Tanganku terasa dingin, meski kopi hitam di depanku masih mengepulkan uap panas. Aku berulang kali merapikan letak map plastik bening di atas mejaβsenjataku, perisaiku. Di dalamnya terdapat lembar evaluasi yang sudah kusiapkan, lengkap dengan pertanyaan-pertanyaan yang telah kulatih di depan cermin selama dua jam tadi pagi.
Namun, semua persiapan itu terasa menguap saat pintu kafe berdenting dan sesosok pria dengan jaket kulit cokelat melangkah ma**k. Damar.
Dua tahun tidak bertemu tak banyak mengubahnya. Ia masih memiliki senyum miring yang dulu kupikir adalah tanda pesona, namun kini kusadari itu hanyalah topeng dari rasa percaya diri yang berlebihan. Ia berjalan ke arahku dengan langkah sant**, seolah-olah ia tidak pernah menghancurkan harga diriku berkeping-keping di masa lalu.
"Naya. Masih tepat waktu seperti biasanya," sapanya tanpa rasa bersalah, lalu duduk di hadapanku tanpa menunggu dipersilakan.
Aku memaksakan diri untuk menarik napas dalam, merasakan sesak yang familiar di dada. "Terima kasih sudah mau datang, Damar."
"Jadi, apa ini?" Ia melirik map di meja dengan tatapan meremehkan. "Surat somasi? Atau kamu mau mengajakku balikan dengan cara yang sangat... administratif?" Ia tertawa kecil, suara yang dulu membuatku merasa bersalah jika tidak ikut tertawa, namun kini hanya terdengar seperti gesekan amplas di telingaku.
"Ini namanya *Relationship Audit*," kataku, berusaha menjaga suaraku tetap stabil. "Aku butuh perspektifmu tentang kenapa hubungan kita berakhir. Untuk kepentinganku sendiri, agar aku bisa melangkah maju."
Damar menyandarkan tubuhnya ke kursi, melipat tangan di depan dada. Matanya menyipit, memindai wajahku dengan tatapan yang membuatku merasa kecil. "Kamu serius? Naya, sudah berapa lama? Dan kamu masih terjebak di masa lalu? Ini masalahmu, Nay. Kamu selalu terlalu serius. Selalu ingin menganalisis segala sesuatu sampai tidak ada lagi sisa kesenangan di dalamnya."
Aku merasakan dorongan lama untuk meminta maaf, untuk menciut dan setuju dengannya agar suasana tidak canggung. Namun, aku teringat pada malam-malam yang kuhabiskan dengan menangis karena ia membuatku merasa bahwa setiap pertengkaran kami adalah kesalahanku.
"Aku tidak minta penilaian tentang kepribadianku yang sekarang," potongku, suaraku sedikit lebih keras. "Aku hanya ingin tahu, dari sudut pandangmu, apa yang salah saat itu?"
Damar mendengus. Ia mengambil cangkir kopiku tanpa izin dan menyesapnya sedikit. "Kamu mau kejujuran? Oke. Kamu itu melelahkan, Nay. Kamu terlalu menuntut. Setiap kali aku pulang malam atau lupa memberi kabar, kamu bereaksi seolah-olah dunia kiamat. Kamu membuatku merasa seperti penjahat hanya karena aku ingin punya ruang sendiri."
"Ruang sendiri?" Aku merasakan darahku mulai mendidih. "Kamu menghilang selama tiga hari tanpa kabar saat aku ma**k rumah sakit karena tipus. Itu yang kamu sebut 'ruang sendiri'?"
"Lihat itu!" Damar menunjuk wajahku dengan jari telunjuknya. "Kamu selalu membawa-bawa daftar dosa masa lalu. Kamu tidak pernah bisa memaafkan. Kamu membuatku merasa tercekik dengan standar sempurnamu itu. Wajar kan kalau akhirnya aku mencari udara segar di luar? Kamu yang mendorongku pergi, Naya. Kamu yang membuatku tidak betah."
Kalimat ituβ*kamu yang mendorongku pergi*βadalah mantra yang ia gunakan selama setahun kami bersama. Dulu, aku akan langsung tertunduk, meminta maaf, dan berjanji akan menjadi lebih baik hanya agar ia tidak meninggalkan aku. Tapi sekarang, saat aku menatap matanya yang dingin, aku melihat sesuatu yang berbeda. Aku tidak melihat kebenaran; aku melihat taktik.
Aku menutup mapku dengan suara 'plak' yang c**up keras.
"Tidak, Damar," kataku, kali ini dengan punggung tegak. "Aku tidak mendorongmu pergi. Aku hanya menetapkan batas agar aku tidak diperlakukan seperti sampah, dan kamu benci itu karena kamu tidak bisa mengendalikan aku lagi. Kamu berselingkuh bukan karena aku 'menuntut', tapi karena kamu pengecut yang tidak berani mengakhiri hubungan sebelum mencari pengganti."
Wajah Damar memerah. Senyum miringnya hilang, digantikan oleh gurat kemarahan. "Kamu pikir kamu sudah hebat sekarang? Hanya karena membawa map bodoh ini? Kamu tetap Naya yang sama, Naya yang haus validasi dan takut sendirian."
"Mungkin aku memang takut sendirian dulu," balasku, merasakan beban berat perlahan terangkat dari bahuku. "Tapi berada di sini, bicara denganmu, membuatku sadar bahwa sendirian jauh lebih baik daripada berada di dekat orang yang menghabiskan energinya untuk membuat orang lain merasa kecil agar dirinya merasa besar."
Aku berdiri, meraih tas dan mapku. "Terima kasih, Damar. Kamu baru saja memberiku penutupan yang lebih baik daripada yang kuharapkan. Aku tidak butuh jawabanmu di kertas ini. Aku sudah punya jawabannya di kepalaku."
Aku melangkah keluar dari kafe tanpa menoleh lagi. Udara sore Jakarta yang lembap terasa begitu segar di paru-paruku. Untuk pertama kalinya dalam misi ini, aku tidak merasa gagal. Aku merasa menang.
Namun, saat aku ma**k ke dalam mobil dan menyalakan mesin, mataku tertuju pada daftar nama di kursi penumpang. Tinggal satu nama tersisa. Nama yang paling ingin kuhindari, namun juga yang paling kubutuhkan penjelasannya.
Bumi.
Hanya dengan memikirkan namanya, tanganku kembali gemetar. Damar adalah racun, tapi Bumi... Bumi adalah luka terbuka yang tidak pernah mengering. Jika menghadapi Damar saja membutuhkan keberanian sebesar ini, bagaimana aku bisa menghadapi pria yang menghilang begitu saja saat aku sudah memberikan seluruh duniaku padanya?
Ponselku bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar. Itu adalah pengingat kalender yang kusetel berbulan-bulan lalu: *Satu minggu menuju ulang tahun ke-25.*
Waktuku hampir habis, dan Bumi adalah labirin terakhir yang harus kutaklukkan.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!