Jantungku berdegup dengan irama yang tidak beraturan, seperti mesin tik tua yang dipaksa bekerja lembur. Aku sudah menghadapi lima mantan kekasih dalam tiga minggu terakhir. Aku sudah mendengar alasan mulai dari "kita terlalu beda" sampai "aku belum selesai dengan masa laluku". Namun, berdiri di depan pintu kaca kafe bertema industrial ini, tanganku terasa lebih dingin daripada es Americano yang biasanya kupesan.
Lima tahun. Seribu delapan ratus dua puluh lima hari. Itulah lamanya waktu yang kuhabiskan untuk menerka-nerka ke mana perginya Bumi.
Aku merapikan ujung blazer cokelat susuku, menarik napas panjang, lalu mendorong pintu. Lonceng kecil di atas pintu berdenting, suara yang biasanya terdengar ceria, kini justru bagaikan lonceng peringatan di telingaku. Mataku menyapu ruangan yang didominasi semen ekspos dan furnitur kayu gelap.
Di sudut paling belakang, dekat jendela besar yang menghadap ke jalanan Jakarta yang macet, seorang pria duduk dengan punggung tegak. Ia mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung hingga siku. Ia tidak sedang bermain ponsel. Ia hanya menatap ke luar jendela, memperhatikan arus kendaraan dengan ekspresi yang sulit kubaca dari kejauhan.
Bumi.
Langkahku terasa berat, seolah-olah lant** beton ini berubah menjadi rawa yang siap menelanku. Semakin dekat, semakin jelas perubahan itu. Rahangnya lebih tegas sekarang, ada kacamata berbingkai tipis yang bertengger di hidungnya, dan rambutnya yang dulu selalu berantakan kini tertata rapi dengan pomade. Dia bukan lagi remaja laki-laki yang memanjat pohon mangga di belakang rumahku.
"Bumi?" suaraku keluar lebih kecil dari yang kuharapkan.
Pria itu menoleh. Tidak ada binar kejutan. Tidak ada senyum lebar yang dulu selalu mampu membuat hariku cerah. Ia hanya mengangguk tipis, seolah-olah aku hanyalah rekan bisnis yang terlambat lima menit untuk rapat anggaran.
"Naya. Silakan duduk," ucapnya datar.
Aku duduk di kursi kayu di hadapannya. Jarak meja yang hanya satu meter ini terasa seperti jurang yang tak berdasar. Aku meletakkan tas tanganku di atas meja, jemariku gelisah meraba permukaan kulit tas.
"Apa kabar?" tanyaku, mencoba memecah kesunyian yang mencekik.
Bumi menyesap kopinya—hitam, tanpa gula, kulihat dari sisa ampas di dasar cangkirnya. "Baik. Seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri?"
"Baik juga. Kerjaanku di firma audit lagi sibuk-sibuknya, tapi ya... begitulah." Aku mencoba tertawa kecil, tapi suaranya mati di tenggorokan saat melihat tatapan Bumi yang kosong. Ia tidak menanggapi ceritaku. Ia hanya menatapku seolah aku adalah sebuah objek yang sedang diobservasi.
"Jadi," Bumi menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di depan dada. Postur yang sangat defensif. "Ada apa tiba-tiba mengajak bertemu setelah bertahun-tahun? Pesanmu kemarin c**up... mendesak."
Aku berdehem, mencoba mengumpulkan keberanian yang entah tercecer di mana. Aku mengeluarkan buku catatan kecil dari tas—buku 'Relationship Audit' milikku yang keramat. "Aku sedang melakukan sebuah proyek pribadi, Bum. Aku menyebutnya Audit Patah Hati. Sebelum aku genap dua puluh lima tahun, aku ingin... menyelesaikan apa yang belum selesai di masa lalu."
Bumi menaikkan satu alisnya. Ada kilat sinis yang melintas di matanya, meski hanya sesaat. "Audit? Kamu mau mengaudit kita?"
"Kurang lebih begitu," sahutku, mencoba tetap analitis meski tanganku mulai berkeringat. "Aku menemui orang-orang dari masa laluku untuk bertanya, secara jujur, apa yang salah. Kenapa semuanya berakhir tanpa kejelasan."
Bumi tertawa pelan. Tapi itu bukan tawa yang menyenangkan. Itu adalah tawa pendek yang kering. "Naya, kita bahkan tidak pernah benar-benar pacaran. Apa yang mau diaudit dari sesuatu yang tidak pernah terdaftar secara resmi?"
Kalimat itu menghantamku lebih keras dari dugaan. Aku bisa merasakan wajahku memanas. "Kita hampir, Bum. Dan 'hampir' itu yang paling menyesakkan. Kamu menghilang begitu saja lima tahun lalu. Tanpa kata, tanpa alasan. Aku hanya ingin tahu kenapa."
Bumi memalingkan wajahnya kembali ke jendela. Ia tampak tidak terganggu dengan pengakuanku. Ia tidak terlihat merasa bersalah, atau sedih, atau bahkan marah. Ia hanya... dingin. Seolah-olah sejarah panjang kami—sejak kita berbagi kotak bekal di TK sampai malam di festival seni SMA saat dia menggenggam tanganku begitu erat—hanyalah sekumpulan data sampah yang sudah ia hapus dari memorinya.
"Waktu itu aku hanya merasa kita tidak punya masa depan, Nay. Sesederhana itu," ucapnya tanpa menoleh padaku.
"Sesederhana itu?" aku mengulang kalimatnya dengan nada tidak percaya. "Kamu bilang 'sesederhana itu' setelah semua yang kita lalui? Kita sahabat, Bum. Kamu bukan cuma 'hampir pacar', kamu adalah orang yang paling aku percaya."
Bumi kembali menatapku. Kali ini, tatapannya tajam, menembus langsung ke dalam manik mataku. "Itu masalahmu, Nay. Kamu selalu ingin melabeli semuanya. Kamu ingin semuanya terorganisir, punya alasan logis, dan ma**k ke dalam kotak-kotak auditmu. Hidup tidak bekerja seperti itu. Perasaanku juga tidak bekerja seperti itu."
"Lalu bagaimana perasannmu saat itu?" desakku.
Bumi terdiam. Suasana kafe yang tadinya bising oleh mesin espresso dan percakapan pengunjung lain seolah melenyap. Yang tersisa hanya aku, dia, dan tumpukan pertanyaan yang belum terjawab.
Ia memajukan tubuhnya, menumpukan kedua lengannya di meja, memperpendek jarak di antara kami. Bau parfumnya—aroma kayu cendana dan jeruk nipis—menyerbu indra penciumanku, membawa kembali potongan-potongan ingatan yang berusaha kukubur.
"Kamu ingin evaluasi jujur, kan?" suaranya rendah, hampir seperti bisikan yang berbahaya. "Alasan kenapa aku pergi bukan karena ada yang salah denganku, atau dengan situasi kita saat itu."
Aku menahan napas, menunggu kalimat selanjutnya.
"Aku pergi karena kamu terlalu sibuk mengaudit bagaimana seharusnya hubungan kita terlihat di mata orang lain, sampai kamu lupa untuk benar-benar merasakannya. Kamu tidak mencint**ku, Naya. Kamu hanya mencint** ide tentang memiliki seseorang yang sempurna sepertiku di sampingmu."
Aku tertegun. Kata-katanya terasa seperti sayatan tipis yang perih. Aku ingin membantah, ingin menyusun argumen logis yang biasa kugunakan untuk memenangkan debat, tapi lidahku kelu.
Bumi melihat jam tangannya, lalu berdiri. "Aku ada janji lain sepuluh menit lagi. Kurasa auditmu selesai di sini."
Ia baru saja akan melangkah pergi ketika aku melihat sesuatu yang tertinggal di atas meja. Sebuah gantungan kunci kecil berbentuk astronot yang sudah usang dan catnya terkelupas—hadiah ulang tahun dariku saat kami berusia sepuluh tahun—masih tergantung di kunci mobilnya.
Saat ia menyambar kunci itu dan beranjak pergi tanpa menoleh lagi, aku menyadari satu hal yang mengerikan. Bumi mungkin bersikap dingin seolah aku orang asing, tapi benda kecil itu menceritakan kisah yang berbeda.
Masalahnya, aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan: Bumi yang benar-benar sudah lupa, atau Bumi yang berpura-pura lupa dengan begitu sempurna. Dan saat aku melihatnya berjalan keluar pintu, aku baru sadar bahwa audit ini tidak akan semudah yang kubayangkan. Karena untuk pertama kalinya, bukan aku yang memegang kendali atas hasil akhirnya.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!