Neon Pulse: Gaze of the Machine

Bab 5: Bab 5 - Vanya mulai mengabaikan tugas kuliahnya karena ...

Pengaturan Membaca

Kursor di layar terminal berkedip dengan ritme yang monoton, seolah-olah sedang mengejek Vanya. Sudah tiga jam ia duduk di depan meja belajarnya, menatap barisan kode *Neural-Link* yang seharusnya ia selesaikan untuk tugas akhir semester. Namun, setiap kali ia mencoba memfokuskan pikirannya, sebuah rasa gatal yang aneh mulai merayap di bawah kulitnyaβ€”sebuah kekosongan yang hanya bisa diisi oleh getaran laser biru yang halus.

Vanya meraba tengkuknya. Kulitnya terasa dingin, kontras dengan udara apartemen yang pengap oleh bau sirkuit panas dan sisa mi instan. Matanya melirik ke arah pintu kamar mandi yang sedikit terbuka. Di sana, di balik kabinet cermin, tersimpan alat Aero-Pulse miliknya yang baru. Hanya memikirkannya saja sudah membuat ujung jarinya gemetar.

"Sedikit lagi," gumamnya, mencoba membujuk dirinya sendiri. "Satu paragraf kode lagi, baru istirahat."

Namun, jemarinya justru mengetik karakter yang tidak ma**k akal. Logikanya kacau. Visualisasi estetika yang dijanjikan Aero-Pulse terasa jauh lebih nyata dan penting daripada gelar sarjana teknologi yang sedang ia kejar. Dunianya kini terbagi dua: dunia nyata yang buram dan penuh tekanan, serta dunia sensorik Aero-Pulse yang meledak-ledak dengan warna dan euforia.

Vanya mendorong kursinya hingga berdecit keras di atas lant** polimer. Ia menyerah.

Ia melangkah cepat menuju kamar mandi, mengunci pintu dengan gerakan mekanis yang hampir putus asa. Di dalam ruangan sempit yang diterangi lampu neon redup itu, Vanya merasa aman. Ia mengeluarkan unit Aero-Pulse, sebuah perangkat perak ramping yang tampak seperti perhiasan futuristik. Ia menyalakannya, dan suara dengungan rendah yang menenangkan segera memenuhi ruangan.

Vanya memejamkan mata saat ujung laser menyentuh titik saraf di pergelangan tangannya. *Zzt.* Stimulasi itu menghantam otaknya seketika. Rasanya seperti ribuan kembang api digital meledak di balik kelopak matanya. Kegelisahan tentang tugas kuliah, tagihan kredit yang menumpuk, dan rasa tidak percaya dirinya menguap begitu saja, digantikan oleh gelombang dopamin yang murni.

"Vanya? Kamu di dalam?"

Suara ketukan di pintu mengejutkan Vanya. Ia tersentak, hampir menjatuhkan perangkat mahal itu ke lant**. Itu suara Manda, teman sekamarnya yang praktis dan tidak pernah bertele-tele.

"I-iya! Sebentar!" teriak Vanya, suaranya terdengar terlalu tinggi, terlalu panik.

"Lagi?" Manda bertanya dari balik pintu. "Ini sudah ketiga kalinya kamu ma**k kamar mandi sejak aku pulang dua jam lalu. Kamu oke? Kamu nggak melewatkan kuliah sore kan?"

Vanya mematikan alat itu dengan tangan gemetar, menyembunyikannya di balik tumpukan handuk. Sensasi euforia yang tadi menyelimutinya ditarik paksa, meninggalkan rasa hampa yang perih. Ia memba**h mukanya dengan air dingin, menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya merah, pupilnya melebar, dan ia terlihat seperti seseorang yang baru saja terjaga dari mimpi burukβ€”atau mungkin mimpi yang terlalu indah.

Ia membuka pintu sedikit, hanya memperlihatkan wajahnya. Manda berdiri di sana, menyilangkan tangan di depan dada, mengenakan jaket *utility* yang masih basah karena hujan asam di luar.

"Aku cuma... perutku kurang enak," bohong Vanya. Ia menghindari kontak mata dengan melihat ke arah rak sepatu.

Manda menyipitkan mata, tatapannya menyelidik. "Perut kurang enak atau kamu kecanduan stimulan lagi? Vanya, aku serius. Kamu belum menyentuh proyek kelompok kita. Dosen bilang kamu nggak absen di kelas tadi pagi."

"Aku mengerjakannya, Manda! Cuma butuh waktu sebentar untuk istirahat," potong Vanya, nada suaranya tajam karena iritasi yang tiba-tiba munculβ€”efek samping dari putusnya stimulasi Aero-Pulse secara mendadak.

Manda menghela napas panjang, ekspresinya berubah dari curiga menjadi khawatir. "Ada bau aneh setiap kali kamu keluar dari sini. Bau ozon dan logam terbakar. Itu bukan bau sabun atau parfum, Van. Kalau kamu memakai *booster* saraf ilegal atau semacamnyaβ€”"

"Aku nggak pakai apa-apa!" Vanya membentak, lalu segera menyesalinya saat melihat keterkejutan di wajah Manda. "Maaf. Aku cuma stres. Banyak tekanan. Tolong, beri aku waktu."

Manda terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan, meski ketidakpercayaan masih jelas terlihat di matanya. "Oke. Tapi kalau besok kamu masih mengunci diri di sini, aku akan lapor ke administrasi asrama. Kita nggak mau ada masalah dengan detektor stimulan ilegal saat inspeksi minggu depan."

Manda berbalik dan berjalan menuju bagian apartemennya, meninggalkan Vanya yang mematung di ambang pintu kamar mandi. Jantung Vanya berdegup kencang. Ia tahu ia harus kembali ke mejanya, menghapus baris kode yang salah, dan fokus. Namun, pikirannya terus kembali pada getaran laser itu. Ia merasa haus, seolah-olah otaknya sedang mengerut karena kekurangan cairan digital.

Vanya menutup kembali pintu kamar mandi dan menguncinya dengan pelan, sangat pelan agar tidak terdengar Manda. Ia kembali mengambil Aero-Pulse dari bawah handuk. Ia tahu ini berbahaya. Ia tahu privasinya adalah segalanya, dan ia sedang mempertaruhkan masa depannya demi kepuasan sesaat.

Namun, saat ia menekan tombol *power* dan cahaya biru itu kembali berpijar, Vanya tidak peduli. Ia tidak menyadari bahwa di sudut plafon, tepat di atas ventilasi udara yang gelap, sebuah lensa mikroskopis menangkap setiap gerak-geriknya. Sebuah lampu indikator merah yang hampir tak terlihat berkedip di sana, mengirimkan data terenkripsi ke sebuah server di bagian kota yang paling gelap.

Di sebuah layar di tempat lain, seseorang sedang menonton. Dan bagi 'The Watcher', setiap detik kerentanan Vanya adalah konten yang sangat berharga.

Vanya menghela napas panjang saat laser kembali menyentuh kulitnya, tidak sadar bahwa di saat ia merasa paling terasing dan aman, dunia justru sedang menatapnya dengan lapar.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca