Ujung pulpen gel hitamku tertahan tepat di atas baris terakhir pada buku catatan bersampul kulit moka itu. Di atasnya, daftar nama para mantan kekasihku sudah tercoret dengan tinta merah yang tegas. Ada Andre yang menganggapku terlalu menuntut, Dimas yang merasa aku terlalu kaku, hingga Satria yang jujur mengatakan bahwa aku lebih mirip auditor daripada kekasih. Semua sudah kusinggahi. Semua sudah memberiku 'nilai rapor' yang menyakitkan namun mencerahkan.
Tapi di baris paling bawah, hanya ada satu nama yang kutulis dengan pensil, seolah-olah aku siap menghapusnya kapan saja jika nyaliku menciut.
*Bumi.*
Hanya itu. Tanpa nama belakang, tanpa label 'mantan' yang resmi, karena kami memang tidak pernah sampai ke titik itu. Kami adalah sepasang 'hampir' yang paling menyakitkan.
Layar ponselku menyala, memantulkan cahaya biru di permukaan meja kayu kafe yang mulai sepi. Sebuah pesan ma**k dari Sarah, teman kuliahku yang bekerja di firma hukum terkemuka. Jantungku mencelos, berdegup liar di balik tulang rusuk seolah ingin melompat keluar. Aku meraih ponsel itu dengan ujung jari yang dingin dan lembap.
"Nay, ini yang kamu minta. Jangan bilang-bilang aku yang kasih ya. Dia baru pindah ke sini bulan lalu. *Good luck with your crazy mission.*"
Di bawah pesan itu tertera sebuah alamat: *Menara Sudirman, Lant** 22. Head of Creative Department, Archi-Tech Studio.*
Napas yang sejak tadi kutahan akhirnya keluar dalam satu embusan panjang yang gemetar. Alamat itu. Satu koordinat sederhana, namun bagiku, itu adalah titik pusat dari badai yang kusebut sebagai 'Relationship Audit' ini.
Aku menyandarkan punggung ke kursi, menatap keluar jendela kaca kafe yang menampilkan kemacetan Jakarta di jam pulang kantor. Cahaya lampu mobil yang merah dan kuning berpendar kabur karena mataku mendadak panas. Selama ini, aku meyakinkan diriku bahwa Andre, Dimas, dan yang lainnya adalah alasan aku merasa gagal. Aku melakukan audit ini untuk memperbaiki diri demi masa depan.
Namun, melihat alamat kantor Bumi terpampang jelas di layar ponsel, kebohongan yang kubangun runtuh seketika.
Ternyata, selama ini aku hanya menjadikan para mantan itu sebagai tameng. Mereka hanyalah latihan, pemanasan untuk menghadapi bab yang tidak pernah benar-benar selesai. Aku mengejar jawaban dari orang lain hanya untuk memastikan bahwa aku 'c**up layak' sebelum akhirnya berani mengetuk pintu Bumi.
Bumi adalah alasan utama aku memulai keg***an ini. Dia adalah standar emas yang kusembunyikan di laci terdalam ingatanku, namun bayangannya selalu muncul tiap kali aku mencoba mencint** orang baru. Dialah yang menghilang saat kata "kita" hampir terucap, meninggalkanku dengan ribuan tanda tanya yang mengubahku menjadi perempuan perfeksionis dan haus validasi seperti sekarang.
"Naya, kau g***," bisikku pada diri sendiri. Suaraku terdengar parau di antara denting sendok dan mesin kopi.
Tanganku kembali meraih pulpen. Aku tidak mencoret namanya. Aku justru menebalkan tulisan 'Bumi' dengan tinta hitam, menekannya begitu kuat hingga ujung pulpen itu hampir menembus kertas.
Tiba-tiba, rasa mual menyerang perutku. Bagaimana jika dia tidak mau menemuiku? Bagaimana jika dia sudah menikah? Atau yang lebih buruk, bagaimana jika dia bahkan tidak ingat bahwa dia pernah meninggalkan lubang besar di hidupku?
Logika analitisku mulai bekerja, menyusun skenario-skenario kegagalan. Aku membayangkan diriku berdiri di lobi gedung mewah itu, mengenakan blazer formal, membawa map berisi pertanyaan-pertanyaan konyol, sementara Bumi menatapku dengan tatapan kasihan. Bayangan itu membuatku ingin segera menutup buku ini dan melupakan semuanya. Kembali menjadi Naya yang aman, yang akan merayakan ulang tahun ke-25 dengan kepura-puraan bahwa semuanya baik-baik saja.
Tapi, aku melirik angka di kalender meja. Tiga minggu lagi. Tiga minggu menuju usia seperempat abad. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri: tidak ada bagasi lama yang dibawa ke usia baru.
Aku meraih tas, mema**kkan buku catatan itu dengan gerakan tegas. Jemariku masih sedikit bergetar saat aku mengetik balasan untuk Sarah.
*Terima kasih, Sar. Ini yang terakhir. Janji.*
Aku berdiri, merapikan blus yang sedikit kusut. Di luar, hujan mulai turun, membasahi aspal dan menciptakan aroma *petrichor* yang tajamβaroma yang selalu mengingatkanku pada sore-sore di perpustakaan sekolah bersama Bumi.
Aku berjalan menuju pintu keluar kafe dengan langkah yang dipaksakan untuk tegap. Alamat itu sudah tersimpan di otakku, berdenyut seperti luka lama yang belum sembuh benar. Besok, aku tidak akan menemui seorang mantan untuk meminta evaluasi. Aku akan menemui satu-satunya orang yang memegang kunci untuk menghentikan audit ini selamanya.
Besok, aku akan menjemput penutupanku, atau justru menghancurkan diriku sepenuhnya.
Saat aku membuka pintu kafe, lonceng di atas pintu berdenting nyaring, memecah kebisingan hujan. Aku menarik napas dalam, membiarkan udara dingin mengisi paru-paruku. Besok, pukul sepuluh pagi. Menara Sudirman.
Aku hanya perlu satu jawaban terakhir, meski itu mungkin akan mematahkan hatiku untuk yang terakhir kalinya juga.
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!