Angin malam di atap gedung apartemen ini terasa lebih dingin dari biasanya, menusuk hingga ke pori-pori kulit melalui rajutan sweter tipis yang kukenakan. Namun, aku tidak beranjak. Di sampingku, Bumi menyandarkan punggungnya pada pagar pembatas besi, menatap hamparan lampu kota Jakarta yang berkerlip seperti taburan berlian yang tumpah di atas beludru hitam.
Aku menatap buku catatan bersampul kulit marun di pangkuanku. Buku yang selama tiga bulan terakhir menjadi kitab suciku. Di dalamnya, terdapat kolom-kolom rapi, tabel evaluasi, dan poin-poin alasan kegagalan hubunganku dengan para mantan. Sebuah 'Relationship Audit' yang kubanggakan sebagai bentuk kedewasaan analitis, namun sekarang, di hadapan Bumi, benda itu tampak seperti tumpukan kertas yang menyedihkan.
"Masih mau mencatat sesuatu?" suara Bumi memecah keheningan. Nadanya tidak mengejek, hanya bertanya dengan ketenangan yang selalu berhasil membuatku merasa transparan.
Aku mengusap permukaan kasar buku itu. "Aku tadinya berpikir, kalau aku punya data lengkap tentang kenapa aku selalu gagal, aku nggak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Aku nggak mau ma**k ke usia dua puluh lima dengan predikat 'produk gagal' dalam asmara, Bum."
Bumi terkekeh pelan, kepalanya menengadah menatap langit tanpa bintang. "Kamu selalu suka kontrol, Nay. Kamu merasa kalau semuanya bisa dijelaskan secara logis, kamu bisa mengendalikan masa depan. Tapi perasaan itu bukan laporan keuangan tahunan yang bisa diaudit sampai nol."
Aku menoleh padanya. Cahaya dari lampu jalan di bawah menyinari sisi wajahnya, menonjolkan garis rahang yang tegas dan tatapan matanya yang selalu terasa seperti rumah. Pria ini adalah satu-satunya variabel yang tidak pernah bisa kuma**kkan ke dalam tabel Excel-ku. Dia adalah 'hampir' yang paling menyakitkan, dan 'selamanya' yang paling kutakuti.
"Aku takut, Bum," aku mengaku, suaranya nyaris berbisik. "Aku takut kalau kita mencoba lagi, dan ternyata hasilnya sama, aku akan kehilangan bukan cuma pacar, tapi juga kamu. Sahabatku."
Bumi menegakkan tubuhnya, berputar menghadapku sepenuhnya. Ia merampas buku catatan itu dari tanganku, tidak dengan kasar, melainkan dengan kelembutan yang mutlak. Ia meletakkannya di lant** beton di antara kami.
"Nay, lihat aku," pintanya.
Aku memberanikan diri menatap matanya. Di sana, aku tidak menemukan tuntutan. Tidak ada sisa-sisa kemarahan karena sepuluh tahun yang lalu dia menghilang, atau karena aku yang terlalu gengsi untuk mengejarnya.
"Audit ini," Bumi menunjuk buku itu dengan dagunya, "adalah caramu untuk bersembunyi. Kamu terlalu sibuk mencari tahu apa yang salah di masa lalu sampai kamu lupa bertanya pada dirimu sendiri: apa yang sebenarnya kamu mau sekarang?"
Tenggorokanku terasa tercekat. Benar. Selama ini aku menemui para mantan bukan benar-benar untuk mencari penutupan, tapi untuk memvalidasi ketakutanku sendiri bahwa akulah yang bermasalah. Aku mencari alasan untuk tidak membuka hati lagi karena takut terluka.
"Aku mau berhenti," kataku tiba-tiba. Suaraku terdengar lebih mantap sekarang.
Bumi menaikkan sebelah alisnya. "Berhenti audit?"
"Berhenti takut. Berhenti menganalisis semuanya secara berlebihan." Aku menarik napas panjang, membiarkan udara dingin mengisi paru-paruku. "Aku nggak butuh alasan kenapa kita dulu gagal, Bum. Kita masih remaja, kita bodoh, kita pengecut. Itu alasan yang c**up. Aku nggak butuh evaluasi dari siapa pun untuk tahu kalau aku berhak bahagia."
Bumi tersenyum, jenis senyum yang membuat matanya menyipit dan membuat jantungku melakukan salto kecil. Ia mengulurkan tangannya, telapak tangannya terbuka lebar di hadapanku.
"Kalau begitu, mari kita mulai bab baru. Tanpa embel-embel 'mantan' yang belum tuntas, tanpa status 'hampir pacar'. Cuma aku dan kamu. Dua orang dewasa yang sama-sama tahu kalau risiko patah hati itu selalu ada, tapi memilih untuk jalan terus."
Aku menatap tangannya, lalu beralih ke wajahnya. "Ini nggak akan ada di spreadsheet-ku, ya?"
"Nggak akan ada kategori untuk apa yang akan kita jalani, Nay. Kita yang tulis aturannya sambil jalan."
Aku meletakkan tanganku di atas tangannya. Kulitnya hangat, kontras dengan udara malam yang menggigit. Saat jari-jarinya bertaut dengan jariku, aku merasakan beban berat yang selama ini kupikul di pundakβbeban untuk menjadi sempurna, beban untuk tidak gagalβperlahan-lahan luruh.
Aku menyadari satu hal yang selama ini luput dari analisisku: kejujuran jauh lebih membebaskan daripada jawaban yang logis. Aku tidak butuh audit untuk memulai kembali. Aku hanya butuh keberanian untuk menjadi te******* di depan seseorang, tanpa perisai berupa buku catatan atau teori-teori psikologi populer.
"Jadi, ini kencan pertama kita?" tanyaku, mencoba mencairkan suasana yang mendadak melankolis.
Bumi menarik tanganku, membuatku berdiri dan mendekat ke arahnya hingga aroma parfumnya yang maskulin dan menenangkan menyerbu indra penciumanku. "Anggap saja begitu. Dan sebagai orang yang sedang PDK, aku harus mengingatkanmu satu hal."
"Apa?"
Bumi mencondongkan wajahnya, hidung kami hampir bersentuhan. "Besok lusa kamu ulang tahun yang ke-dua puluh lima. Dan targetmu untuk mendapatkan 'penutupan' sudah selesai."
Aku tertawa kecil, merasa bodoh sekaligus sangat ringan. "Ya, aku sudah menutup bukunya. Secara harfiah."
Kami berdiri di sana untuk waktu yang lama, hanya menikmati kehadiran satu sama lain tanpa perlu banyak kata. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa perlu merencanakan apa yang akan terjadi lima menit ke depan.
Namun, saat aku melirik ke arah pintu menuju tangga darurat, aku melihat ponselku yang tergeletak di atas tas menyala. Ada sebuah pesan ma**k dari nomor yang tidak kukenal.
*Nay, aku tahu kamu sudah menganggap semuanya selesai. Tapi ada satu hal tentang malam itu yang nggak pernah kukatakan padamu. Sesuatu yang bahkan Bumi nggak tahu.*
Jantungku berdegup kencang. Aku mengenali gaya bahasa itu. Itu bukan dari mantan yang sudah ku-audit. Itu dari seseorang yang seharusnya tetap terkubur di masa lalu. Aku melirik Bumi yang masih menatap langit dengan damai, tidak menyadari bahwa kotak Pandora yang kupikir sudah kukunci rapat, baru saja tercongkel sedikit dari sudut yang tak terduga.
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!