Lant** kamar mandi yang dingin mengirimkan sengatan kecil ke telapak kaki Vanya, namun dia mengabaikannya. Di atas wastafel porselen yang retak, sebuah kotak logam ramping berwarna krom memantulkan cahaya neon ungu dari papan iklan di luar jendela apartemennya yang sempit. Aero-Pulse. Nama itu terukir dengan laser halus pada permukaan alat yang kini tergeletak di telapak tangannya.
Vanya menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Hanya sekali," bisiknya pada bayangannya di cermin. "Cuma mau tahu apa yang diributkan semua orang di kampus."
Bayangannya di cermin tidak terlihat meyakinkan. Lingkaran hitam di bawah matanya tampak lebih kontras di bawah lampu LED kamar mandi yang berkedip. Dia merasa tidak berdaya, seperti sketsa yang belum selesai. Mungkin, pikirnya, stimulan ini bisa memberinya warna yang selama ini hilang dari hidupnya yang monoton.
Alat itu berbentuk seperti tongkat kecil dengan ujung sensor melingkar. Vanya menekan tombol aktivasi. Bunyi dengung rendah—hampir tidak terdengar, lebih merupakan getaran di udara—mulai terasa. Cahaya biru lembut berpendar dari ujungnya. Sesuai instruksi digital yang dia baca ribuan kali di forum bawah tanah, dia mendekatkan sensor itu ke belakang telinganya, tepat di titik saraf vagus yang terpapar.
Begitu sensor menyentuh kulitnya, dunia seakan meledak.
Vanya tersentak, punggungnya menghantam dinding ubin yang lembap. Bukan rasa sakit, melainkan sebuah gelombang frekuensi yang menyapu kesadarannya. Rasanya seolah-olah seseorang menyuntikkan cahaya murni langsung ke dalam aliran darahnya. Matanya terbelalak, pupilnya melebar hingga hampir menutupi iris cokelatnya.
"Oh..." Suaranya tertahan di tenggorokan.
Setiap saraf di tubuhnya tiba-tiba terbangun. Dia bisa merasakan detak jantungnya sendiri bukan sebagai denyutan, melainkan sebagai simfoni perkusi yang megah. Tekstur ubin di punggungnya tidak lagi terasa kasar dan dingin; setiap pori-porinya seolah mampu memetakan setiap retakan mikro pada semen tersebut. Sensasi itu merambat ke bawah tulang belakangnya, melepaskan dopamin dalam dosis yang belum pernah dirasakan otaknya sebelumnya.
Vanya memejamkan mata, dan di balik kelopak matanya, dia melihat kaleidoskop geometri cahaya yang menari-nari mengikuti irama denyut nadinya. Ini jauh lebih kuat daripada sekadar stimulasi estetik yang dijanjikan iklan. Ini adalah invasi sensorik yang brutal sekaligus indah.
Namun, di tengah euforia itu, rasa pusing mulai menyerang. Lant** di bawah kakinya seolah berubah menjadi cairan. Dunianya miring. Vanya mencoba menjauhkan Aero-Pulse dari lehernya, tetapi tangannya terasa berat, seolah terbuat dari timah. Jarinya justru mencengkeram alat itu lebih erat.
"Miri," panggilnya lemah, memanggil asisten virtual apartemennya. "Miri, matikan... matikan lampu utama."
"Permintaan tidak dikenali, Vanya. Detak jantungmu berada di level 140 bpm. Apakah kau butuh bantuan medis?" Suara mekanis Miri terdengar jauh, seolah tenggelam di bawah air.
"Tidak... jangan," gumam Vanya. Dia tidak ingin ada ambulans datang. Dia tidak ingin ada yang tahu dia menggunakan alat ilegal ini. Ketakutan akan penghakiman—label 'pecandu pulsa' yang sering disematkan pada orang-orang gagal di pinggiran kota—membuatnya tetap bertahan dalam penderitaan yang nikmat ini.
Keringat dingin membasahi pelipisnya. Rasa pusing itu kini disert** dengan mual yang tajam, namun di saat yang sama, setiap inci kulitnya merindukan lebih banyak getaran tersebut. Itu adalah kontradiksi yang menyiksa: tubuhnya menolak, tetapi jiwanya memohon.
Dia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang yang bercahaya, dan Aero-Pulse adalah dorongan lembut di punggungnya.
Vanya akhirnya berhasil menarik alat itu menjauh. Kesunyian yang tiba-tiba menyergap kamar mandi terasa m****akkan telinga. Warna-warna di balik matanya memudar, menyisakan kegelapan yang hampa dan kepala yang berdenyut hebat. Dia merosot ke lant**, napasnya tersengal-sengal, memeluk lututnya di samping lubang pembuangan air yang berbau karat.
Dunia kembali menjadi abu-abu. Kamar mandinya kembali menjadi sempit, pengap, dan menyedihkan.
Dia menatap Aero-Pulse di tangannya dengan ngeri. Alat itu tampak tidak berbahaya, sebuah benda mati yang dingin. Namun, Vanya bisa merasakan ujung sarafnya masih bergetar, merindukan sengatan laser itu kembali. Ada kekosongan baru di dalam dadanya, sebuah lubang berbentuk Aero-Pulse yang menuntut untuk diisi.
Dia merasa mual, kepalanya seperti akan pecah, tetapi tangannya secara tidak sadar kembali mengangkat alat itu.
Vanya tidak menyadari bahwa di sudut atas cermin, di balik lapisan tipis debu dan uap air, sebuah lensa mikroskopis yang tidak pernah dia pasang sedang menyesuaikan fokusnya. Cahaya merah kecil berkedip sekali, menangkap ekspresi kerentanannya yang paling mentah—ekspresi seorang gadis yang baru saja menemukan penjara barunya yang indah.
"Sekali lagi," bisik Vanya, suaranya gemetar oleh adiksi yang lahir dalam hitungan detik. "Hanya sekali lagi, lalu aku akan berhenti."
Dia kembali menempelkan sensor itu ke kulitnya, tidak menyadari bahwa di belahan kota yang lain, di dalam ruangan gelap yang dipenuhi layar, seseorang sedang tersenyum sambil menyesuaikan volume siarannya.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!