Sisa-sisa euforia dari Aero-Pulse masih bergetar di pangkal tengkoraknya, meninggalkan rasa manis artifisial yang samar di lidahnya. Vanya menyandarkan punggungnya pada dinding kamarnya yang lembap, membiarkan napasnya perlahan kembali teratur. Di luar jendela, papan reklame holografik raksasa yang mempromosikan suplemen saraf berkedip-kedip, menyemburkan cahaya magenta dan biru elektrik yang menerobos celah tirai, menciptakan garis-garis tajam di wajahnya.
Dia melirik alat itu. Aero-Pulse miliknya tergeletak di atas seprai yang berantakan, tampak seperti sebuah perhiasan futuristik yang elegan namun mengancam. Seharusnya, setelah sesi selesai, indikator berbentuk cincin di bagian tengahnya akan meredup menjadi warna biru lembut—tanda mode *standby*.
Namun malam ini berbeda.
Cincin itu berpendar merah darah. Bukan merah peringatan baterai yang berkedip pelan, melainkan merah pekat yang statis, seolah-olah alat itu sedang bekerja keras memproses sesuatu di latar belakang.
Vanya mengerutkan kening, jemarinya yang masih sedikit gemetar meraih alat tersebut. Dingin metaliknya kontras dengan kulitnya yang hangat. "Matikan," gumamnya, suaranya parau. Dia menekan tombol daya selama lima detik. Sepuluh detik.
Tidak ada reaksi. Lampu merah itu tetap menatapnya, seperti mata tunggal yang tak berkedip.
"Ayo lah, jangan sekarang," bisiknya gelisah. Perasaan tidak nyaman mulai merayap di tengkuknya. Ketakutan terbesarnya bukanlah kerusakan alat itu, melainkan kemungkinan bahwa dia telah merusak komponen sarafnya sendiri atau, lebih buruk lagi, ada malfungsi data yang bisa dilaporkan ke pusat layanan resmi. Jika dia membawa ini ke teknisi berlisensi, mereka akan tahu seberapa sering dia menggunakan alat ini di luar batas dosis yang disarankan. Harga dirinya tidak akan sanggup menanggung tatapan menghakimi dari petugas medis korporat.
Vanya bangkit, menyambar terminal portabelnya yang retak di sudut layar. Jemarinya menari di atas *keyboard* virtual, membuka "The Deep-Pulse"—sebuah forum daring bawah tanah tempat para pecandu dan peretas alat estetika berkumpul untuk berbagi *patch* ilegal atau sekadar mengeluh tentang *glitch*.
Suasana kamarnya terasa makin menyesakkan. Bau ozon dan pembersih lant** murah memenuhi indranya. Dia mengetik dengan cepat di kolom pencarian: *Aero-Pulse 2045 model - Solid Red Light - Unresponsive.*
Layar terminalnya dipenuhi dengan ratusan utas. Sebagian besar hanyalah sampah atau iklan spam untuk stimulan ilegal. Namun, sebuah notifikasi pesan pribadi ma**k di sudut kanan bawah. Nama penggunanya hanya berupa deretan angka acak: *00_Null*.
*“Lampu merah itu bukan kerusakan perangkat keras, Vanya,”* bunyi pesan itu.
Jantung Vanya berdegup kencang. Bagaimana orang ini tahu namanya? Profilnya di forum ini menggunakan nama samaran 'V-Volt'. Dia mematung, menatap layar dengan mata membelalak.
*“Siapa ini?”* ketik Vanya. Tangannya berkeringat, membuat layar sentuhnya sedikit licin.
*“Seseorang yang melihat apa yang kamu lihat. Kamu melakukan sinkronisasi tanpa protokol enkripsi yang benar, bukan? Itu sebabnya lampunya tetap menyala. Alatmu sedang mengunggah cache data neurologis secara real-time ke server eksternal. Jika kamu tidak memutusnya sekarang, privasimu akan menjadi milik publik.”*
Napas Vanya memburu. Bayangan tentang rekaman intimnya—ekspresi wajahnya saat berada di bawah pengaruh laser getar, kerentanannya di dalam kamar mandi yang dia anggap sebagai tempat perlindungan terakhir—berputar di kepalanya seperti film horor. Jika data itu bocor, semua orang akan melihat betapa hancurnya dia di balik topeng mahasiswi teladan yang dia kenakan setiap hari.
*“Bagaimana cara menghentikannya?”* tanya Vanya, mengabaikan insting kewaspadaannya demi kepanikan yang membutakan.
*“Aku punya alat diagnostik enkripsi balik. Unduh di tautan ini, jalankan melalui port sinkronisasi terminalmu. Ini akan memutus jalur pengunggahan secara paksa. Lakukan cepat sebelum progresnya mencapai seratus persen.”*
Sebuah tautan berwarna hijau neon muncul di bawah pesan itu. *Emergency_Killswitch_v4.0.link.*
Vanya menatap lampu merah di Aero-Pulse itu lagi. Rasanya lampu itu makin terang, seolah-olah sedang menyedot seluruh rahasianya keluar dari otaknya. Logikanya meneriakkan peringatan. Seorang asing di forum bawah tanah memberinya tautan tak dikenal? Itu adalah aturan pertama dalam keamanan siber yang tidak boleh dilanggar.
Namun, rasa malu lebih kuat daripada logika. Ketakutan akan penghakiman publik lebih mengerikan daripada risiko peretasan lebih lanjut. Dia tidak bisa membiarkan siapa pun melihat sisi dirinya yang satu ini.
"Maafkan aku, otak," bisiknya pelan, seolah meminta izin pada dirinya sendiri.
Dengan gerakan impulsif, Vanya mengklik tautan tersebut.
Layar terminalnya seketika menjadi hitam. Ruangan yang tadinya penuh dengan cahaya neon dari luar seolah-olah tersedot ke dalam kegelapan total selama beberapa detik. Kemudian, sederet kode berwarna merah—sama persis dengan warna lampu di alatnya—mulai mengalir deras dari atas ke bawah layar.
Vanya mencoba menarik kembali terminalnya, tapi layarnya tidak merespons. Sesuatu yang aneh terjadi. Kamera kecil di atas terminalnya menyala, lampu hijaunya berkedip cepat bersamaan dengan lampu merah di alat Aero-Pulse miliknya.
Tiba-tiba, sebuah jendela kecil terbuka di tengah layar terminal yang tadinya hitam. Bukan jendela diagnostik, melainkan sebuah pemutar video.
Vanya menutup mulutnya dengan tangan, menahan pekikan yang tertahan di tenggorokan. Di layar itu, dia melihat dirinya sendiri. Sudut pandangnya berasal dari atas cermin kamar mandinya—sudut yang seharusnya tidak memiliki kamera. Video itu menampilkan dirinya beberapa menit yang lalu, sedang memejamkan mata dengan ekspresi yang sangat pribadi saat alat itu menempel di lehernya.
Di bawah video itu, terdapat sebuah kotak obrolan *live stream* yang bergulir dengan kecepatan cahaya.
*“Lihat dia, dia tidak tahu kita sedang menonton,”* tulis salah satu komentar.
*“Subjek 405 mulai menyadari ada yang salah. Mengasyikkan sekali,”* tulis yang lain.
Di sudut atas layar, angka jumlah penonton terus meningkat: 14.203 orang... 14.500 orang...
Darah Vanya terasa membeku. Lampu merah di alat Aero-Pulse itu tiba-tiba berkedip sekali, lalu berubah menjadi suara bisikan mekanis yang keluar dari *speaker* terminalnya.
"Terima kasih telah memberikan akses penuh, Vanya. Pertunjukan baru saja dimulai."
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!