Udara di *rooftop* lant** lima belas ini terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya imajinasiku karena aku sedang menunggu seseorang yang nyaris menjadi suamiku. Aku menyesap *caffè latte* yang sudah mendingin, membiarkan rasa pahitnya tertinggal di pangkal lidah. Di depanku, kursi kosong itu seolah menatapku dengan sinis, mengingatkanku pada undangan berwarna salem yang dua tahun lalu berakhir di tempat sampah.
Lalu, ia datang.
Langkah kaki Arya terdengar tegas di atas lant** kayu. Ia masih mengenakan kemeja kerja yang disetrika sempurna—tanpa kerutan sedikit pun, persis seperti hidupnya yang selalu teratur. Ia duduk di hadapanku, meletakkan kunci mobilnya dengan gerakan yang presisi.
"Naya," sapa Arya pendek. Suaranya masih sama, berat dan tenang, jenis suara yang dulu kupikir akan menenangkanku sepanjang hayat.
"Hai, Ar. Terima kasih sudah meluangkan waktu," balasku sembari berusaha menahan jemariku agar tidak memilin ujung taplak meja. Aku menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali keberanian yang kupupuk sejak dari rumah. "Kamu tahu kenapa aku mengajak bertemu?"
Arya menyandarkan punggung, matanya yang tajam menatapku lurus. "Misi auditmu itu? Aku dengar dari teman-teman. Kamu sedang keliling kota mencari kesalahan masa lalu."
Aku tersenyum tipis, sedikit getir. "Bukan mencari kesalahan, Ar. Mencari penjelasan. Kita batal menikah sebulan sebelum hari H, dan sampai sekarang, aku merasa ada bagian dari cerita kita yang hilang. Aku butuh data yang akurat untuk menutup buku ini."
Arya terkekeh pelan, tapi tidak ada binar jenaka di matanya. "Bahkan dalam urusan hati, kamu masih bicara soal data dan akurasi, Naya. Itulah masalahnya."
Aku merasakan hantaman kecil di dadaku. Aku membuka tablet, mencoba bersikap profesional untuk menutupi gemetar di hatiku. "Mari kita bicara jujur. Kenapa kamu menyerah waktu itu? Kenapa rencana rumah di pinggir kota dan taman kecil itu tiba-tiba menguap begitu saja?"
Arya diam sejenak. Ia memandang langit Jakarta yang mulai jingga kemerahan. "Naya, kamu ingat saat kita memilih ubin untuk dapur calon rumah kita? Kamu membawa penggaris. Kamu menghitung presisi tiap sudutnya, memprotes selisih satu milimeter yang bahkan tidak akan terlihat oleh mata manusia biasa."
"Aku hanya ingin semuanya sempurna, Ar. Itu untuk masa depan kita," sanggahku.
"Bukan," potong Arya cepat. "Kamu ingin versimu tentang masa depan yang sempurna. Kamu tidak pernah bertanya apa aku benar-benar ingin tinggal di pinggir kota. Kamu sudah memutuskan bahwa aku akan menjadi manajer senior di usia tiga puluh, bahwa kita akan punya dua anak, dan bahwa kamu akan tetap bekerja lembur setiap malam sementara aku mendukungmu di belakang layar."
Aku tertegun. "Tapi kamu bilang kamu mendukung karierku."
"Aku mendukungmu, Naya. Tapi aku tidak ingin menjadi aksesori dalam skenario hidup yang kamu tulis sendirian," Arya memajukan tubuhnya, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Setiap kali kita bicara tentang visi masa depan, aku merasa sedang diwawancara oleh HRD, bukan sedang mengobrol dengan calon istri. Kamu memperlakukan pernikahan kita seperti proyek audit. Kamu mencari efisiensi, bukan koneksi."
Kata-katanya terasa seperti siraman air es. Aku ingat betapa seringnya aku membuat tabel pro dan kontra untuk setiap keputusan besar yang kami ambil. Aku ingat betapa keras kepalanya aku mempertahankan opiniku tentang bagaimana seharusnya sebuah keluarga berfungsi, tanpa menyadari bahwa Arya perlahan-lahan kehilangan suaranya di sampingku.
"Kamu membuatku merasa tidak kompeten untuk menjadi suamimu jika aku tidak memenuhi standar 'sempurna' yang ada di kepalamu," lanjut Arya. "Dan saat aku mencoba bicara tentang keinginanku untuk berhenti dari korporat dan mulai bertani di desa, apa reaksimu? Kamu tertawa. Kamu bilang itu 'tidak ma**k akal secara finansial'."
Aku menunduk, memandangi layar tablet yang kini tampak buram oleh genangan air di pelupuk mataku. "Aku hanya takut kita akan susah, Ar. Aku tidak ingin kita gagal."
"Dan karena takut gagal, kamu justru menghancurkan kita dengan ekspektasi yang mencekik," Arya menghela napas panjang, kemarahannya tampak memudar, digantikan oleh kelelahan yang dalam. "Malam ketika aku membatalkan semuanya, aku bukan berhenti mencint**mu. Aku hanya berhenti merasa bisa bernapas di sampingmu."
Hening merayap di antara kami. Suara klakson dari jalanan di bawah terdengar samar, kontras dengan kesunyian yang menyesakkan di meja ini. Selama ini, aku menempatkan diriku sebagai korban—wanita malang yang ditinggalkan di ambang pelaminan. Tapi lewat mata Arya, aku melihat diriku yang lain: seorang diktator emosional yang terobsesi pada kendali.
"Apa sekarang kamu sudah bahagia?" tanyaku dengan suara parau.
Arya mengangguk perlahan. "Aku tidak punya rencana lima tahunan yang hebat lagi, Naya. Tapi aku bisa bernapas. Aku bisa membuat kesalahan tanpa merasa sedang diaudit."
Ia berdiri, menandakan pertemuan ini selesai. Sebelum melangkah pergi, ia menoleh sekali lagi. "Naya, kamu tidak bisa mengaudit cinta. Kamu tidak bisa memaksa hati orang lain ma**k ke dalam sel-sel *spreadsheet*-mu. Kalau kamu terus mencari kesempurnaan, kamu akan berakhir dengan banyak data, tapi tanpa siapa-siapa di sampingmu."
Aku terpaku di kursi saat Arya melangkah menjauh, menghilang di balik pintu kaca. Catatan di tabletku masih kosong, namun kepalaku penuh dengan suara-suara yang selama ini coba kubungkam. Semua mantan yang kutemui sebelumnya mengatakan hal yang serupa, tapi teguran Arya adalah yang paling telak menghantam ulu hati.
Aku merasa sangat kecil di bawah langit yang kini sepenuhnya gelap. Tanganku gemetar saat menutup aplikasi catatan. Ini adalah mantan kelima. Hanya tersisa satu nama lagi di daftarku. Nama yang selama ini sengaja kutaruh di urutan paling bawah karena aku terlalu takut untuk menghadapinya.
Bumi.
Telepon genggamku bergetar. Sebuah notifikasi pesan muncul di layar, membuat jantungku seolah berhenti berdetak sesaat. Pesan itu dari nomor yang tidak kukenal, tapi aku tahu persis gaya bicaranya.
*“Aku dengar kamu mencariku, Nay. Masih hobi mengaudit kenangan?”*
Napas duniaku mendadak sesak. Bumi tidak menghilang. Dia selama ini ada, memerhatikanku dari kejauhan, dan sekarang dia sendiri yang membuka pintu yang selama ini kupikir sudah terkunci rapat. Aku menyadari satu hal: audit ini mungkin akan membongkar rahasia yang jauh lebih besar dari sekadar alasan mengapa aku jomblo di usia dua puluh lima.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!