Ujung sepatu hak tinggiku mengetuk-ngetuk lant** semen ekspos kafe di bilangan Jakarta Selatan ini, menciptakan irama gelisah yang tidak sinkron dengan musik *lo-fi* yang mengalun dari pelantang suara. Di depanku, segelas *iced americano* sudah berkeringat hebat, menyisakan genangan air di atas meja kayu. Aku melirik jam tangan untuk kesepuluh kalinya dalam lima menit terakhir.
Dua puluh menit terlambat. Tipikal Dimas.
Dulu, saat kami masih mengenakan seragam putih-abu-abu, aku akan menunggu berjam-jam di pinggir lapangan basket hanya untuk melihatnya selesai latihan. Dulu, keterlambatannya terasa seperti bumbu kerinduan. Sekarang, setiap menit yang terbuang terasa seperti pengingat betapa tidak berartinya posisiku dalam skala prioritasnya.
Pintu kafe berdenting. Seorang pria dengan kemeja flanel yang lengannya digulung hingga siku ma**k dengan tergesa-gesa. Wajahnya lebih tirus, ada jambang tipis yang menghiasi rahangnya—sangat kontras dengan bayangan remaja berwajah mulus yang kusimpan dalam memori sepuluh tahun lalu.
"Naya? Ya ampun, Nay!" Ia tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi yang masih serapi dulu. Tanpa izin, ia langsung duduk di kursi depanku. "Sori banget, tadi ada *meeting* dadakan sama klien. Macetnya g***, lo tahu sendiri kan daerah sini kalau jam pulang kantor."
Aku memaksakan senyum tipis, merapikan letak tablet di hadapanku. "Enggak apa-apa, Dim. Gue juga baru sampai." Kebohongan putih yang pahit.
"Lo makin... profesional, ya? Beda banget sama Naya yang dulu hobi pakai bando bunga-bunga," candanya sembari memanggil pelayan.
Aku tidak menanggapi candaannya. Tanganku meraih tablet, membuka dokumen berjudul *'Relationship Audit - Project 25'*. Jariku bergetar sedikit saat menyentuh layar. "Dim, makasih sudah mau luangin waktu. Seperti yang gue bilang di WhatsApp kemarin, gue lagi ada proyek pribadi sebelum ulang tahun gue yang ke-25."
Dimas mengerutkan dahi, menerima kopi yang baru saja diantarkan pelayan. "Proyek apa, sih? Serius banget kayak mau presentasi tender."
"Gue menyebutnya *Audit Patah Hati*," kataku dengan suara setenang mungkin, meski jantungku berdegup kencang. "Gue butuh evaluasi jujur dari lo. Tentang hubungan kita dulu. Tentang kenapa kita putus."
Dimas tersedak kopinya. Ia terbatuk kecil, lalu tertawa seolah aku baru saja melontarkan lelucon terbaik tahun ini. "Audit? Nay, itu kan kejadian zaman SMA. Kita bahkan belum tahu cara bikin SIM waktu itu."
"Tapi buat gue itu penting, Dim," potongku cepat. "Gue selalu merasa ada pola yang salah dalam hubungan-hubungan gue setelahnya. Dan itu dimulai dari lo. Mantan pertama gue. Orang pertama yang bikin gue merasa... selesai tanpa penjelasan."
Dimas meletakkan gelasnya. Tawanya mereda, digantikan oleh tatapan bingung yang tulus. "Selesai tanpa penjelasan? Bukannya kita putus baik-baik ya, Nay?"
Aku mencondongkan tubuh ke depan, mataku mencari-cari jawaban di manik matanya. "Lo menghilang seminggu setelah kelulusan. Lo berhenti balas SMS gue, lo enggak pernah angkat telepon gue lagi sampai akhirnya gue dengar lo sudah jadian sama anak kampus sebelah. Gue butuh tahu kenapa, Dim. Apa karena gue terlalu menuntut? Apa karena gue terlalu kaku? Atau gue yang membosankan?"
Dimas terdiam. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sebuah gestur yang masih sama sejak dulu saat ia merasa terpojok. Ia memandang langit-langit kafe seolah-olah jawaban itu tertulis di sana. Keheningan di antara kami terasa mencekik, lebih berat daripada polusi udara di luar sana.
"Nay..." Dimas mengembuskan napas panjang. "Sejujurnya?"
Aku mengangguk, menahan napas. Inilah saatnya. Data pertama untuk audatku. Kebenaran yang akan membebaskanku.
"Gue... gue beneran enggak ingat alasan pastinya," ucapnya pelan.
Duniaku seolah berhenti berputar sejenak. "Maksud lo?"
"Gue enggak ingat kenapa kita putus. Gue bahkan hampir lupa kalau kita pernah berantem sehebat itu sampai gue harus menghilang," lanjut Dimas dengan nada yang sangat datar, seolah ia sedang membicarakan cuaca kemarin. "Yang gue ingat cuma... kita seru-seruan bareng, terus ya sudah, masa sekolah selesai, kita ma**k ke dunia masing-masing. Gue pikir kita cuma *drift apart* secara natural."
"Hanya... *drift apart*?" Suaraku naik satu oktav. "Gue nangis tiga bulan, Dim. Gue hampir gagal ujian ma**k universitas karena mikirin salah gue di mana. Dan lo bilang lo bahkan enggak ingat?"
Dimas tampak merasa bersalah, tapi itu bukan rasa bersalah seorang mantan kekasih yang menyesal. Itu adalah rasa bersalah seseorang yang tanpa sengaja menginjak kaki orang asing di kereta. "Sori, Nay. Gue beneran enggak bermaksud menyakiti lo. Tapi buat gue, itu cuma... cinta mo****. Hal-hal yang terjadi waktu kita masih bocah. Gue enggak pernah menganggap itu sesuatu yang butuh analisis mendalam."
Aku menyandarkan punggung ke kursi, merasa tubuhku tiba-tiba seringan kapas namun kosong di dalam. Semua skenario yang kubangun di kepala—tentang kekurangan diriku, tentang kesalahan fatal yang kuperbuat, tentang sifatku yang mungkin terlalu dominan—semuanya hancur berantakan. Bukan karena aku benar, tapi karena bagi Dimas, hubungan kami bahkan tidak c**up penting untuk diingat alasannya.
Aku adalah sebuah tragedi dalam ingatanku sendiri, namun hanya sekadar catatan kaki yang terlupakan dalam hidupnya.
"Lo beneran enggak ingat sama sekali?" tanyaku sekali lagi, berharap ada sedikit sisa memori yang bisa kujadikan pegangan.
Dimas menggeleng pelan. "Gue cuma ingat lo pintar, Naya. Dan lo selalu wangi stroberi. Selebihnya? *Everything is a blur*."
Aku menutup tabletku dengan bunyi 'klik' yang tajam. Rasa sesak mulai naik ke tenggorokan. Bukan rasa sedih karena masih cinta, tapi rasa terhina karena ternyata selama ini aku bertarung melawan hantu yang bahkan tidak eksis di ingatan sang penciptanya.
"Nay, lo enggak apa-apa?" Dimas mencoba meraih tanganku di atas meja, tapi aku segera menariknya.
"Gue oke," kataku, meski suaraku sedikit bergetar. Aku merogoh tas, mengeluarkan lembaran uang untuk membayar kopiku—dan kopinya. "Makasih buat waktunya, Dim. Evaluasinya sangat... mencerahkan."
Aku berdiri tanpa menunggu responnya. Aku berjalan keluar kafe dengan langkah cepat, mengabaikan pangg***nnya. Udara malam Jakarta yang panas menyambutku, tapi hatiku terasa dingin. Aku ma**k ke dalam mobil, mencengkeram kemudi erat-erat hingga buku jariku memutih.
Aku membuka ponsel, melihat daftar nama berikutnya di dokumen audatku.
*Mantan Kedua: Bayu. Masa kuliah. Hubungan dua tahun.*
Jika cinta mo**** saja bisa membuatku merasa sekecil ini karena dilupakan, bagaimana dengan hubungan yang kuhabiskan dengan menguras seluruh energiku di masa dewasa? Aku menatap pantulan wajahku di spion tengah. Mataku sembap, dan untuk pertama kalinya, aku mulai meragukan misi ini.
Apakah mencari kebenaran memang akan menyembuhkanku, atau justru hanya akan menunjukkan betapa tidak berartinya aku di mata orang-orang yang pernah kusebut 'segalanya'?
Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi muncul. Bukan dari Dimas, tapi sebuah pengingat kalender yang kubuat sendiri: *29 hari menuju usia 25.*
Aku menghapus air mata yang sempat jatuh dengan kasar. Aku tidak boleh berhenti sekarang. Jika Dimas adalah sebuah kegagalan karena ketidapeduliannya, maka aku harus memastikan bahwa pria berikutnya punya alasan yang lebih nyata. Meskipun itu berarti aku harus mendengar hal-hal yang paling menyakitkan tentang diriku sendiri.
Aku menyalakan mesin mobil, siap menuju alamat berikutnya, tanpa menyadari bahwa ada satu nama di bagian paling bawah daftar yang sedari tadi kuabaikan—nama yang sebenarnya paling kutakuti untuk kutemui.
Bumi.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!