Cangkir kopi di depanku sudah mendingin, meninggalkan jejak lingkaran kecokelatan di pinggiran porselen putihnya. Aku telah memutar-mutar sedotan di dalam gelas air mineral hingga plastiknya lecet, sebuah kebiasaan gugup yang tidak bisa kuhilangkan meski aku sudah melatih napas panjang berkali-kali di toilet tadi.
Pintu kafe berdenting. Sosok pria dengan jaket denim pudar dan langkah kaki yang sangat kukenali ma**k ke dalam. Bumi. Dia terlihat sedikit lebih kurus dibanding terakhir kali aku melihatnyaβkapan itu? Enam bulan lalu? Atau setahun? Waktu seolah menjadi kabur jika menyangkut dirinya.
Dia menemukanku di pojok ruangan. Senyum tipis yang biasa ia berikan muncul, tapi tidak sampai ke matanya. "Naya," sapanya singkat sembari menarik kursi di hadapanku.
"Hai, Bum. Makasih sudah mau datang," ujarku, berusaha menjaga suaraku tetap stabil dan profesional. Aku merogoh tas, mengeluarkan sebuah map transparan berisi beberapa lembar kertas yang sudah kupersiapkan dengan rapi. Ini adalah 'kit' auditku.
Bumi menatap map itu, lalu menatapku dengan kening berkerut. "Kamu bilang ada hal penting yang mau dibicarakan soal 'masa depan'. Aku sempat berpikir ini soal a**ransi atau investasi bodong."
Aku berdehem, mencoba mengusir rasa canggung yang merayap di tengkuk. "Ini bukan soal investasi uang. Ini soal investasi emosional, Bum. Aku sedang melakukan sesuatu yang kusebut *Relationship Audit*."
Bumi terdiam. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di depan dada. "Audit? Seperti yang kamu lakukan di kantor untuk laporan keuangan?"
"Hampir sama," aku menjelaskan dengan nada yang sengaja dibuat analitis. "Aku akan berumur dua puluh lima sebentar lagi. Dan jujur saja, catatan asmaraku berantakan. Aku selalu gagal tanpa tahu di mana letak kesalahanku. Jadi, aku memutuskan untuk menemui semua orang yang pernah punya sejarah denganku. Meminta evaluasi jujur. Apa yang salah dariku? Kenapa hubungan itu berhenti? Aku butuh data itu supaya aku tidak mengulangi pola yang sama di masa depan."
Aku menyodorkan selembar kuesioner yang sudah kudesain sedemikian rupaβlengkap dengan skala satu sampai lima untuk komunikasi, komitmen, dan resolusi konflik.
Bumi tidak menyentuh kertas itu. Ia justru menatapku seolah aku baru saja berbicara dalam bahasa asing yang tidak ma**k akal. "Naya, kamu bercanda, kan?"
"Aku serius, Bum. Aku sudah menemui Pandu, Dimas, bahkan Revan. Hasilnya sangat mencerahkan. Aku jadi tahu kalau aku cenderung terlalu menuntut di awal hubungan danβ"
"Berhenti, Naya. C**up," potong Bumi. Suaranya rendah tapi tajam. Ia memijat pangkal hidungnya, ekspresi wajahnya berubah dari bingung menjadi campuran antara jengkel dan kasihan. "Kamu benar-benar menganggap hubungan manusia itu seperti neraca saldo? Kamu pikir kamu bisa memperbaiki perasaan dengan mengisi formulir?"
"Ini bukan cuma soal perasaan, ini soal pertumbuhan diri!" sahutku, mulai merasa tersinggung. "Aku bosan jadi orang yang selalu ditinggalkan tanpa penjelasan. Aku mau tahu kenapa kamu juga... kenapa kita dulu juga berakhir begitu saja."
Bumi tertawa, tapi suaranya kering. "Kita bahkan nggak pernah resmi pacaran, Naya. Kita itu sahabat yang hampir melewati batas, lalu tiba-tiba kamu mundur karena kamu sibuk menganalisis apakah aku 'cocok secara statistik' untuk masa depanmu. Dan sekarang kamu datang padaku, setelah menghilang berbulan-bulan, hanya untuk memintaku mengisi survei kepuasan pelanggan?"
"Bukan begitu maksudku, Bum. Aku butuh penutupan. Aku butuh *closure* sebelum aku ma**k ke fase hidup yang baru."
Bumi memajukan tubuhnya, menatapku lurus-lurus. Matanya yang biasanya hangat kini terasa sedingin es. "Kamu tahu apa yang kulihat sekarang? Aku melihat perempuan yang ketakutan setengah mati menghadapi kedewasaan. Kamu begitu terobsesi dengan kontrol sampai-sampai kamu menganggap cinta itu adalah masalah matematika yang harus dipecahkan."
"Aku cuma mau jadi lebih baik!" suaraku meninggi, memancing tatapan dari beberapa pengunjung kafe lain.
"Nggak, Naya. Kamu cuma mau merasa benar. Kamu mau mengaudit orang lain supaya kamu punya alasan untuk menyalahkan keadaan, atau sebaliknya, menyalahkan dirimu sendiri dengan cara yang sistematis supaya kamu merasa punya kendali," Bumi bangkit dari kursinya. Ia bahkan tidak menyentuh menu yang ada di meja. "Ide ini konyol. Benar-benar kekanak-kanakan. Kamu mau jadi dewasa di usia dua puluh lima? Dewasa itu artinya belajar hidup dengan ketidakpastian, bukan membawa map ke mana-mana untuk menanyai mantanmu tentang apa yang salah denganmu."
Aku terpaku, tanganku gemetar di atas meja. "Bumi, tolong. Kamu yang terakhir di daftarku. Kamu yang paling mengenalku."
Bumi menggeleng perlahan. "Justru karena aku mengenalmu, aku nggak akan berpartisipasi dalam keg***an ini. Aku nggak mau jadi bagian dari cara kamu melarikan diri dari kenyataan. Kalau kamu mau tahu apa yang salah, jangan lihat kertas-kertas itu. Berkacalah."
Bumi berbalik dan melangkah menuju pintu. Aku ingin mengejarnya, ingin berteriak bahwa dia egois karena tidak mau membantuku, tapi tenggorokanku terasa tersumbat. Map di hadapanku mendadak terasa seperti beban seberat beton.
Aku melihatnya keluar dari kafe, menghilang di balik kerumunan orang di trotoar. Untuk pertama kalinya sejak aku memulai misi ini, aku merasa auditku bukan sekadar mencari jawaban, tapi justru sedang menggali lubang yang lebih dalam. Dan yang paling menakutkan adalah, Bumi benar. Dia bukan hanya mantan di daftar surveiku; dia adalah satu-satunya orang yang jawabannya tidak sanggup kuhadapi jika tertuang dalam bentuk angka.
Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah notifikasi dari grup WhatsApp keluarga muncul: *"Naya, jangan lupa reservasi restoran untuk ulang tahunmu minggu depan. Mama sudah undang keluarga besar calon tunangan sepupumu. Jangan sampai kamu datang sendirian lagi ya, Sayang."*
Aku menatap layar ponsel itu dengan nanar. Satu nama tersisa di daftar auditku, satu nama yang belum tersentuh, dan satu-satunya orang yang baru saja menghancurkan seluruh logikaku. Jika Bumi menolak, apakah seluruh audit ini artinya sia-sia? Ataukah justru penolakannya adalah jawaban paling jujur yang selama ini kuhindari?
Aku mengambil pulpen, lalu perlahan menyilang nama Bumi di kertas itu dengan garis hitam yang tebal dan bergetar, hingga kertasnya nyaris robek. Namun, rasa sesak di dadaku tidak juga hilang. Justru sebaliknya, aku merasa seolah-olah baru saja mengunci pintu terakhir menuju jawaban yang sebenarnya kubutuhkan.
Lanjutkan Membaca Bab 13 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!