Langkah kakiku bergema pelan di atas lant** marmer galeri yang dingin, menciptakan irama yang kontras dengan detak jantungku yang berpacu liar. Bau cat minyak yang samar dan aroma pembersih ruangan yang steril memenuhi indra penciumanku. Di sekelilingku, orang-orang berpakaian rapi menyesap sampanye sambil berbisik di depan kanvas-kanvas abstrak, tetapi mataku hanya tertuju pada satu punggung lebar yang terbungkus kemeja hitam linen di ujung ruangan.
Bumi.
Dia berdiri diam di depan sebuah lukisan besar bertajuk *‘The Unspoken’*. Cahaya lampu sorot galeri jatuh tepat di atas kepalanya, menonjolkan garis rahangnya yang kini tampak lebih tegas dibandingkan lima tahun lalu. Aku menarik napas panjang, merapikan blazer yang mendadak terasa terlalu sempit, lalu melangkah mendekat.
“Analisis visualnya c**up mendalam, tapi komposisi warnanya terlalu melankolis untuk seleramu, kan?” suaraku keluar sedikit lebih gemetar dari yang kuharapkan.
Bumi tidak menoleh. Ia hanya mengembuskan napas panjang, seolah kehadiranku adalah sesuatu yang sudah ia duga namun tetap ia sesali. “Kamu benar-benar mengikuti aku sampai ke sini, Nay?”
“Aku butuh jawaban, Bumi. Dan kamu tidak membalas pesanku sejak di kafe kemarin,” balasku, berusaha menjaga nada suaraku tetap profesional, seolah-olah ini adalah pertemuan bisnis, bukan upaya putus asa untuk menutup lubang di masa laluku.
Bumi akhirnya berbalik. Matanya yang dulu selalu memancarkan kehangatan kini tampak seperti telaga yang tenang namun menyimpan badai di dasarnya. Ia menatapku lama, sebuah tatapan yang membuatku merasa seperti salah satu objek pameran yang sedang dikuliti maknanya.
“Audit,” gumamnya dengan nada mencela. “Kamu datang ke sini untuk melengkapi formulir evaluasimu, begitu? Mema**kkan aku ke dalam kolom-kolom spreadsheet milikmu?”
“Ini bukan sekadar spreadsheet!” aku membela diri, jari-jariku meremas tali tas tanganku kuat-kuat. “Aku hanya ingin tahu apa yang salah. Kita hampir menjadi sesuatu, Bumi. Lalu kamu pergi begitu saja. Tanpa pamit, tanpa alasan. Kamu adalah satu-satunya orang yang tidak bisa aku kategorikan dalam kegagalan asmaraku karena secara teknis... kita tidak pernah memulai.”
Bumi terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar pahit. Ia melangkah mendekat, menginvasi ruang pribadiku hingga aku bisa mencium aroma kayu cendana yang menjadi ciri khasnya. Ia tidak mengintimidasi, namun kehadirannya terasa begitu menyesakkan.
“Ayo bicara di luar,” ucapnya datar.
Ia tidak menunggu jawabanku. Bumi berjalan menuju pintu keluar darurat yang menuju ke balkon samping galeri. Aku mengikutinya dengan patuh, melewati kerumunan orang yang tidak peduli dengan drama yang sedang terjadi di antara kami.
Udara malam Jakarta yang lembap langsung menyergap saat kami tiba di balkon. Suara bising kendaraan di kejauhan menjadi latar belakang keheningan yang canggung di antara kami. Bumi bersandar pada pagar besi, memunggungi kerlip lampu kota.
“Kamu tanya apa yang salah, Naya?” Bumi memulai, suaranya kini lebih rendah, lebih tajam. “Kamu selalu bangga dengan betapa analitisnya dirimu. Kamu menghabiskan seluruh waktumu untuk mengaudit mantan-mantanmu, mencari kesalahan mereka, mencari di mana letak kebocoran sistemnya. Tapi pernahkah kamu bertanya pada dirimu sendiri tentang satu hal?”
Aku terdiam, menunggu kalimat selanjutnya dengan perasaan waswas.
“Dulu, saat aku bilang aku akan pindah ke Jogja untuk melanjutkan studiku, apa yang kamu lakukan?”
Aku mengerutkan kening, mencoba menggali ingatan itu. “Aku... aku mengucapkan selamat. Aku bilang itu kesempatan bagus untuk karier senimu.”
“Persis,” Bumi memotong dengan cepat. “Kamu memberikan jawaban paling logis, paling diplomatis, dan paling dingin yang pernah kudengar. Kamu melihatku berkemas, kamu melihatku menjauh selangkah demi selangkah, dan kamu hanya berdiri di sana dengan buku catatanmu, seolah-olah kepergianku hanyalah sebuah variabel yang memang sudah seharusnya terjadi.”
“Tapi kamu yang memutuskan untuk pergi!” seruku, emosi mulai merayap naik ke tenggorokanku. “Kamu tidak pernah memintaku untuk menunggumu. Kamu tidak pernah memberiku kepastian!”
Bumi melangkah maju, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa melihat pantulan diriku yang tampak kecil di matanya. “Kenapa harus aku yang selalu memulai, Naya? Kenapa harus aku yang meminta?”
Ia menarik napas tajam, ekspresinya berubah menjadi campuran antara amarah dan luka yang sudah lama dipendam. “Selama bertahun-tahun, aku menunggu satu tanda saja darimu. Satu kali saja kamu memintaku untuk tidak pergi. Satu kali saja kamu membuang semua logika bodohmu itu dan bilang kalau kamu butuh aku di sini. Tapi kamu tidak pernah melakukannya.”
Aku terpaku. Lidahku mendadak kelu. Pikiranku yang biasanya dipenuhi dengan argumen dan data kini kosong melompong.
“Kamu bilang kamu ingin penutupan?” Bumi tertawa hambar, matanya kini berkaca-kaca meski ia berusaha keras menyembunyikannya. “Penutupannya adalah ini: aku pergi karena aku lelah mengejar seseorang yang terlalu takut untuk terlihat butuh. Aku pergi karena aku sadar, bagimu, aku hanyalah salah satu proyek yang tidak c**up penting untuk dipertahankan jika risikonya adalah merusak rencana hidupmu yang sempurna.”
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada tamparan fisik mana pun. Aku ingin membantah, ingin mengatakan bahwa aku hanya takut ditolak, bahwa aku hanya ingin menjaga harga diriku. Namun, kata-kata itu tertahan di kerongkongan.
“Kamu sibuk mengaudit orang lain, Nay,” lanjut Bumi, suaranya kini nyaris berupa bisikan yang menyakitkan. “Tapi kamu lupa mengaudit ketakutanmu sendiri. Sekarang katakan padaku, siapa yang sebenarnya meninggalkan siapa?”
Bumi menatapku sekali lagi, sebuah tatapan yang seolah merobek seluruh lapisan pertahanan yang kubangun selama bertahun-tahun. Sebelum aku sempat bersuara, ia berbalik dan berjalan ma**k kembali ke galeri, meninggalkanku sendirian di tengah kegelapan balkon, dengan daftar pertanyaan yang kini terasa sia-sia dan kebenaran pahit yang mulai merayap ma**k ke dalam hatiku.
Aku menatap tanganku yang gemetar. Untuk pertama kalinya dalam misi 'Relationship Audit' ini, aku tidak menemukan kesalahan pada subjekku. Kesalahan itu, dengan sangat jelas dan menyakitkan, terpampang pada pantulan diriku di pintu kaca yang tertutup.
Apakah aku yang selama ini menjadi penyebab semua kesendirian ini?
Pikiranku berkecamuk saat aku menyadari bahwa Bumi tidak hanya sekadar 'hampir pacar'. Dia adalah satu-satunya orang yang benar-benar memahaminya, dan aku telah membiarkannya pergi hanya demi sebuah konsep kesempurnaan yang semu. Namun, saat aku baru saja hendak mengejarnya, ponselku bergetar hebat di saku.
Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal. Isinya hanya satu kalimat pendek yang membuat jantungku seolah berhenti berdetak:
*“Kamu pikir Bumi adalah satu-satunya rahasia yang belum kamu pecahkan? Coba cek lagi daftar mantamu yang kedua, Naya. Ada sesuatu yang tidak mereka ceritakan padamu.”*
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!