Aroma kopi Arabika yang kuat biasanya menenangkan saraf-sarafku, tetapi siang ini, uap panas yang membubung dari cangkir di hadapanku justru terasa seperti kabut yang menyesakkan. Aku merapikan letak tablet dan buku catatan kecilku di atas meja kayu kafe yang permukaannya mulai mengelupas. Semuanya harus presisi. Pulpen di sisi kanan, ponsel di sisi kiri, dan mental yang sudah kubentengi rapat-rapat.
Aku sedang menunggu Dimas. Pria yang tiga tahun lalu menghilang dari hidupku semudah menghapus jejak kaki di pasir pant**. Tanpa kata putus, tanpa pertengkaran hebat, hanya keheningan panjang yang membunuh kewarasanku selama berbulan-bulan.
Lonceng di atas pintu berdenting. Sosok jangkung dengan jaket denim pudar melangkah ma**k. Ia tampak sedikit lebih kurus, tetapi garis rahangnya masih sama tajamnya. Saat matanya bertemu denganku, ia ragu sejenak sebelum memaksakan sebuah senyum tipis yang tidak sampai ke mata.
"Naya," sapanya pelan, menarik kursi di hadapanku.
"Dimas. Terima kasih sudah mau datang," jawabku seprofesional mungkin, meski jantungku berdegup kencang seperti sedang menjalani wawancara kerja yang menentukan hidup dan mati.
"Jujur, aku kaget waktu kamu kirim pesan itu. 'Relationship Audit'? Itu kedengarannya sangat... kamu sekali," katanya sambil terkekeh hambar, memesan Americano dingin pada pelayan yang lewat.
Aku membuka catatan digital di tabletku. "Aku butuh data, Dim. Untuk menutup bab yang menggantung. Kamu tahu kan, aku benci sesuatu yang tidak selesai."
Dimas menghela napas, menyandarkan punggungnya. "Kamu selalu butuh struktur, ya? Bahkan untuk urusan patah hati."
"Mari kita langsung ke poin utamanya," kataku, mengabaikan sindirannya. Aku menarik napas dalam, membiarkan oksigen mendinginkan dadaku yang mulai memanas. "Kenapa kamu melakukan itu? Kenapa harus *ghosting*? Kenapa tidak bilang kalau kamu mau selesai?"
Dimas terdiam. Ia memainkan sedotan di gelasnya yang baru datang, memutar-mutarnya hingga es batu di dalamnya berdenting berisik. Keheningan itu merayap di antara kami, lebih mencekik daripada tiga tahun lalu.
"Naya, kamu ingat saat aku sedang skripsi?" tanya Dimas tiba-tiba, matanya menatapku lurus.
Aku mengangguk. "Tentu. Aku yang membantumu merapikan daftar pustaka, ingat? Aku bahkan membuatkan jadwal belajar untukmu agar kita tetap bisa punya waktu kencan di hari Sabtu."
Dimas tersenyum kecut. "Itu dia masalahnya. Kamu membuatkan jadwal. Kamu mengatur menit demi menit hidupku seolah-olah aku adalah proyek yang harus selesai tepat waktu. Setiap kali aku tidak membalas pesanmu dalam sepuluh menit, kamu akan mengirimkan rentetan pesan lain, menanyakan apakah aku baik-baik saja atau apakah aku masih memprioritaskan kita."
Aku mengerutkan kening. "Aku hanya peduli, Dim. Aku ingin kita berhasil."
"Kamu tidak ingin kita berhasil, Naya. Kamu ingin kita sempurna menurut standarmu," suara Dimas naik satu oktaf, namun tetap terjaga. "Aku merasa tercekik. Setiap kali ponselku bergetar, aku tidak merasa senang. Aku merasa cemas. Aku merasa sedang diawasi oleh bos yang sangat menuntut. Kamu menuntut waktuku sampai aku tidak punya waktu untuk bernapas sendiri."
Kata-katanya seperti tamparan fisik yang membuat wajahku panas. Aku menunduk, melihat catatan di tabletku yang kini terasa konyol. *Terlalu menuntut waktu?* Aku selalu berpikir aku adalah pasangan yang suportif.
"Aku ingat waktu aku bilang ingin ikut pendakian ke Rinjani sama anak-anak Mapala," lanjut Dimas, suaranya kini lebih tenang namun lebih menyakitkan. "Kamu langsung mengeluarkan kalender, menghitung berapa jam kita akan kehilangan komunikasi, dan akhirnya membuatku merasa bersalah sampai aku membatalkannya. Hari itu, aku sadar, aku bukan lagi pacarmu. Aku adalah tawanan dari ambisimu untuk memiliki hubungan yang 'ideal'."
"Tapi aku melakukan itu semua karena aku sayang kamu, Dimas," suaraku bergetar, pertahanan yang kubangun sejak pagi mulai retak.
"Sayang itu membebaskan, Nay. Bukan membelenggu," Dimas menghela napas panjang. "Aku minta maaf karena aku pergi tanpa kata. Aku tahu itu pengecut. Tapi waktu itu, aku merasa kalau aku bicara, kamu akan mendebatku dengan sejuta alasan logis sampai aku menyerah lagi. Aku hanya ingin lari. Aku butuh ruang yang tidak ada kamunya di sana."
Aku terdiam seribu bahasa. Di hadapanku, Dimas bukan lagi sosok penjahat yang kucitrakan selama bertahun-tahun dalam benakku. Ia hanyalah pria yang kelelahan menghadapi intensitasku yang berlebihan. Tanganku yang memegang pulpen mulai gemetar. Aku mencatat satu baris di kolom evaluasi: *Possessive under the guise of caring. Demanding too much availability.*
"Apakah ada hal lain?" tanyaku, suaraku hampir tidak terdengar.
Dimas menatapku dengan tatapan kasihanβsesuatu yang paling kubenci di dunia ini. "Kamu orang baik, Naya. Kamu pintar, kamu teratur. Tapi hubungan bukan soal mencapai target atau menghindari kegagalan. Terkadang, kamu perlu membiarkan segala sesuatunya berantakan sedikit."
Dimas berdiri, meletakkan beberapa lembar uang di atas meja untuk kopinya. "Aku harap kamu menemukan apa yang kamu cari dengan audit ini. Tapi saran dariku, jangan perlakukan orang lain seperti daftar periksa. Mereka punya nyawa, bukan cuma poin-poin data."
Setelah Dimas pergi, aku tetap duduk di sana untuk waktu yang lama. Kafe yang tadinya terasa sejuk kini terasa sangat dingin. Aku melihat daftar namaku. Dua mantan sudah kutemui. Keduanya memberikan jawaban yang menusuk tepat ke jantung egoku.
Aku menyeka sudut mataku yang sedikit basah. Masih ada beberapa nama lagi di daftar ini. Namun, saat jariku menyentuh layar untuk menggulir ke bawah, satu nama di bagian paling akhir seolah berkedip-kedip, menertawakanku.
*Bumi.*
Luka dari Dimas terasa seperti luka gores dibandingkan dengan lubang besar yang ditinggalkan Bumi. Jika Dimas pergi karena merasa tercekik, kenapa Bumiβyang bahkan tidak pernah kuberi jadwal, yang selalu kuberi kebebasan seluas langitβjuga melakukan hal yang sama?
Aku menutup tabletku dengan kasar. Tiba-tiba saja, misi mencari penutupan ini terasa jauh lebih berbahaya daripada yang kubayangkan. Aku tidak hanya sedang membedah kesalahan mereka, aku sedang membedah diriku sendiri, dan aku tidak suka dengan apa yang kulihat di dalam sana.
Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar. Itu adalah pengingat kalender yang otomatis terpasang sejak sepuluh tahun lalu, sebuah tanggal yang tidak pernah kuhapus meski pemiliknya sudah hilang ditelan bumi.
*Hari ulang tahun Bumi. Besok.*
Jantungku mencelos. Apakah ini pertanda, atau hanya semesta yang sedang mengejek usahaku untuk move on? Aku tahu, sebelum aku bisa benar-benar mengaudit sisa mantan-mantanku yang lain, aku harus menghadapi hantu yang paling nyata ini. Tapi apakah aku siap mendengar alasan Bumi, saat aku bahkan tidak tahu apakah kami pernah benar-benar 'berakhir' atau tidak?
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!