarku, seolah-olah api itu ingin melahap semua bukti memalukan tentang diriku.
Saat aku berhasil mendorong pintu besi dan keluar ke gang sempit yang gelap, udara malam yang dingin menusuk kulitku. Aku tersungkur di atas aspal yang basah oleh sisa hujan, terengah-engah. Di kejauhan, aku bisa melihat menara-menara kota yang masih berpendar dengan iklan Aero-Pulse yang berkilauan.
Aku meraih ponsel di saku celanaku, tanganku masih bergetar hebat. Aku membuka aplikasi berita lokal. Headline utama sudah muncul: *'The Watcher Terungkap: Skandal Streaming Terbesar Sektor 4 Terbongkar'*. Di bawahnya, ada cuplikan video... dan di sana, dalam resolusi tinggi, wajahku terpampang sebagai 'Bintang Utama' yang menghancurkan sistem tersebut.
Ponselku mulai bergetar. Notifikasi ma**k dengan kecepatan g***. Ribuan pesan dari nomor tak dikenal. Ada yang memujiku, ada yang menghujatku, dan ada yang mengirimkan potongan gambar dari siaran itu dengan komentar-komentar yang membuat perutku melilit.
Aku mematikan ponsel itu dan melemparkannya ke tumpukan sampah. Aku bebas dari *The Watcher*, tapi aku menyadari bahwa penjara yang sebenarnya baru saja dimulai. Dunia kini mengenalku, dan mereka tidak akan pernah membiarkanku lupa.
Langkah kaki terdengar dari ujung gang. Bukan langkah kaki biasa, melainkan langkah yang berat dan teratur. Langkah sepatu bot militer. Aku mendongak, mencoba melihat menembus kegelapan, saat sebuah lampu sorot dari drone pengint** di atas kepala mengunci posisiku.
"Vanya?" sebuah suara berat memanggil namaku.
Aku terpaku. Itu bukan suara polisi. Itu adalah suara yang sangat kukenal dari masa lalu, suara yang seharusnya tidak berada di sini.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!