Aroma kayu cendana dan kopi arabika yang baru diseduh memenuhi Galeri Senja, sebuah ruang pameran sekaligus kafe yang sangat mencerminkan kepribadian Adrian: tenang, tertata, dan mahal. Aku menyesuaikan letak kacamataku, lalu merapikan ujung kemeja yang sebenarnya sudah licin. Jika tiga mantan sebelumnya membuatku merasa seperti korban yang mencari keadilan, pertemuan keempat ini memberiku sensasi yang berbeda. Ada bongkahan es yang mendesak di ulu hati. Sesuatu yang menyerupai rasa bersalah.
Pukul sepuluh tepat. Lonceng di pintu berdenting, dan sosok itu muncul. Adrian Mahendra masih sama seperti dua tahun lalu. Langkahnya tegap, mengenakan kemeja biru navy dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan perak yang selalu ia banggakan ketepatannya. Ia melihatku, lalu tersenyum tipisβjenis senyum yang dulu membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia, sebelum aku menghancurkan semuanya.
"Naya. Kamu tidak berubah," sapa Adrian seraya menarik kursi di hadapanku.
"Kamu juga, Yan. Masih selalu tepat waktu," sahutku, mencoba menetralkan getaran di suaraku.
Adrian memesan *double espresso* tanpa melihat menu. Setelah pelayan pergi, suasana menjadi sunyi yang canggung. Aku buru-buru mengeluarkan tablet dan pulpen digital, "kantong ajaib" yang menjadi tamengku selama misi *Relationship Audit* ini berlangsung.
"Jadi," Adrian memulai, menyandarkan punggungnya ke kursi kayu yang kokoh. "Aku sudah baca pesan singkatmu tentang proyek 'audit' ini. Kamu serius ingin melakukannya?"
Aku mengangguk mantap, meski jemariku sedikit gemetar saat membuka folder bertajuk *Responden 4: Adrian*. "Aku butuh data, Yan. Aku hampir dua puluh lima, dan sejarah asmaraku seperti benang kusut. Aku perlu tahu di mana letak kesalahannya sebelum aku benar-benar... menyerah."
Adrian menatapku lurus. Matanya yang tajam seolah sedang memindai kejujuranku. "Kamu ingin evaluasi jujur? Tanpa bumbu?"
"Tolong. Semakin pahit, semakin baik," jawabku tegas.
Adrian terdiam saat espresso-nya datang. Ia menyesapnya perlahan, membiarkan uap tipis menghilang di antara kami. "Masalahnya bukan ada pada hubungan kita, Naya. Masalahnya ada pada cara kamu memandang 'kesempurnaan'."
Aku mulai mencatat. "Maksudmu aku terlalu menuntut?"
"Bukan. Justru sebaliknya," Adrian meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting kecil yang tajam. "Kamu memutuskan hubungan denganku di malam aku mengajakmu bertemu orang tuaku untuk pertama kalinya. Ingat? Kamu mengirim pesan teks sepuluh menit sebelum aku menjemputmu, mengatakan bahwa kita 'tidak sejalan'. Lalu kamu menghilang. Memblokirku seolah aku adalah penjahat yang baru saja merampokmu."
Aku menelan ludah. Bayangan malam itu kembali hadir. Ketakutan yang mencekam, rasa sesak yang tiba-tiba muncul saat aku menyadari bahwa Adrian serius. Bahwa hubungan ini bukan lagi sekadar kencan akhir pekan, melainkan komitmen.
"Aku merasa kita terlalu... datar," aku mencoba membela diri, namun suaraku terdengar lemah di telingaku sendiri.
Adrian terkekeh pelan, namun tidak ada nada jenaka di sana. "Datar? Atau stabil? Kamu takut pada stabilitas, Naya. Kamu terobsesi dengan 'masalah' karena kamu merasa tidak berharga jika tidak ada yang perlu diperbaiki. Saat kamu bertemu seseorang yang memperlakukanmu dengan baik, yang menawarkan masa depan yang jelas tanpa drama, kamu panik."
Ia condong ke depan, suaranya merendah. "Kamu tidak sedang mencari pasangan yang sempurna. Kamu sedang mencari alasan untuk pergi sebelum orang itu sempat menolakmu. Kamu adalah 'penjahat' dalam cerita kita, Naya. Kamu yang memegang pisaunya, tapi kamu bertingkah seolah-olah kamu yang terluka karena harus menusukku."
Kata-katanya menghantamku lebih keras daripada kritik mana pun dari mantan-mantanku sebelumnya. Selama ini, aku menipu diriku sendiri dengan label 'perfeksionis' yang pemilih. Aku pikir aku hanya selektif. Namun, di depan Adrian, topeng itu retak.
"Aku hanya takut gagal, Yan," bisikku. "Aku tidak mau memulai sesuatu yang aku tahu akan berakhir berantakan."
"Bagaimana kamu tahu itu akan berantakan kalau kamu sudah membakarnya saat apinya baru saja menghangatkan?" Adrian menggelengkan kepala. "Audit-lah dirimu sendiri, Naya. Tanya pada dirimu, kenapa kamu begitu takut dicint** secara utuh?"
Aku terdiam, memandangi layar tablet yang kini terasa berat di pangkuanku. Catatanku berhenti di kalimat *'Takut pada stabilitas'*. Adrian benar. Aku selalu mencari celah, mencari kesalahan sekecil apa pun pada pria-pria ini hanya agar aku punya alasan legal untuk melarikan diri sebelum mereka melihat betapa kacaunya aku di dalam.
Adrian berdiri, menandakan pertemuan ini selesai bagi dirinya. Ia tidak butuh penutupan dariku; ia sudah menutup buku itu sejak lama.
"Semoga kamu menemukan apa yang kamu cari, Naya. Tapi saran terakhirku: berhenti mencari kesalahan di masa lalu jika kamu tidak berani mengubah cara kamu menghadapi masa depan."
Ia melangkah pergi, meninggalkan aroma cendana yang memudar dan rasa hampa yang luar biasa di dadaku. Aku duduk sendirian di kafe yang terlalu rapi itu, menyadari bahwa daftar mantanku tinggal menyisakan satu ruang kosong yang paling menakutkan.
Aku membuka daftar kontak di ponselku. Menggulir jauh ke bawah, ke sebuah nama yang tidak pernah benar-benar menjadi mantan, tapi merupakan luka paling dalam yang pernah kurasakan.
Bumi.
Pria yang tidak pernah memberiku kesempatan untuk memutuskan hubungan, karena dialah yang lebih dulu menghilang tanpa satu kata pun. Jika dengan Adrian aku adalah penjahatnya, maka dengan Bumi, aku adalah korban yang tidak pernah mendapatkan persidangan.
Tanganku bergetar saat mengetikkan sebuah pesan singkat yang sudah kupendam selama bertahun-tahun. Pesan yang mungkin akan menghancurkan seluruh dinding pertahanan yang kubangun dengan susah payah menuju usia dua puluh lima.
*Bumi, bisa kita bicara? Aku butuh jawaban kenapa kamu pergi sepuluh tahun lalu.*
Aku menekan tombol kirim, dan seketika itu juga, duniaku terasa seperti sedang berdiri di tepi jurang yang sangat curam.
Lanjutkan Membaca Bab 7 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!