Layar laptop di hadapanku berpendar redup, kontras dengan kegelapan kamar yang hanya ditemani lampu meja berwarna kuning temaram. Jam dinding sudah menunjukkan pukul dua pagi. Di samping *touchpad*, sebuah cangkir kopi yang sudah dingin meninggalkan noda melingkar di atas meja kayu. Leherku kaku, punggungku terasa seperti ditarik beban berat, tapi jemariku menolak untuk berhenti mengetik.
Aku sedang berada di garis finis.
Di layar, sebuah tabel Excel yang sangat rapi—kebanggaanku sekaligus sumber sakit kepalaku—terpampang lebar. Judul filenya: *Laporan Akhir Audit Hubungan – Kanaya Putri*. Aku telah menghabiskan berminggu-minggu menemui hantu-hantu dari masa laluku. Bara yang arogan, Yoga yang terlalu sant**, hingga Dimas yang membuatku merasa seperti pilihan kedua. Semua data sudah ma**k. Semua evaluasi sudah ditabulasikan.
Aku menggerakkan kursor, menggulir kolom demi kolom.
*Bara: Naya terlalu menuntut kesempurnaan hingga aku merasa tidak pernah c**up.*
*Yoga: Naya selalu ingin merencanakan hidupku, padahal aku hanya ingin menjalani hari.*
*Dimas: Dia mencint**ku bukan karena siapa aku, tapi karena status yang kubawa.*
Aku menarik napas panjang, membiarkan udara dingin AC memenuhi paru-paruku yang sesak. Mataku mulai pedas saat aku beralih ke kolom paling ujung: *Analisis Pola*. Di sana, aku harus merangkum benang merah dari semua kegagalan ini. Aku mengharapkan sebuah jawaban teknis, sesuatu yang bisa kuperbaiki dengan mengikuti seminar pengembangan diri atau membaca buku panduan psikologi populer.
Namun, saat aku melihat rangkuman jawaban mereka satu per satu, jemariku gemetar di atas papan ketik. Aku tidak menemukan kesalahan mereka. Aku justru melihat wajahku sendiri yang terpantul di layar gelap saat layar tersebut beristirahat sejenak.
"Bukan mereka," bisikku pelan pada kesunyian kamar. "Ini bukan tentang mereka."
Aku mulai mengetik dengan cepat, seolah-olah jika aku tidak segera mengeluarkannya, kebenaran itu akan membakar kepalaku.
*Kesimpulan Utama: Kanaya Putri tidak mencari pasangan. Kanaya Putri mencari tambal sulam.*
Aku berhenti sebentar, menatap kalimat itu dengan ngeri. Aku teringat bagaimana aku mendekati Bara karena aku merasa rendah diri dengan karierku; aku butuh seseorang yang tampak hebat agar aku ikut merasa hebat. Aku teringat bagaimana aku memaksakan Yoga untuk menjadi sosok stabil karena aku sendiri merasa goyah dan takut akan masa depan.
Aku memperlakukan pria-pria ini seperti auditor yang sedang memeriksa neraca yang tidak seimbang. Aku mendekati mereka bukan untuk berbagi hidup, melainkan untuk meminta mereka mengisi lubang-lubang di dalam diriku yang malas kuperbaiki sendiri. Aku ingin divalidasi, aku ingin diamankan, aku ingin "diselesaikan".
Air mata pertama jatuh tanpa permisi, mendarat tepat di atas tombol 'Enter'.
"Bodoh," makiku pada diri sendiri. Suaraku serak, pecah di tengah ruangan yang bisu.
Aku selama ini merasa paling dewasa, paling logis, dan paling siap menuju usia 25 tahun. Aku merasa selangkah lebih maju karena melakukan 'audit' ini. Tapi kenyataannya? Aku hanyalah seorang pengecut yang menggunakan orang lain sebagai tameng untuk menghindari rasa sepi dan ketidakberdayaan yang kumiliki. Aku menuntut mereka menjadi versi terbaik, sementara aku sendiri menolak untuk sekadar berdamai dengan kekuranganku.
Aku menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Isak tangisku tertahan di tenggorokan. Rasa malu yang luar biasa merayap naik. Semua evaluasi jujur dari para mantan itu bukan serangan terhadap egoku, melainkan cermin yang selama ini kututup kain hitam.
Aku meraih ponsel yang tergeletak di samping laptop. Layarnya menyala, menampilkan *wallpaper* foto masa kecilku bersama seorang laki-laki di bawah pohon mangga belakang rumah. Bumi.
Daftar auditku hampir selesai. Hanya tersisa satu nama. Satu nama yang tidak pernah benar-benar menjadi 'mantan' karena kami tidak pernah memiliki status. Satu nama yang selama sepuluh tahun terakhir ini menjadi lubang terbesar dalam hidupku.
Jika hubunganku dengan Bara, Yoga, dan Dimas adalah upaya untuk mencari tambal sulam, lalu apa hubunganku dengan Bumi? Apakah aku mengejarnya sekarang karena aku benar-benar merindukannya, atau karena aku hanya butuh seseorang untuk menyelamatkanku dari krisis usia 25 ini?
Aku mengusap layar ponsel, tepat di wajah Bumi yang sedang tertawa lebar. Dia menghilang tanpa kata tepat saat aku paling membutuhkannya dulu. Dan sekarang, setelah aku menyadari pola busukku sendiri, aku takut. Aku takut jika aku menemui Bumi, aku hanya akan melakukan hal yang sama: menjadikannya alat untuk melengkapi kekosonganku.
Tanganku bergerak menuju folder foto yang tersembunyi. Di sana ada satu tangkapan layar alamat sebuah kafe di pinggiran kota, tempat yang menurut kabar burung, sering dikunjungi Bumi belakangan ini.
Aku harus mengakhiri audit ini. Bukan untuk mendapatkan nilai 'A' dalam kehidupan asmaraku, tapi untuk melihat apakah aku bisa berdiri di hadapan seseorang tanpa meminta mereka menjadi penopangku.
"Satu lagi," gumamku sambil menghapus air mata dengan punggung tangan. "Hanya satu lagi, Nay. Dan kali ini, jangan minta dia menyelamatkanmu."
Aku menutup laptop dengan bunyi *klik* yang tajam, memutus aliran cahaya biru yang menyiksa mataku. Kamar kini benar-benar gelap, menyisakan keheningan yang mencekam. Namun, di balik kegelapan itu, ada getaran di sakuku.
Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal.
*Naya? Ini Bumi. Bisa kita bicara besok?*
Jantungku seolah berhenti berdetak. Dunia yang tadinya sunyi mendadak berdengung keras di telingaku. Dia yang lebih dulu mencariku. Sebelum audit ini kututup, hantu yang paling ingin kuhindari—sekaligus paling kunantikan—justru mengetuk pintu lebih dulu.
Apakah ini penutup yang kucari, atau justru awal dari kehancuran yang lebih besar?
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!