Angin malam di balkon apartemen Bumi terasa lebih tajam dari biasanya, menusuk hingga ke balik sweter rajut yang kukenakan. Di bawah sana, Jakarta tampak seperti hamparan sirkuit elektronik dengan lampu-lampu kendaraan yang merayap pelan. Namun, perhatianku tidak tertuju pada pemandangan itu. Fokusku sepenuhnya tertuju pada laki-laki di sampingku yang tengah memutar-mutar gelas kopi yang sudah mendingin di tangannya.
Bumi. Nama terakhir di daftar 'Relationship Audit'-ku, meski secara teknis kami tidak pernah punya label resmi.
"Kamu sudah menemui mereka semua?" suara Bumi memecah keheningan, rendah dan serak.
Aku mengangguk, jemariku gelisah memainkan ujung lengan baju. "Semua. Dari mulai Kevin yang ternyata masih menyimpan dendam soal kucing, sampai Aris yang sudah bertunangan. Aku butuh jawaban, Bumi. Aku butuh tahu di mana letak kerusakannya supaya aku nggak membawa rongsokan yang sama ke usiaku yang ke-25."
Bumi terkekeh hambar, tapi matanya tidak ikut tertawa. Ia menatap lurus ke depan, ke arah gedung-gedung pencakar langit yang seolah menantang langit malam. "Kamu dan daftar-daftarmu. Kamu dan obsesimu untuk memperbaiki segalanya secara analitis."
"Memangnya apa yang salah dengan ingin menjadi lebih baik?" sahutku cepat, nada suaraku naik satu oktav. "Aku nggak mau gagal lagi. Aku nggak mau bangun di usia tiga puluh dan menyadari aku sendirian hanya karena aku nggak tahu cara menjaga seseorang untuk tetap tinggal."
Bumi meletakkan gelasnya di atas pagar besi balkon dengan denting halus. Ia berbalik sepenuhnya menghadapku. Cahaya lampu dari dalam ruangan menyinari separuh wajahnya, menciptakan bayangan tegas yang menonjolkan rahangnya yang mengeras.
"Masalahnya, Nay, kadang kamu terlalu sibuk mengaudit masa depan sampai kamu lupa bernapas di masa sekarang," ucapnya pelan.
"Lalu kenapa kamu pergi?" Tanyaku langsung pada intinya. Pertanyaan yang sudah tertahan di tenggorokanku selama hampir dua tahun. "Kita hampir sampai di sana, Bumi. Satu langkah lagi, dan kita bukan lagi sekadar 'sahabat'. Tapi kamu hilang. Tanpa pesan, tanpa pamit. Kamu cuma... menguap."
Bumi menarik napas panjang, bahunya merosot seolah beban yang ia pikul selama ini tiba-tiba menjadi dua kali lebih berat. Ia mengalihkan pandangan, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Karena aku takut, Nay," akunya. Kalimat itu keluar seperti bisikan yang menyakitkan.
"Takut apa? Kita sudah kenal sejak kecil. Apa yang perlu ditakutkan?"
"Aku takut nggak bisa jadi apa yang kamu butuhkan," Bumi menatapku kembali, kali ini dengan intensitas yang membuat jantungku berdegup tidak beraturan. "Aku melihatmu, Nay. Aku melihat ambisimu, daftar rencana lima tahunmu, keinginanmu untuk punya pasangan yang 'mapan secara emosional dan finansial'βpoin nomor empat di jurnalmu yang pernah aku baca tanpa sengaja. Saat itu, aku cuma laki-laki yang baru merintis usaha, yang bahkan nggak tahu apa bulan depan aku bisa bayar sewa studio."
Aku terpaku. Jurnal itu. Catatan konyol yang kubuat saat aku sedang g***-g***nya mengatur hidup.
"Kamu punya standar yang sangat tinggi untuk dirimu sendiri, dan secara otomatis, kamu juga menerapkannya padaku," lanjut Bumi. Suaranya kini lebih stabil, tapi penuh dengan luka yang baru saja ia buka. "Tiap kali kita bicara soal masa depan, aku merasa seperti sedang menjalani wawancara kerja. Aku merasa kalau aku melakukan satu kesalahan kecil saja, aku akan ma**k ke dalam kolom 'gagal' di auditmu. Aku merasa nggak c**up baik untuk bersanding dengan ambisimu yang setinggi langit itu."
"Tapi aku nggak pernah bilang begitu, Bumi! Aku mendukungmu," bantahku, meski ada bagian dari diriku yang merasa tertampar.
"Kamu nggak perlu bilang. Cara kamu melihatku saat aku bilang aku ingin mengambil risiko untuk bisnisku, cara kamu langsung membuatkan simulasi kerugian di atas kertas tisu... itu mencekikku, Nay. Aku merasa kalau aku gagal, aku bukan cuma kehilangan bisnis, tapi aku juga akan kehilangan kamu karena aku nggak lagi 'layak' menurut standarmu."
Keheningan kembali jatuh, kali ini lebih berat dan menyesakkan. Aku menatap ujung sepatuku, merasakan rasa panas menjalar ke mataku. Selama ini aku pikir aku adalah pihak yang ditinggalkan tanpa alasan, korban dari ketidakpastian seorang laki-laki. Aku tidak pernah sadar bahwa 'perfeksionismu' yang kupakai sebagai perisai justru menjadi pedang yang melukai orang paling dekat denganku.
Analitis. Terorganisir. Keras kepala. Sifat-sifat yang kupikir adalah kelebihanku, ternyata adalah jeruji besi bagi Bumi.
"Jadi kamu memilih pergi daripada bicara jujur?" suaraku bergetar.
"Aku butuh membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa berdiri tanpa perlu divalidasi oleh daftar 'layak atau tidak layak'-mu," Bumi melangkah satu tindak lebih dekat. Wangi parfum kayunya yang khas menyeruak, memicu memori-memori yang selama ini kucoba kubur. "Tapi aku salah. Ternyata pergi darimu nggak membuatku merasa lebih hebat. Justru itu hal paling pengecut yang pernah kulakukan."
Aku mendongak, menatap matanya yang kini berkaca-kaca. "Kenapa baru bilang sekarang?"
Bumi mengulurkan tangan, ragu sejenak sebelum akhirnya jemarinya menyentuh helai rambut yang tertiup angin ke wajahku. Sentuhannya dingin, tapi mengirimkan gelenyar listrik yang sudah lama tidak kurasakan.
"Karena sekarang aku sudah nggak peduli lagi dengan daftar itu, Nay. Aku cuma peduli sama kamu. Tapi pertanyaannya..." ia menggantung kalimatnya, ibu jarinya mengusap pipiku pelan. "Apakah di dalam auditmu yang sekarang, masih ada ruang untuk seseorang yang pernah merusak rencanamu?"
Aku terdiam. Lidahku kelu. Semua jawaban logis yang biasanya tersusun rapi di kepalaku mendadak berhamburan. Saat aku hendak membuka mulut untuk membalasnya, ponsel di saku mantelku bergetar hebat.
Aku merogohnya dengan tangan gemetar. Sebuah pesan ma**k dari ibuku.
*Naya, kamu di mana? Tante Widya dan anaknya, Pandu, sudah sampai di rumah. Jangan bilang kamu lupa soal makan malam perkenalan ini. Pulang sekarang.*
Aku menatap layar ponsel, lalu beralih menatap Bumi yang masih menungguku dengan tatapan penuh luka dan harapan. Hatiku seperti ditarik ke dua arah yang berlawanan. Di satu sisi, ada masa lalu yang baru saja terbuka lukanya, dan di sisi lain, ada masa depan 'ideal' yang selama ini kukejar dan kini sudah menungguku di ruang tamu rumah.
"Bumi, aku..." kalimatku terputus.
Bumi menarik tangannya perlahan saat melihat reaksiku. Senyum tipis yang pahit muncul di bibirnya. "Sepertinya ada jadwal lain yang lebih penting ya, Nay?"
Aku menatapnya dengan perasaan campur aduk, menyadari bahwa penutupan yang kucari selama ini mungkin bukan berupa jawaban "mengapa", melainkan sebuah pilihan yang jauh lebih sulit: melepaskan kendali atas hidupku, atau kehilangan Bumi untuk kedua kalinya.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!