Audit Patah Hati: Mencari Penutup Sebelum Menuju 25

Bab 5: Bab 5 - Refleksi diri di kafe favorit dan pertemuan tid...

Pengaturan Membaca

Aroma biji kopi yang dipanggang pekat memenuhi indra penciumanku begitu aku mendorong pintu kaca Ruang Teduh. Kafe ini selalu menjadi tempat pelarianku saat isi kepalaku mulai terasa seperti benang kusut yang mustahil diurai. Aku memilih meja paling pojok, yang tersembunyi di balik pilar beton ekspos, tempat di mana aku bisa mengamati dunia tanpa perlu merasa diamati.

Di hadapanku, sebuah buku catatan kulit berwarna cokelat tua terbuka lebar. Halamannya dipenuhi dengan tabel, poin-poin evaluasi, dan coretan tinta hitam yang tegas. *Relationship Audit*. Judul besar di bagian atas halaman itu tampak seperti vonis pengadilan bagiku sendiri. Tiga nama sudah kucoret. Tiga laki-laki dari masa laluku sudah memberikan 'kesaksian' mereka.

Aku menyesap *hot americano* milikku, membiarkan rasa pahitnya membakar lidah. Bayangan pertemuan dengan Dimas kemarin masih menyisakan rasa sesak. Ia bilang aku terlalu menuntut kesempurnaan hingga lupa bahwa hubungan dijalani oleh dua manusia, bukan dua robot.

"Terlalu analitis," gumamku pelan, menirukan kata-katanya. Aku menghela napas panjang, jemariku mengetuk-ngetuk pinggiran cangkir keramik. Apakah aku benar-benar seburuk itu? Apakah usahaku untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai rencana justru menjadi bumerang yang menghancurkan segalanya?

Suara denting lonceng di atas pintu ma**k memecah lamunanku. Aku tidak menoleh, tetap fokus pada catatan tentang 'Kekurangan Diri' yang baru saja kutambahkan. Namun, derap langkah kaki yang mendekat dan suara kursi yang ditarik tepat di depanku membuatku terpaksa mendongak.

"Naya? Kanaya Putri, kan?"

Aku mengerjapkan mata, mencoba mengenali wajah pria di depanku. Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dengan kacamata berbingkai hitam yang tampak familiar. Butuh waktu tiga detik sampai otarku berhasil memproses memorinya.

"Raka?" tanyaku ragu.

Raka adalah salah satu teman dekat Bumi saat kuliah dulu. Mereka hampir selalu terlihat bersama, entah di kantin atau di perpustakaan. Jantungku memberikan sentakan kecil yang tidak menyenangkan saat nama 'Bumi' otomatis terlintas di benakku.

"G***, beneran Naya!" Raka nyengir lebar, langsung duduk tanpa menunggu undangan. "Lama banget nggak kelihatan. Apa kabar, Nay? Terakhir kita ketemu... pas acara kelulusan, ya?"

Aku memaksakan sebuah senyum tipis, buru-buru menutup buku catatanku. "Kabar baik, Rak. Iya, udah lama banget. Kamu apa kabar? Masih di firma hukum yang sama?"

"Masih, makin sibuk tapi ya dinikmatin aja," jawabnya sant**. Ia melirik sekilas ke arah buku catatanku yang tertutup, lalu kembali menatapku dengan binar jenaka. "Lagi ngerjain proyek apa? Kelihatannya serius banget sampai dahi lo berkerut gitu."

"Cuma... catatan pribadi," jawabku singkat, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Tumben ke daerah sini? Kantor kamu kan di pusat."

"Lagi ada janji sama klien di gedung sebelah. Terus mampir ke sini soalnya dibilangin sama si kutu loncat itu kalau kopi di sini enak," jawab Raka sambil tertawa kecil.

Darahku mendesir dingin. Aku tahu siapa yang ia maksud dengan sebutan 'kutu loncat'. Itu adalah pangg***n akrab yang diberikan teman-teman Bumi karena hobinya yang suka berpindah-pindah hobi dan minatβ€”dan akhirnya, berpindah kota tanpa kabar.

Aku mencoba menjaga ekspresi wajahku tetap netral, meski genggamanku pada cangkir kopi mengerat. "Oh ya? Siapa?" tanyaku, pura-pura tidak tahu.

Raka mencondongkan tubuh, suaranya merendah seolah membocorkan rahasia negara. "Bumi, lah. Siapa lagi? Masa lo nggak tahu kalau dia udah balik ke Jakarta?"

Dunia seolah berhenti berputar sejenak. Suara musik *jazz* yang mengalun di latar belakang mendadak terdengar seperti dengung statis di telingaku. Aku meletakkan cangkir kopi dengan tangan yang sedikit gemetar, berharap denting keramiknya tidak mengkhianati kegugupanku.

"Bumi... di Jakarta?" suaraku terdengar asing, kering dan tipis.

"Lho, dia nggak bilang sama lo?" Raka tampak benar-benar terkejut. "Dia udah balik dari Singapura dari minggu lalu. Katanya mau *settle* di sini, dapet tawaran jadi kepala desain di firma arsitek punya omnya. Gue pikir orang pertama yang dia kabarin itu lo, Nay. Secara dulu kalian kan..." Ia menggantung kalimatnya, menyadari perubahan di raut wajahku.

Aku menelan ludah dengan susah payah. Rasa pahit americano tadi kini terasa seribu kali lebih pekat di tenggorokan. Bumi di sini. Di kota yang sama. Menghirup udara yang sama. Dan dia sudah berada di sini selama seminggu tanpa mengirimkan satu pesan pun.

"Kami... sudah lama nggak kontak, Rak," kataku, berusaha memberikan penjelasan yang terdengar logis padahal hatinya sedang menjerit. "Mungkin dia sibuk pindahan."

Raka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, tampak tidak enak hati karena sudah melempar 'bom' di tengah percakapan sant** kami. "Ah, iya sih. Dia emang lagi ribet banget sama urusan kantor barunya. Tapi kemarin dia nanyain lo, kok. Nanya lo masih di kantor yang lama apa nggak."

Kalimat Raka bukannya menenangkanku, malah membuat perutku mulas. Mengapa dia bertanya pada orang lain tentangku? Mengapa dia tidak langsung saja menghubungiku jika memang ingin tahu?

"Oh, gitu," hanya itu yang mampu keluar dari bibirku.

"Anyway, gue harus duluan ya, Nay. Klien gue pasti udah nunggu," Raka berdiri, merapikan kemejanya. "Seneng banget bisa ketemu lo lagi. Nanti kalau gue kumpul sama Bumi, gue sampaikan salam ya?"

"Nggak usah, Rak," jawabku terlalu cepat, membuat Raka mengernyitkan dahi. Aku buru-buru meralat dengan tawa canggung. "Maksudnya... nggak usah repot-repot. Biar nanti kalau ketemu sendiri aja."

Raka mengangkat bahu, menganggap reaksiku sebagai hal biasa. "Oke deh. *See you*, Naya!"

Aku memerhatikan punggung Raka sampai ia menghilang di balik pintu kaca. Begitu pintu tertutup, bahuku merosot layaknya boneka yang talinya diputus. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-paruku yang tiba-tiba terasa sempit.

Pandanganku kembali jatuh pada buku catatan di atas meja. Daftar mantan kekasih. Rencana untuk mencari penutupan agar aku bisa melangkah ke usia 25 dengan tenang. Semua logika dan struktur yang kubangun dengan susah payah dalam misi 'Relationship Audit' ini mendadak terasa hancur berantakan.

Bumi bukan sekadar mantan. Dia adalah variabel yang tidak pernah bisa kuma**kkan dalam rumus mana pun. Dia adalah orang yang pergi tanpa kata putus, meninggalkan luka menganga yang selama ini hanya kututup dengan plester tipis bernama 'kesibukan'.

Aku merogoh tas, mengeluarkan ponselku. Jariku gemetar saat membuka aplikasi kontak dan mengetikkan satu nama yang selama dua tahun ini tidak berani kusentuh: *Bumi*.

Apakah ini bagian dari audit? Ataukah ini justru awal dari kehancuran yang lebih besar?

Tiba-tiba, sebuah notifikasi muncul di layar ponselku. Bukan dari Bumi, melainkan sebuah pengingat kalender yang otomatis menyala: *14 Hari Menuju Ulang Tahun ke-25.*

Waktuku hampir habis, dan subjek penelitian terpentingku baru saja mendarat di kota ini tanpa peringatan. Aku menutup buku catatanku dengan kasar, menyadari bahwa perjalanan ini baru saja berubah dari sekadar evaluasi masa lalu menjadi konfrontasi yang selama ini paling aku takuti.

Bumi sudah kembali, dan aku tidak tahu apakah aku siap untuk mendengar alasannya menghilang, atau justru lebih takut jika ternyata dia tidak punya alasan sama sekali.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca