Angka dua dan lima itu melayang di udara, terbuat dari foil emas yang memantulkan cahaya lampu gantung di kafe mungil ini. Seandainya ini terjadi tiga bulan lalu, Naya pasti sudah mengalami serangan panik. Ia akan menatap balon-balon itu sebagai hitung mundur menuju kegagalan total sebuah eksistensi wanita. Namun malam ini, saat ia menyesap cokelat panasnya, Naya hanya melihatnya sebagai... angka. Hanya sebuah koordinat dalam peta hidupnya yang masih sangat panjang.
Suasana riuh rendah di sekelilingnya adalah suara yang ia butuhkan. Tidak ada pesta pora yang berlebihan, hanya ada Sarah, beberapa teman kantor yang paling dekat, dan sepupu-sepupunya yang sedari tadi sibuk berebut potongan red velvet cake terakhir.
"Naya, *make a wish!*" seru Sarah sambil menyodorkan lilin kecil yang menyala di atas sepotong kue.
Naya memejamkan mata. Dulu, doanya selalu spesifik: *Berikan aku pendamping sebelum aku tua. Jangan biarkan aku jadi jomblo abadi.* Tapi malam ini, di balik kelopak matanya yang tertutup, Naya hanya membisikkan satu hal: *Terima kasih sudah membawaku sampai di sini. Aku siap untuk apa pun yang datang.*
Saat ia meniup lilin itu, tepuk tangan riuh memenuhi sudut kafe. Naya tersenyum lebar, merasakan kehangatan yang tulus merambat di dadanya. Audit itu sudah selesai. Folder di laptopnya yang berisi tabel excel 'Relationship Audit' sudah ia pindahkan ke *recycle bin* dua hari lalu. Ia tidak butuh lagi validasi dari para mantan untuk tahu siapa dirinya. Ia bukan lagi Naya yang takut pada bayang-bayangnya sendiri.
Namun, saat ia kembali duduk dan menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, matanya secara otomatis bergerak ke arah pintu kaca kafe. Setiap kali bel di atas pintu berdenting, jantungnya melonjak kecil, lalu merosot kembali ke tempat semula saat melihat yang datang adalah orang asing.
Bumi belum datang.
"Masih menunggu?" bisik Sarah, duduk di sampingnya sambil memberikan kotak kado kecil berwarna biru.
Naya mencoba tertawa kecil, meski terdengar agak dipaksakan. "Aku nggak tahu apa aku masih berhak menunggu, Sar. Dia kan cuma bilang 'nanti kita bicara lagi'. Dia nggak janji bakal datang malam ini."
Sarah menggenggam tangan Naya. "Kamu sudah mengirim alamatnya?"
"Sudah. Tadi siang. Hanya dibaca," Naya menatap ponselnya yang tergeletak pasif di atas meja. Layarnya gelap, seolah mengejek harapannya yang masih menyala redup.
Jam di dinding kafe menunjukkan pukul sepuluh malam. Teman-temannya mulai berpamitan satu per satu. Pelukan hangat, ucapan selamat, dan tawa yang mulai memudar meninggalkan keheningan yang mulai terasa berat. Naya mencoba tetap tenang, merapikan beberapa pita kado yang berserakan, namun tangannya mulai sedikit gemetar.
Apakah ia terlambat? Apakah semua perjalanannya menemui para mantan justru membuatnya kehilangan orang yang paling berharga? Ia terlalu sibuk mencari penutupan di masa lalu sampai lupa membangun jembatan untuk masa depan yang ada di depan mata.
"Mungkin dia sibuk di studio," Naya bergumam pada dirinya sendiri, mencoba memaklumi. "Atau mungkin... dia memang sudah memutuskan untuk tetap menjadi bagian dari masa lalu."
"Naya, jangan mulai lagi," potong Sarah lembut. "Kamu bilang kamu nggak mau mendikte perasaan orang lain lagi, kan?"
Naya menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai yang mulai terbentuk di lambungnya. "Iya. Aku hanya... aku cuma pengen dia ada di sini saat aku resmi menginjak angka dua puluh lima ini, Sar. Aku ingin dia melihat kalau aku sudah 'sembuh'."
Saat kafe mulai sepi dan para pelayan mulai membalik tanda *Open* menjadi *Closed*, harapan Naya perlahan-luh luruh seperti abu pembakaran. Ia membantu Sarah membawa beberapa tas belanjaan ke arah mobil. Udara malam Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya, menyusup di antara serat-serat kardigannya yang tipis.
"Aku antar pulang ya?" tawar Sarah saat mereka sampai di depan mobil.
Naya menggeleng pelan. "Aku mau jalan sebentar ke taman depan. Masih pengen menghirup udara malam. Nanti aku pesan taksi online saja."
Sarah tampak ragu, namun ia mengangguk setelah melihat keteguhan di mata sahabatnya. Setelah mobil Sarah menghilang di tikungan jalan, Naya berjalan perlahan menuju taman kecil yang terletak di seberang kafe. Ia duduk di salah satu bangku besi yang catnya sudah mengelupas.
Di bawah sinar lampu taman yang remang-remang, Naya mengeluarkan ponselnya. Ia membuka ruang obrolannya dengan Bumi. Pesan terakhirnyaβlokasi kafe dan jam acaraβmasih menyisakan dua centang biru yang bisu. Naya merasakan perih yang familiar di pangkal tenggorokannya. Bukan perih karena patah hati yang meledak-ledak seperti dulu, tapi perih yang tenang, yang berasal dari penyesalan yang dalam.
Ia menatap langit malam yang tanpa bintang. Jakarta sedang egois malam ini, menyembunyikan keindahan di balik polusi dan awan kelabu.
"Selamat ulang tahun, Naya," bisiknya pada kegelapan. "Kamu sendirian sekarang. Dan ternyata... itu tidak mematikan."
Ia berdiri, berniat untuk benar-benar pulang dan menutup bab ini dengan sisa-sisa martabat yang ia miliki. Namun, saat ia berbalik, langkahnya terhenti. Di ujung jalur taman, di bawah bayangan pohon m***ni yang besar, berdiri seorang pria dengan jaket denim yang sudah sangat hafal di ingatannya. Pria itu berdiri diam, napasnya terlihat sedikit memburu seolah ia baru saja berlari dari jarak yang jauh. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kayu kecil yang dibungkus dengan tali rami sederhana.
Naya terpaku di tempatnya. Dunia seolah berhenti berputar. Debar jantungnya yang tadi sudah melambat, kini berderu kencang, menab**k rongga dadanya dengan brutal.
Bumi melangkah maju ke arah cahaya lampu taman, menampakkan wajahnya yang tampak lelah namun matanya bersinar dengan intensitas yang membuat Naya sulit bernapas.
"Aku pikir kamu sudah pulang," suara Bumi serak, memecah kesunyian malam dengan getaran yang membuat ujung jari Naya kesemutan.
Naya mencoba membuka mulut, namun kata-katanya tertahan di tenggorokan. Ia hanya bisa menatap Bumi yang kini sudah berdiri hanya beberapa langkah darinya. Ada jarak yang tipis di antara mereka, jarak yang selama bertahun-tahun tak berani mereka seberangi.
Bumi menatap jam tangannya, lalu kembali menatap Naya dengan senyum tipis yang sarat akan makna. "Pukul sebelas lewat empat puluh lima menit. Masih ada lima belas menit sebelum hari ulang tahunmu berakhir. Apa aku masih punya waktu untuk memberikan evaluasi jujurku?"
Naya merasakan matanya memanas. Kali ini, ia tidak ingin melakukan audit. Ia tidak ingin meminta penjelasan. Ia hanya ingin tahu satu hal yang paling penting.
"Bumi..." suara Naya hampir menghilang ditiup angin malam.
Bumi melangkah lebih dekat, hingga Naya bisa mencium aroma cat minyak dan kopi yang selalu melekat pada pria itu. Bumi mengangkat kotak kayu di tangannya, tapi bukannya memberikannya pada Naya, ia justru menatap Naya dengan tatapan yang seolah sedang membaca seluruh isi jiwanya.
"Aku nggak mau jadi bagian dari daftar itu, Nay," ucap Bumi pelan, suaranya kini terdengar sangat dekat di telinga Naya. "Aku nggak mau jadi subjek evaluasimu. Karena bagiku, hubungan kita nggak pernah berakhir, jadi nggak ada yang perlu diaudit."
Naya merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Kalimat itu bukan penutup yang ia cari selama ini. Itu adalah sebuah pembukaan. Sebuah kemungkinan yang selama ini ia kunci rapat-rapat dalam kotak ketakutannya.
Bumi menyentuh lengan Naya, jemarinya terasa hangat dan nyata. "Tapi aku punya satu pertanyaan terakhir untukmu, sebelum angka dua puluh lima ini benar-benar dimulai."
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!