Dinding kamarku terasa seolah-olah perlahan menyempit, menekan sisa-sisa oksigen yang sanggup kuhirup. Kepalaku berdenyut seirama dengan detak jantung yang tak beraturan, sebuah simfoni rasa sakit yang dimainkan oleh tubuhku sebagai protes atas obsesi g*** bernama *Relationship Audit* ini. Selimut tebal yang membungkusku terasa seberat timah, namun di baliknya, tubuhku justru menggigil hebat seolah sedang berada di tengah badai salju.
Aku mengutuk diriku sendiri. Mencatat semua kesalahan di masa lalu ternyata lebih melelahkan daripada lembur akhir bulan di kantor audit. Otakku seperti mesin yang dipaksa bekerja melampaui kapasitas, memproses fragmen memori dari mantan-mantan kekasih yang kini hanya menyisakan residu pahit di lidah.
Suara bel apartemen berbunyi, memecah kesunyian yang mencekam. Aku mengerang, menenggelamkan wajah ke bantal yang sudah lembap oleh keringat dingin. *Tolong, jangan sekarang,* batinku. Aku tidak punya energi untuk menjadi Kanaya yang sopan atau Kanaya yang tegar. Namun, bel itu terus berbunyi, disusul oleh ketukan pintu yang tidak sabaran.
Dengan tenaga yang tersisa, aku menyeret kakiku menuju pintu. Pandanganku berkunang-kunang, membuat ubin putih di bawah kakiku tampak bergoyang seperti gelombang laut. Saat daun pintu terbuka, sosok tinggi dengan jaket denim yang sangat kukenali berdiri di sana.
Bumi.
Dia tidak membawa bunga atau hadiah romantis. Di tangannya hanya ada sebuah kantong plastik putih berisi kotak bubur dan obat-obatan dari apotek. Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak keruh oleh guratan kecemasan yang coba ia sembunyikan di balik alisnya yang bertaut.
"Naya? Kamu pucat sekali," suaranya rendah, ada getaran yang jarang kudengar sebelumnya.
Aku mencoba membalas, tapi yang keluar hanya bisikan parau yang hilang ditelan udara. "Bumi... ngapain di sini?"
Tanpa menunggu izin, ia ma**k dan meletakkan punggung tangannya di keningku. Sentuhannya dinginβatau mungkin kulitku yang terlalu panasβdan untuk sesaat, aku merasa seluruh beban di bahuku luruh. Ada sesuatu yang sangat akrab dari cara ia menyentuhku; sebuah memori tentang masa kecil saat ia menjagaku ketika aku jatuh dari sepeda.
"Tante Maya telepon aku. Katanya kamu nggak angkat telepon dari pagi," Bumi menggiringku kembali ke tempat tidur seolah aku adalah porselen retak yang hampir pecah. "Duduk, Nay. Kamu keras kepala banget, ya? Sudah tahu badan nggak enak, masih saja mau sok kuat."
Aku hanya bisa pasrah saat dia mengatur bantal di belakang punggungku. Aku memperhatikan gerakannya yang cekatan saat ia membuka bungkus bubur ayam. Uap panas mengepul, membawa aroma gurih yang biasanya menggugah selera, tapi sekarang malah membuat perutku mual.
"Makan sedikit. Supaya bisa minum obat," perintahnya, nada suaranya lembut tapi tidak menerima penolakan.
"Aku nggak lapar," gumamku, memalingkan wajah.
Bumi menghela napas panjang. Ia duduk di pinggir tempat tidur, jarak yang sangat dekat hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang bercampur dengan bau hujan dari luar. "Nay, satu suap saja. Demi aku?"
Permintaan itu seperti pukulan telak di ulu hati. *Demi aku.* Kata-kata itu pernah menjadi mantra kami dulu, sebelum ia memutuskan untuk menghilang dan membiarkanku mempertanyakan harga diriku selama bertahun-tahun. Aku menoleh padanya, menatap matanya yang berwarna cokelat gelap. Di sana, aku melihat sesuatu yang selama ini ia kunci rapat-rapat: rasa bersalah dan... kerinduan?
Aku menerima suapan pertamanya. Rasanya hambar, tapi kehangatannya membantu meredakan gigilku. Kami terdiam untuk waktu yang lama, hanya suara sendok yang beradu dengan plastik wadah bubur.
"Kenapa kamu masih peduli, Bumi?" tanyaku akhirnya, setelah suapan kelima. Pertanyaan itu lolos begitu saja sebelum aku sempat menyaringnya. "Setelah semua yang terjadi... setelah kamu pergi tanpa pamit..."
Tangan Bumi yang memegang sendok berhenti di udara. Ia menunduk, menatap bubur yang tinggal separuh. Rahangnya mengeras, sebuah pertanda bahwa ia sedang bergelut dengan dinding-dinding pertahanan yang ia bangun dengan sangat rapi di sekeliling hatinya.
"Aku nggak pernah benar-benar pergi, Nay," bisiknya, hampir tak terdengar. "Aku cuma... nggak tahu cara untuk tetap tinggal tanpa melukaimu lebih jauh lagi."
Luka yang ia bicarakan terasa nyata di ruangan ini. Aku ingin meraih tangannya, menanyakan apa maksudnya, tapi ketakutan itu kembali muncul. Ketakutan bahwa jika aku terlalu berharap, penolakan yang akan datang nanti akan menghancurkanku lebih parah daripada kegagalan-kegagalan dengan mantan kekasihku sebelumnya.
Bumi menaruh wadah bubur di nakas, lalu menatapku dengan tatapan yang sangat intens, seolah ia sedang mencoba membaca seluruh isi kepalaku. Ia mengulurkan tangan, jemarinya membelai pelan anak rambut yang menempel di pipiku yang panas. Sentuhan itu sangat hati-hati, seolah ia takut aku akan menghilang jika ia menekan terlalu kuat.
"Audit ini... apa kamu benar-benar mencari jawaban, atau kamu cuma mencari cara untuk menyalahkan dirimu sendiri lagi?" tanyanya lembut.
Aku memejamkan mata, membiarkan sentuhannya mengirimkan sinyal aneh ke seluruh sarafku. "Aku cuma mau tahu kenapa nggak ada yang mau bertahan dariku, Mi. Kenapa aku selalu jadi orang yang ditinggalkan di garis *finish*."
"Kamu salah, Nay," suara Bumi kini berada sangat dekat di telingaku, napasnya terasa hangat di kulitku. "Kadang orang pergi bukan karena kamu kurang. Kadang mereka pergi karena mereka terlalu takut untuk melihat betapa berharganya kamu sebenarnya."
Dinding di mata Bumi benar-benar runtuh sekarang. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, aku melihat Bumi yang kukenalβBumi yang tidak punya filter, Bumi yang mencint**ku tanpa syarat. Namun, tepat saat aku merasa jarak di antara kami akan terkikis habis, ponsel Bumi di atas meja bergetar hebat.
Nama yang muncul di layar membuat atmosfer di kamar itu mendadak membeku. Sebuah nama yang menjadi pengingat pahit bahwa perjalanan auditku belum selesai, dan Bumi masih menyimpan rahasia yang mungkin lebih menyakitkan daripada kepergiannya dulu.
Bumi menarik tangannya dengan cepat, seolah baru saja tersengat listrik. Ia menatap ponselnya dengan ekspresi yang sulit diartikanβcampuran antara panik dan penyesalan.
"Siapa, Mi?" tanyaku dengan suara bergetar, firasat buruk mulai merayapi tengkukku.
Bumi tidak menjawab. Ia segera berdiri, memunggungiku, dan merapikan jaketnya dengan gerakan yang kaku. Perubahan sikapnya yang drastis membuat jantungku kembali berdenyut sakit, bukan karena demam, tapi karena ketakutan yang lebih dalam.
"Aku harus pergi sebentar, Nay. Obatnya jangan lupa diminum," ucapnya tanpa menoleh, suaranya kembali menjadi dingin dan berjarak.
Sebelum aku sempat mencegah, ia sudah melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang lebih berat dari sebelumnya. Aku menatap layar ponselku yang gelap, menyadari bahwa satu nama terakhir di daftar auditku bukan hanya tentang masa lalu, tapi tentang rahasia yang baru saja dimulai.
Lanjutkan Membaca Bab 16 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!