Suara denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti lonceng kematian di telingaku. Di depanku, sepiring *beef bourguignon* yang tampak lezat sama sekali tidak menyentuh selera makanku. Aku lebih tertarik memperhatikan bagaimana Sarah—sahabatku sejak SMA—tertawa begitu lepas hingga matanya menyipit, sementara jemarinya yang dihiasi cincin berlian satu karat melingkar manja di lengan suaminya.
Ini adalah pernikahan kelima yang kudatangi dalam enam bulan terakhir. Dan setiap kali aku duduk di kursi undangan seperti ini, aku merasa seperti sebuah anomali yang gagal dipecahkan.
"Naya, kamu kapan?"
Pertanyaan itu datang dari Tante Lastri, kerabat Sarah yang entah mengapa merasa memiliki hak akses penuh terhadap lini masa hidupku. Ia tersenyum, tapi matanya memindai penampilanku dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang mencari c**** produksi yang membuatku masih duduk sendirian di meja ini.
Aku memaksakan sudut bibirku terangkat, membentuk kurva formalitas yang kusebut senyuman. "Masih fokus karier, Tante. Kanaya baru saja naik jabatan jadi senior analyst," jawabku, mencoba menyelipkan prestasiku sebagai tameng.
"Oalah, karier terus. Ingat, Nay, perempuan itu ada masa kedaluwarsanya. Jangan sampai nanti menyesal kalau sudah lewat dua lima tapi belum ada calon. Nanti susah, lho," sahutnya sambil berlalu, meninggalkan aroma parfum melati yang menyesakkan dan lubang besar di dadaku.
Masa kedaluwarsa. Dua puluh lima.
Dua angka itu berdenyut di kepalaku sepanjang jalan pulang. Di dalam taksi daring yang melaju membelah kemacetan Jakarta, aku menatap pantulan diriku di kaca jendela. Rambut hitam yang tertata rapi, riasan wajah yang tanpa cela, dan gaun *satin champagne* yang pas di badan. Secara teknis, aku adalah definisi 'sukses' bagi standar perempuan usia dua puluh empat tahun. Aku punya pekerjaan stabil, tabungan yang c**up, dan apartemen mungil yang kubayar sendiri.
Namun, di dalam catatan hidupku, ada satu kolom yang selalu berwarna merah: Hubungan Asmara.
Sesampainya di apartemen, aku tidak langsung mengganti baju. Aku duduk di lant** ruang tamu yang dingin, menyandarkan punggung pada sofa, dan membuka laptop. Jemariku bergerak lincah, membuka sebuah folder tersembunyi yang kuberi nama *'Recycle Bin'*. Di dalamnya, tersimpan foto-foto dan tangkapan layar percakapan dari masa lalu yang belum sempat kuhapus—atau sengaja kusimpan sebagai bukti kegagalanku.
Ada Adrian, yang memutusku lewat pesan teks saat aku sedang menyiapkan kejutan ulang tahunnya. Ada Dimas, yang tiba-tiba menghilang seperti ditelan bumi setelah enam bulan kami merasa sangat cocok. Ada pula Bagas, yang mengaku 'ingin fokus pada diri sendiri' tapi dua minggu kemudian mengunggah foto pertunangan dengan rekan kerjanya.
Semua berakhir tanpa penjelasan yang ma**k akal. Semua meninggalkan pertanyaan yang sama: *Apa yang salah denganku?*
Sebagai seorang analis, aku dididik untuk percaya bahwa setiap masalah memiliki akar penyebab. Jika sebuah perusahaan mengalami kerugian, kita melakukan audit. Kita memeriksa pembukuan, mengevaluasi prosedur, dan menemukan di mana kebocorannya.
Aku menatap cermin besar di sudut ruangan. Mataku mulai memanas. Besok adalah hari ulang tahunku yang ke-25. Bagiku, angka itu bukan sekadar angka. Itu adalah tenggat waktu yang kupasang sendiri. Aku tidak mau mema**ki usia seperempat abad dengan membawa beban kegagalan yang tidak kupahami. Aku tidak mau menjadi 'produk gagal' yang terus melakukan kesalahan yang sama tanpa pernah tahu apa kesalahannya.
"Kalau bisnis bisa diaudit, kenapa hubungan tidak?" bisikku pada kesunyian ruangan.
Ide itu muncul begitu saja, dingin dan tajam. Sebuah misi g***. Aku membutuhkan jawaban jujur, bukan kalimat klise seperti "kamu terlalu baik buat aku" atau "aku lagi nggak siap komitmen". Aku butuh data. Aku butuh evaluasi dari mereka yang pernah berada di sisi terdalam hidupku.
Tanganku mulai gemetar saat membuka aplikasi *spreadsheet* di laptop. Aku membuat kolom-kolom baru: *Nama Mantan, Durasi Hubungan, Alasan Putus (Versi Mereka), dan Kontak Terakhir.*
Satu per satu nama itu kutuliskan. Adrian. Dimas. Bagas. Rio. Dan... aku berhenti sejenak. Jemariku tertahan di atas papan ketik saat satu nama muncul di permukaan ingatan. Nama yang tidak pernah secara resmi ma**k dalam daftar 'mantan', tapi lukanya paling dalam.
Bumi.
Sahabat masa kecilku. Laki-laki yang mengajariku cara mengendarai sepeda, yang memegang tanganku saat aku menangis karena nilai ujian matematika yang buruk, dan laki-laki yang menghilang tepat di malam aku mengira dia akan menyatakan perasaannya. Dia adalah anomali terbesar dalam hidupku. Penutupan darinya adalah kunci utama dari semua kekacauan ini.
Aku menarik napas panjang, membiarkan udara dingin dari pendingin ruangan mengisi paru-paruku. Ketakutan akan penolakan sempat menciutkan nyaliku, tapi rasa haus akan kejelasan jauh lebih membakar. Aku tidak bisa terus berjalan di kegelapan sambil menebak-nebak lubang mana yang akan membuatku jatuh lagi.
Aku harus menemui mereka. Satu per satu.
Dengan tekad yang bulat, aku menekan tombol *save* pada dokumen yang kuberi judul besar di bagian atas: **PROJECT: RELATIONSHIP AUDIT.**
Tepat saat jam dinding berdentang menunjukkan pukul dua belas malam, menandai usiaku yang resmi menginjak dua puluh lima tahun, aku mengirim pesan singkat pertama kepada Adrian.
*“Hai, Adrian. Ini Naya. Aku punya permintaan yang mungkin terdengar aneh, tapi ini penting untukku. Bisa kita bicara?”*
Pesan itu terkirim. Centang dua. Jantungku berpacu g***-g***an. Ini adalah awal dari perjalanan mencari jawaban, atau mungkin, awal dari kehancuran yang lebih besar. Namun, satu hal yang pasti: aku tidak akan membiarkan usiaku yang ke-25 dimulai dengan ketidakpastian yang sama.
Aku siap menghadapi hantu-hantu masa laluku, meskipun aku belum tahu apakah aku siap mendengar kebenaran yang akan mereka sampaikan.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!