Angin malam di rooftop kafe ini terasa lebih dingin dari biasanya, atau mungkin itu hanya perasaanku karena sisa-sisa keberanianku mulai menguap. Di hadapanku, buku catatan bersampul kulit cokelat—kitab suci 'Relationship Audit'-ku—terbuka pada halaman terakhir yang masih kosong. Nama 'Bumi' tertulis di sana dengan tinta hitam yang tegas, namun kolom 'Alasan Berakhir' dan 'Evaluasi' masih berupa ruang hampa yang mengejekku.
Aku menyesap kopi yang sudah mendingin, merasakan pahitnya menjalar di lidah. Tepat saat aku hendak menutup buku itu dan menyerah, suara langkah kaki yang sangat kukenali terdengar beradu dengan lant** kayu. Ritmenya tenang, tidak terburu-buru, namun c**up kuat untuk membuat jantungku berdegup kencang hingga ke kerongkongan.
"Kamu masih suka memojok di tempat yang paling berangin, ya?"
Suara itu. Berat, sedikit serak, dan membawa gelombang nostalgia yang menghantamku tanpa ampun. Aku mendongak dan menemukan Bumi berdiri di sana. Dia mengenakan jaket denim pudar yang seingatku adalah favoritnya lima tahun lalu. Wajahnya terlihat lebih dewasa; ada gurat-gurat kelelahan di sudut matanya, tapi tatapannya masih sehangat yang kuingat.
Tanpa menunggu undangan, dia duduk di kursi kayu di depanku. Dia tidak datang dengan tangan kosong. Sebuah map biru diletakkannya di atas meja, tepat di samping buku auditku.
"Bumi," bisikku, suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. "Aku nggak menyangka kamu bakal beneran datang."
"Aku berutang jawaban padamu, Nay. Atau lebih tepatnya, kita saling berutang," ujarnya lembut. Matanya beralih ke buku catatanku. "Misi g*** 'Relationship Audit' ini sudah sampai ke telingaku. Jadi, aku memutuskan untuk membantumu menyelesaikannya. Tapi, dengan caraku."
Dia membuka map biru itu. Di dalamnya terdapat lembaran-lembaran kertas yang penuh dengan tulisan tangan. Aku mengerutkan kening, mencoba mencerna apa yang kulihat.
"Ini... apa?"
"Audit versiku. Tentang kita. Tentang kenapa aku pergi, dan kenapa kita tidak pernah benar-benar menjadi 'kita'," jawab Bumi. Dia mendorong satu lembar kertas ke arahku.
Tanganku gemetar saat menyentuh kertas itu. Aku membacanya dalam diam. Di sana, Bumi menuliskan momen-momen kecil yang bahkan sudah kulupakan. Tentang bagaimana aku selalu mencoba mengatur setiap kencan kami agar terlihat sempurna di mata orang lain. Tentang bagaimana aku lebih sering bertanya 'apa kata orang' daripada 'apa yang kamu rasakan'.
"Kamu terlalu sibuk membangun citra hubungan yang ideal, Nay," suara Bumi memecah keheningan, rendah namun menusuk. "Sampai kamu lupa kalau di dalamnya ada aku, manusia yang punya c**** dan takut gagal. Kamu memposisikan dirimu sebagai juri dalam hubungan kita sendiri. Aku merasa seperti proyek yang harus kamu selesaikan, bukan seseorang yang kamu cint**."
Aku tertegun. Kata-katanya bagai cermin yang dipaksakan ke depan wajahku. Selama ini, aku mendatangi para mantan untuk mencari kesalahan mereka, untuk membuktikan bahwa aku adalah korban dari ketidakjelasan mereka. Tapi di depan Bumi, topeng 'perfeksionis' itu retak.
"Tapi kamu pergi tanpa kata, Bum," suaraku serak, menahan tangis yang mendesak keluar. "Kamu menghilang tepat saat aku pikir kita akhirnya akan melangkah lebih jauh. Itu pengecut."
Bumi menghela napas panjang, pundaknya luruh. "Iya. Itu pengecut. Aku takut, Nay. Aku takut kalau aku tetap tinggal, aku hanya akan menjadi alasan lain bagimu untuk merasa gagal. Aku lebih baik menghilang daripada melihat sorot kecewa di matamu setiap kali aku tidak bisa memenuhi standar kesempurnaanmu."
Keheningan jatuh di antara kami, hanya diisi oleh suara bising kendaraan di kejauhan bawah sana. Aku menunduk, melihat jemariku yang saling bertautan erat. Rasa sesak yang selama ini kupelihara—rasa marah karena ditinggalkan—perlahan mulai mencair, berganti dengan kesadaran yang pahit. Kami berdua sama-sama bersalah. Aku dengan obsesi kontrolku, dan dia dengan pelariannya.
"Aku minta maaf, Bum," ucapku akhirnya. Air mata pertama jatuh, membasahi kertas audit di hadapanku. "Aku nggak pernah bermaksud membuatmu merasa seperti sebuah proyek. Aku cuma... aku cuma sangat takut menjadi produk gagal di usia 25. Aku pikir kalau semuanya teratur, kita akan aman."
Bumi mengulurkan tangan, jemarinya menyentuh punggung tanganku dengan ragu, lalu menggenggamnya hangat. "Aku juga minta maaf, Nay. Seharusnya aku bicara, bukan lari. Aku membiarkanmu menggantung dalam ketidakpastian selama bertahun-tahun."
Kami duduk di sana untuk waktu yang terasa seperti selamanya, saling memaafkan melalui keheningan dan genggaman tangan yang tidak lagi terasa asing. Beban di pundakku, yang kubawa sejak memulai misi g*** ini, perlahan terangkat. Audit ini bukan tentang siapa yang salah, tapi tentang menerima bahwa manusia tidak bisa diaudit layaknya laporan keuangan perusahaan.
Bumi menarik tangannya perlahan, lalu mengambil pulpen dari saku jaketnya. Dia meraih buku catatanku, membaliknya ke halaman terakhir yang tadinya kosong, dan menuliskan sesuatu di sana dengan cepat.
"Ini penutup dariku," katanya sambil tersenyum tipis, sebuah senyum yang membuat jantungku berdesir persis seperti saat kami masih remaja.
Dia berdiri, merapikan map birunya, namun meninggalkan lembaran audit versinya untukku. "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri, Naya. Kamu hampir 25, bukan hampir kiamat."
Aku memperhatikan punggungnya yang menjauh menuju pintu keluar rooftop. Setelah dia menghilang dari pandangan, aku memberanikan diri melihat apa yang dia tulis di buku auditku.
Di bawah kolom 'Alasan Berakhir', Bumi tidak menuliskan kalimat panjang. Dia hanya menulis satu kalimat yang membuat duniaku seolah berhenti berputar:
*Kita tidak berakhir, Naya. Kita hanya tertunda karena ketakutan yang salah. Sekarang, auditnya selesai. Mau memulai sesuatu yang tidak perlu dievaluasi?*
Darahku berdesir. Aku membolak-balik lembar audit milik Bumi yang dia tinggalkan, dan di halaman paling belakang, aku menemukan sebuah alamat kafe kecil di dekat rumah masa kecil kami, lengkap dengan jam dan tanggal untuk besok siang.
Apakah ini benar-benar penutup yang kucari, atau justru sebuah pembukaan yang belum siap kuhadapi? Ponselku berdenting, sebuah notifikasi kalender muncul: *H-3 menuju ulang tahun ke-25.* Waktuku hampir habis, tapi mendadak, angka 25 tidak lagi terasa seperti vonis mati.
Namun, saat aku hendak berdiri, mataku menangkap sesuatu yang terselip di dalam map biru Bumi yang tertinggal. Sebuah foto lama kami berdua, tapi di balik foto itu ada tulisan tangan yang berbeda, bukan tulisan Bumi.
*“Dia tidak menceritakan semuanya padamu, Naya.”*
Jantungku mencelos. Siapa yang menulis ini? Dan apa yang sebenarnya disembunyikan Bumi selama lima tahun ini?
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!