Layar laptop yang berpendar terang di tengah kamar yang temaram itu seolah mengejekku. Kursor putih kecil di atas kolom sel Excel berkedip-kedip ritmis, layaknya detak jantung yang sedang memacu adrenalin. Di bagian atas dokumen itu, tertulis sebuah judul dengan font tebal: **PROYEK AUDIT PATAH HATI – KANAYA PUTRI.**
Aku menyandarkan punggung ke kursi kerja, memijat pangkal hidungku yang mulai terasa kaku. Jarum jam di dinding sudah melewati angka sebelas malam. Di luar, suara rintik hujan sisa sore tadi masih terdengar samar, menciptakan atmosfer melankolis yang sebenarnya tidak kubutuhkan saat ini.
"Kau g***, Naya. Benar-benar sudah tidak waras," bisikku pada kesunyian kamar.
Tanganku kembali ke *keyboard*. Aku mulai mengetik kolom-kolom yang kubutuhkan dengan presisi seorang auditor profesional—pekerjaan yang kugeluti setiap hari, namun kali ini subjeknya bukan laporan keuangan perusahaan, melainkan kegagalan hidupku sendiri.
*Kolom A: Nama Mantan. Kolom B: Durasi Hubungan. Kolom C: Alasan Putus (Versi Dia). Kolom D: Evaluasi Diri.*
Satu per satu, nama-nama itu muncul di layar.
Raka. Pacar pertamaku di masa kuliah. Dua tahun yang manis, lalu berakhir dengan kalimat klasik: *"Kita sudah tidak sejalan lagi, Nay."* Aku mengetik namanya dengan jemari yang sedikit gemetar. Apa sebenarnya maksud dari 'tidak sejalan'? Apakah aku berjalan terlalu cepat, atau dia yang sengaja berbelok di persimpangan tanpa memberitahuku?
Di bawah Raka, ada Dimas. Hubungan delapan bulan yang berakhir lewat pesan singkat karena dia merasa aku "terlalu menuntut". Lalu ada Andra, pria yang hanya bertahan tiga bulan sebelum dia tiba-tiba menghilang dan mengunggah foto pertunangan dengan wanita lain di Instagram dua minggu kemudian.
Daftar itu terasa seperti barisan luka yang belum benar-benar kering, hanya tertutup plester tipis yang kini kupaksa lepas satu per satu.
"Dua puluh lima tahun," gumamku sambil menatap pantulan wajahku di layar laptop yang gelap. "Tiga bulan lagi, Naya. Kamu mau ma**k usia seperempat abad dengan beban yang sama? Menjadi produk gagal yang bahkan tidak tahu di mana letak kerusakannya?"
Rasa malu itu merayap naik ke tengkuk, membuat wajahku terasa panas. Bayangkan reaksi mereka saat menerima pesan dariku setelah berbulan-bulan—bahkan bertahun-tahun—tanpa komunikasi. Mereka pasti akan menganggapku wanita g*** yang belum *move on*. Atau lebih buruk lagi, mereka akan menertawakanku di grup WhatsApp bersama teman-teman mereka.
Aku meraih ponsel di samping laptop. Layarnya menyala, menampilkan notifikasi grup keluarga yang menanyakan kapan aku akan membawa "calon" ke acara ulang tahun nenek bulan depan. Tekanan itu terasa seperti batu besar yang menduduki dadaku.
Aku harus melakukan ini. Aku butuh data. Aku butuh objektivitas agar aku tidak mengulangi pola yang sama di masa depan.
Jariku gemetar saat membuka kontak Raka. Foto profilnya menunjukkan dia sedang mendaki gunung, tampak bahagia, tampak... sudah sangat jauh dariku. Aku menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan, lalu mulai mengetik.
*Hai, Raka. Apa kabar? Aku tahu ini terdengar sangat aneh dan mungkin mendadak. Tapi aku sedang melakukan semacam evaluasi pribadi sebelum ulang tahunku yang ke-25. Aku ingin meminta waktumu sebentar untuk kopi atau sekadar telepon. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan tentang hubungan kita dulu. Ini bukan tentang perasaan, murni untuk 'penutupan' bagiku. Kabari ya kalau tidak keberatan.*
Aku menatap pesan itu selama lima menit. Ibu jariku melayang di atas tombol kirim. Detak jantungku terasa sampai ke telinga. *Klik.*
Terkirim.
Satu centang berubah menjadi dua centang abu-abu. Jantungku mencelos. Aku segera membalikkan ponsel ke atas ka**r, seolah benda itu adalah bom yang siap meledak.
"Satu sudah," bisikku, berusaha mengatur napas.
Aku beralih ke Dimas, lalu Andra. Aku mengirimkan pesan serupa—singkat, profesional, namun tetap terasa memalukan. Setiap kali tombol kirim ditekan, sebagian dari harga diriku rasanya ikut terkikis. Namun, ada semacam kelegaan aneh yang menyert**nya. Seperti sedang membersihkan gudang berdebu yang selama ini sengaja kukuncur rapat-rapat.
Setelah pesan ketiga terkirim, aku kembali menatap daftar di Excel. Ada satu baris kosong di bagian paling bawah. Baris yang sejak tadi sengaja tidak kusentuh.
*Kolom A: Bumi.*
Aku terdiam c**up lama. Nama itu tidak memiliki durasi hubungan yang pasti. Kami tidak pernah resmi jadian, tapi kami juga bukan sekadar teman. Dia adalah orang yang tahu warna favoritku tanpa perlu bertanya, orang yang bisa membaca pikiranku hanya dari kerutan di dahi, dan orang yang menghilang begitu saja di hari aku hampir menyatakan perasaanku.
Jika mantan-mantan yang lain adalah bab yang selesai tanpa penutup, Bumi adalah bab yang hilang dari bukuku.
Ponselku bergetar di atas ka**r. Sebuah notifikasi muncul.
Jantungku berdegup kencang. Apakah itu Raka? Atau Dimas? Aku meraih ponsel dengan tangan dingin. Mataku membelalak melihat nama yang tertera di layar kunci. Bukan salah satu dari tiga orang yang baru kukirimi pesan.
Ternyata sebuah balasan dari nomor yang tidak kukira masih aktif. Sebuah pesan singkat yang membuat seluruh keberanian yang baru kukumpulkan tadi menguap seketika.
*“Mau audit apa lagi, Nay? Bukannya kamu sendiri yang memutuskan untuk berhenti menghitung?”*
Pesan itu bukan dari Raka. Itu dari sebuah nomor yang tidak tersimpan, namun aku hafal di luar kepala. Itu Bumi. Dan dia membalas bahkan sebelum aku mengirimkan pesan apa pun padanya malam ini.
Bagaimana dia bisa tahu? Dan yang lebih penting, apakah ini berarti auditku sudah dimulai bahkan sebelum aku siap menghadapi pesertanya yang paling sulit?
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!