Aroma hujan yang membasahi aspal selalu punya cara untuk menarik paksa kesadaranku kembali ke masa lima tahun lalu. Saat itu, aku baru berusia sembilan belas tahun, usia di mana aku merasa dunia adalah milikku, namun hatiku sepenuhnya menjadi milik seorang laki-laki yang duduk di bangku taman sebelahku.
Malam itu, udara di Bandung terasa lebih menggigit dari biasanya. Kami baru saja selesai menonton pertunjukan teater kampus yang membosankan, namun tak satu pun dari kami yang mengeluh. Bagi kami, alasan untuk tetap berdua jauh lebih penting daripada kualitas naskah yang kami tonton.
Bumi duduk dengan punggung sedikit membungkuk, memainkan ujung jaket denimnya yang sudah pudar. Cahaya lampu taman yang kekuningan menimpa wajahnya, menonjolkan garis rahangnya yang tegas namun menyimpan kelembutan yang selalu berhasil meluluhkan egoku.
"Nay," suaranya memecah keheningan, berat dan serak.
Aku menoleh, jantungku berdegup kencang. "Ya?"
"Aku sudah terima emailnya. Aku berangkat ke Melbourne bulan depan," ucapnya tanpa menatapku.
Duniaku seolah berhenti berputar sejenak. Aku tahu dia mendaftar program pertukaran pelajar itu, aku bahkan membantunya menyusun esai motivasi. Namun, mendengar kenyataan bahwa dia akan benar-benar pergi, ribuan kilometer jauhnya, membuat rongga dadaku mendadak kosong.
"Itu... berita bagus, kan?" Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri, tipis dan bergetar. "Selamat, Bum."
Bumi akhirnya menoleh. Matanya mencari sesuatu di mataku, sebuah pengakuan atau mungkin sebuah permintaan agar dia tetap tinggal. Namun, ketakutanku akan penolakan lebih besar daripada keinginan untuk jujur. Aku hanya tersenyum tipis, jenis senyum yang kupakai saat aku ingin meyakinkan dunia bahwa aku baik-baik saja.
Tepat saat itu, ponsel Bumi bergetar di atas bangku kayu di antara kami. Sebuah nama muncul di layar: *Clara*. Aku mengenal nama itu. Clara adalah mahasiswi cantik dari jurusan sastra yang belakangan sering terlihat bersama Bumi di perpustakaan.
Bumi tidak segera mengangkatnya, tapi aku melihat keraguan di matanya. Rasa cemburu yang tajam menusuk ulu hatiku.
"Angkat saja, mungkin penting," kataku, nada suaraku mendadak dingin.
Bumi menghela napas, lalu mematikan pangg***nnya. "Hanya urusan organisasi, Nay."
"Oh ya? Sampai menelepon jam sepuluh malam?" Aku tertawa hambar, sebuah mekanisme pertahanan diri yang sangat aku sesali sekarang. "Mungkin dia mau ikut merayakan keberangkatanmu. Kalian terlihat sangat cocok akhir-akhir ini."
Wajah Bumi mengeras. "Apa maksudmu, Nay? Kamu tahu aku dan Clara cuma teman."
"Teman yang saling mengirim pesan sampai pagi? Teman yang saling meminjamkan buku catatan dengan selipan memo?" Aku berdiri, rasa sakit ini terlalu hebat untuk ditanggung sambil duduk diam. "Sudahlah, Bum. Kamu tidak perlu merasa terbebani denganku sebelum kamu pergi. Kita kan memang cuma... sahabat."
Kata 'sahabat' itu keluar seperti sembilu. Aku ingin dia membantahnya. Aku ingin dia menarik tanganku, mengatakan bahwa Clara tidak berarti apa-apa, dan bahwa dia mencint**ku.
Bumi ikut berdiri. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikanβcampuran antara kecewa dan marah. "Cuma sahabat? Jadi setelah semua ini, itu yang kamu pikirkan?"
"Lalu apa lagi?" tantangku, meski mataku mulai memanas. "Kamu mau pergi, Bum. Kamu mau mengejar impianmu, dan itu bagus. Jangan buat ini jadi rumit hanya karena kamu merasa kasihan padaku."
"Kasihan?" Bumi melangkah maju, mendekat hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang bercampur bau hujan. "Kamu pikir aku menghabiskan setiap malam minggu di depan rumahmu karena kasihan? Kamu pikir aku menunggumu selesai latihan tari sampai jam sembilan malam karena kasihan?"
Dia berhenti sejenak, napasnya memburu. Aku menunggu kata-kata itu. Kata-kata yang akan mengubah segalanya. Namun, sebelum Bumi sempat mengucapkannya, ponselnya kembali berdering. Kali ini dia menjawabnya dengan kasar.
"Halo? Iya, Clara. Aku ke sana sekarang. Tunggu di gerbang."
Dia mematikan telepon, lalu menatapku untuk terakhir kalinya malam itu. "Kamu benar, Nay. Mungkin memang sebaiknya begini. Aku tidak mau memaksakan sesuatu yang ternyata cuma aku yang merasakannya."
Tanpa kata pamit yang layak, Bumi berbalik dan berjalan menembus gerimis yang mulai menderas. Aku berdiri mematung, membiarkan butiran air hujan menyamarkan air mata yang akhirnya jatuh. Aku tidak mengejarnya. Aku terlalu gengsi untuk mengakui bahwa aku salah paham, dan aku terlalu takut untuk terlihat lemah.
Malam itu, kami berdua memilih bungkam. Kami memilih untuk saling menyakiti dengan a**msi masing-masing. Dia pergi ke Melbourne sebulan kemudian tanpa ada kata perpisahan dariku, dan aku menghabiskan tahun-tahun berikutnya dengan mengunci rapat pintu hatiku, membangun tembok tinggi yang kusebut sebagai 'perfeksionisme'.
Kembali ke masa kini, di kamarku yang sepi, aku menatap daftar nama mantan kekasih yang sudah kucoret satu per satu. Hanya tersisa satu nama di bagian paling bawah, nama yang tidak pernah benar-benar menjadi mantan, tapi luka yang ditinggalkannya jauh lebih dalam dari siapapun.
Bumi.
Telepon genggamku berdenting. Sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal, namun aku tahu siapa pemiliknya bahkan sebelum aku membuka pesannya.
*Aku di Jakarta. Bisa kita bicara soal apa yang sebenarnya terjadi malam itu di taman?*
Tanganku gemetar. Lima tahun aku menanti kejelasan ini, namun saat kejelasan itu berada di depan mata, aku baru menyadari satu hal yang mengerikan: bagaimana jika selama ini, akulah yang menjadi tokoh antagonis dalam ceritaku sendiri?
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!