Cahaya biru dari susunan monitor enam layar memantul di permukaan lensa kacamataku, menciptakan bayangan redup yang menari di dinding apartemenku yang sempit dan berbau ozon. Di hadapanku, barisan kode bergulir secepat detak jantungβsebuah tarian algoritma yang menjembatani privasi seseorang dengan hasrat gelap dunia bawah digital.
Aku menggerakkan kursor, membuka jendela enkripsi tingkat tinggi yang terhubung ke situs *The Glass Cage*. Di sudut kanan atas, angka penonton mulai merangkak naik: 102, 350, 800. Mereka menunggu. Mereka selalu haus akan sesuatu yang mentah, sesuatu yang tidak disaring oleh sensor moralitas korporasi.
"Selamat datang di pertunjukan perdana kita malam ini," bisikku pada mikrofon yang teredam filter distorsi suara. Suaraku keluar sebagai geraman metalik yang anonim.
Di layar utama, Vanya muncul. Sudut pandang kamera tersembunyi yang kupasang di ventilasi kamar mandinya menangkap sosoknya dengan presisi 4K. Dia tampak mungil di bawah pendar lampu neon putih yang steril. Tangannya yang sedikit gemetar memegang unit Aero-Pulseβperangkat ramping berwarna perak yang menjanjikan ekstasi saraf hanya dengan satu sentuhan laser getar.
Vanya melepaskan jubah mandinya. Bahunya yang tegang perlahan mulai rileks saat dia menyalakan alat itu. Suara dengungan halus, seperti kepakan sayap serangga elektrik, tertangkap oleh mikrofon sensitifku.
*NeonGutter77: "Akhirnya! Dia terlihat sangat gugup. Itu membuatnya terlihat sepuluh kali lebih menggoda."*
*PulseJunkie: "Lihat matanya. Dia sudah mulai kecanduan bahkan sebelum laser itu menyentuh kulitnya."*
Donasi mulai ma**k dalam bentuk kripto-kredit. Bunyi denting digital yang memuaskan telingaku. Namun, kepuasan itu terinterupsi oleh ba**** pesan di kolom obrolan yang bergerak liar.
*Cipher_X: "Sudut pandangnya terlalu jauh! Kita butuh lebih dekat. Aku ingin melihat reaksi pupilnya saat Pulse itu menghantam sarafnya!"*
*Vortex_Watcher: "Setuju. Beri kami bidikan makro. Aku ingin melihat keringat di lehernya. Jangan hanya memberi kami pemandangan umum, Operator. Kami membayar mahal untuk keintiman!"*
Aku mendengus kecil. Mereka tidak mengerti risiko teknisnya. Menggerakkan mikrodron di dalam ruangan sekecil itu saat target dalam keadaan waspada adalah tindakan ceroboh. Tapi, saat aku melihat total donasi yang tertahan menunggu "kepuasan pelanggan", aku tahu aku tidak punya pilihan.
Jemariku menari di atas dek kontrol. Aku mengaktifkan 'Whisper-Drone', sebuah perangkat pengint** seukuran lalat yang menempel di sudut cermin kamar mandi Vanya. Dengan presisi yang menyiksa, aku melepaskan pengait magnetiknya. Drone itu melayang, nyaris tanpa suara, didorong oleh baling-baling mini yang dilapisi peredam suara.
Di layar, perspektif berubah. Aku mengarahkan drone itu mendekat, melewati bahu Vanya, lalu berhenti tepat beberapa inci dari wajahnya saat dia menempelkan ujung Aero-Pulse ke pangkal lehernya.
Vanya memejamkan mata. Kepalanya mendongak, memperlihatkan garis rahang yang kaku. Saat laser getar itu memancarkan denyut pertamanyaβwarna ungu elektrik yang berpendar di kulitnyaβseluruh tubuhnya tersentak kecil. Napasnya memburu, menciptakan uap tipis di udara dingin kamar mandi.
"Lebih dekat lagi," gumamku pada diri sendiri, terhipnotis oleh pemandangan itu.
Aku memajukan drone itu hingga aku bisa melihat detak nadi di lehernya yang berdenyut kencang. Pupil matanya melebar, menelan warna irisnya saat stimulasi neurologis itu menghantam pusat kesenangannya. Dia tidak lagi berada di kamarnya; dia berada di dalam nebula sensorik yang diciptakan oleh alat itu.
*User_902: "Sempurna. Lihat bagaimana dia gemetar. Dia hancur di depan kita dan dia bahkan tidak tahu."*
*Glitch_Bitch: "Kirimkan lebih banyak voltase! Bisakah kita melihatnya dari arah depan? Aku ingin melihat ekspresi penyerahan dirinya sepenuhnya."*
Tuntutan mereka semakin liar. Mereka ingin aku melanggar batas yang lebih jauh lagi. Aku mengarahkan drone itu untuk memutar, mencoba mendapatkan sudut pandang dari depan wajahnya yang tertutup rambut pirang yang basah. Namun, saat drone itu berada tepat di hadapan matanya, Vanya tiba-tiba membuka mata.
Matanya yang berkaca-kaca dan kosong seolah menatap langsung ke arah lensa kamera drone.
Aku menahan napas. Jantungku seakan berhenti berdetak. Apakah dia melihatnya? Apakah kilatan cahaya dari sensor fokus drone itu tertangkap oleh matanya yang masih dalam pengaruh Pulse?
Vanya mengerutkan kening, tangannya yang memegang Aero-Pulse berhenti bergerak. Dia memiringkan kepalanya, matanya yang setengah sayu mencoba memfokuskan pandangan pada titik kecil yang melayang di udara di depannya.
"Siapa...?" bisiknya lirih, suaranya parau karena sensasi yang baru saja dialaminya.
Tangannya terangkat perlahan, seolah hendak meraih drone itu. Di layar monitor, kolom obrolan mendadak hening. Ketegangan menggantung di udara seperti kabel tegangan tinggi yang siap putus. Aku harus menarik drone itu sekarang, atau seluruh operasi ini akan terbongkar sebelum aku sempat menarik semua kredit dari akun penampung.
Namun, sebelum aku bisa menekan tombol mundur, sebuah notifikasi merah berkedip di layar sampingku. *Sinyal Terdeteksi: Pelacakan Eksternal.*
Seseorang di luar sana, di antara para penonton atau mungkin pihak ketiga, sedang mencoba meretas balik koneksiku. Aku bukan satu-satunya yang sedang mengamati Vanya malam ini.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!