Aroma kertas tua dan pengapnya pendingin ruangan yang tidak maksimal menyambutku begitu pintu kaca perpustakaan kota itu terdorong terbuka. Suaranya masih sama—decit pelan yang terdengar seperti keluhan engsel yang sudah letih. Aku menarik napas dalam, membiarkan partikel debu dan wangi khas buku-buku usang memenuhi paru-paruku.
Di sinilah semuanya dimulai. Di antara rak-rak tinggi kategori Arsitektur dan Sastra Klasik, saat aku masih memakai seragam putih-abu-abu dengan rambut dikuncir kuda yang terlalu kencang.
Langkah kakiku bergema pelan di atas lant** vinil yang mulai mengelupas di beberapa sudut. Aku berjalan menuju sudut paling belakang, tempat sebuah meja kayu jati panjang dengan goresan-goresan tangan jahil berada. Kursi di pojok itu kosong, seolah memang sengaja menungguku. Aku duduk, meletakkan tas jinjingku dengan hati-hati, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan bersampul kulit hitam—buku *Relationship Audit*-ku.
Aku membuka halaman terakhir. Di sana, nama 'Bumi' tertulis dengan tinta biru yang mulai memudar, tanpa ada catatan evaluasi di bawahnya. Tidak ada poin-poin tentang 'Alasan Berakhir' atau 'Pelajaran yang Dipetik', seperti yang kutuliskan untuk Adrian, Dimas, atau Satria. Di bawah nama Bumi, hanya ada ruang kosong yang menyesakkan.
"Dua puluh lima tahun sebentar lagi, Naya," bisikku pada diri sendiri. Suaraku tenggelam di antara keheningan perpustakaan.
Aku menyentuh permukaan meja yang kasar. Di sinilah Bumi pertama kali meminjamkan penghapusnya padaku karena aku terlalu malas mencari milikku yang jatuh ke lant**. Di sini juga dia pernah tertidur pulas dengan kepala berbantalkan buku kalkulus, sementara aku diam-diam menggambar sketsa wajahnya di pinggiran buku catatanku. Bumi bukan sekadar mantan. Dia adalah masa lalu yang tidak pernah memiliki kata tamat. Dia adalah paragraf yang terputus di tengah kalimat.
Selama tiga bulan terakhir, aku sudah menemui para pria dari masa laluku. Aku sudah mendengar alasan mereka: aku yang terlalu menuntut, aku yang terlalu terobsesi pada jadwal, atau sekadar ketidakcocokan yang klise. Aku sudah memaafkan mereka, dan yang lebih penting, aku belajar memaafkan diriku sendiri. Namun, Bumi tetap menjadi variabel yang merusak seluruh rumus auditku.
Bagaimana kau bisa mengaudit seseorang yang menghilang begitu saja tepat saat kau baru akan menyatakan perasaan?
Aku mengambil pulpen, jemariku gemetar sedikit. Aku mulai menulis, bukan untuknya, tapi untukku.
*Evaluasi Hubungan: Bumi (The One Who Ghosted).*
*Status: Tidak Pernah Memulai.*
*Alasan Berakhir: Ketakutan. Mungkin miliknya, mungkin milikku.*
Aku berhenti sejenak. Mataku mulai terasa panas. "Sial," umpatku lirih, mengerjapkan mata agar air mata tidak jatuh merusak kertas. Aku tidak boleh cengeng. Naya yang hampir 25 tahun adalah Naya yang logis. Naya yang butuh penutupan agar bisa melangkah maju tanpa menoleh ke belakang setiap kali mendengar lagu indie yang dulu sering kami dengar bersama.
Aku teringat sore terakhir sebelum dia pindah ke luar kota tanpa pamit. Hari itu hujan deras. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kerinduan dan keputusasaan. Dia ingin mengatakan sesuatu, aku tahu itu. Tapi aku, dengan segala gengsiku, malah sibuk mengeluhkan tugas sekolah yang menumpuk.
"Aku nggak butuh jawaban kamu lagi, Bumi," bisikku ke arah kursi kosong di hadapanku. "Aku cuma butuh melepaskan kamu."
Aku menarik napas panjang, mencoba membuang sesak yang menyumbat dada. Aku mulai menuliskan kata penutup di buku itu. Aku akan menganggap bab ini selesai. Aku akan pulang, merayakan ulang tahunku yang ke-25 besok, dan mungkin mulai membuka aplikasi kencan lagi tanpa rasa bersalah. Aku menutup buku catatan itu dengan bunyi *plak* yang c**up keras, menarik perhatian seorang pustakawan di kejauhan yang langsung memberiku tatapan tajam.
Aku tersenyum tipis, sebuah senyum kemenangan yang pahit. Aku berdiri, menyampirkan tas di bahu. Ini dia. Penutupan itu tidak datang dari Bumi. Penutupan itu datang dariku, di tempat kami pertama kali bertemu.
Aku berbalik untuk menuju pintu keluar, namun langkahku terhenti seketika.
Di rak buku kategori Sastra Klasik, hanya beberapa meter dari tempatku berdiri, seorang pria sedang berdiri membelakangiku. Dia mengenakan jaket denim pudar yang terlihat sangat familier. Postur tubuhnya yang jangkung, cara dia sedikit memiringkan kepala saat membaca punggung buku, dan jari-jarinya yang panjang saat menyentuh sampul buku... jantungku seolah berhenti berdetak sesaat.
Udara di sekitarku mendadak terasa tipis. Aku ingin bergerak, tapi kakiku seperti terpaku ke lant**. Pria itu menarik sebuah buku—sebuah novel tua karya Pramoedya Ananta Toer—lalu berbalik.
Duniaku serasa jungkir balik. Mata itu, rahang tegas itu, dan tahi lalat kecil di dekat alis kirinya. Tidak mungkin. Ini pasti halusinasi akibat aku terlalu lama merenungi masa lalu di tempat ini.
Pria itu mematung saat matanya bertemu dengan mataku. Buku di tangannya hampir saja merosot jika dia tidak segera mencengkeramnya erat. Bibirnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang keluar.
"Naya?"
Suara itu. Berat, serak, dan masih memiliki intonasi yang sama yang selalu memanggil namaku di sela-sela jam istirahat sekolah sepuluh tahun yang lalu.
Aku merasakan buku catatan di tanganku merosot jatuh ke lant**, terbuka tepat di halaman terakhir yang baru saja kutulisi dengan kata 'selesai'. Di hadapanku, bukan lagi sebuah kenangan yang harus diaudit, melainkan kenyataan yang menghantamku tanpa peringatan.
Bumi ada di sini. Dan auditku baru saja mengalami kesalahan sistem yang fatal.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!