Cahaya biru dari layar laptop memantul di pupil mataku yang mulai terasa perih. Di hadapanku, sebuah tabel Excel terbuka lebar, dipenuhi dengan catatan, tanggal, dan evaluasi yang aku susun dengan presisi seorang akuntan forensik. Kolom "Alasan Putus" masih menyisakan beberapa baris kosong yang terasa seperti lubang hitam di dadaku.
Aku menyandarkan punggung ke kursi kayu yang keras, memijat pangkal hidungku. Sudah tiga mantan aku datangi, tiga percakapan canggung aku lalui, dan tiga luka lama aku korek kembali. Bukannya merasa lega, kepalaku justru berdenyut. Apakah semua ini benar-benar ada gunanya? Atau aku hanya seorang masokis yang sengaja mencari cara untuk menghancurkan sisa-sisa harga diriku sebelum lilin di kue ulang tahun ke-25 dinyalakan?
"Naya? Kamu belum tidur, Nak?"
Suara ketukan di pintu menyentak lamunanku. Ibu ma**k tanpa menunggu jawaban, membawa sepiring potongan apel yang dikupas rapi. Ia meletakkan piring itu di samping laptopku, matanya yang tajam langsung memindai layar. Cepat-cepat aku menekan pintasan *Alt+Tab* untuk menyembunyikan tabel audit si**** itu.
"Lembur kantor lagi?" tanya Ibu, duduk di tepi tempat tidurku. Suaranya lembut, tapi aku tahu ada nada interogasi yang tersembunyi di sana.
"Cuma rapi-rapi dokumen sedikit, Bu," jawabku pelan, berusaha mengulas senyum tipis.
Ibu menghela napas panjang, jenis desahan yang biasanya menjadi pembuka bagi ceramah yang sudah kuhapal di luar kepala. "Naya, Ibu bukannya mau ikut campur. Tapi umur kamu itu sebentar lagi dua puluh lima. Di usia kamu dulu, Ibu sudah menggendong kamu. Pak Bambang, teman kantor Ibu, tadi tanya-tanya soal kamu lagi."
Aku memejamkan mata sesaat. "Bu, tolong. Naya lagi fokus kerja."
"Fokus kerja atau fokus menutup diri?" Ibu menggeser duduknya mendekat, jemarinya yang mulai keriput mengusap bahuku. "Anaknya Pak Bambang itu, siapa namanya... Satria. Dia baru pulang ambil spesialis di Jerman. Orangnya sopan, mapan, dan yang paling penting, dia serius cari istri. Ibu sudah bilang kalau kamu belum ada siapa-siapa."
"Naya memang belum ada siapa-siapa, tapi bukan berarti Naya mau dijodoh-jodohkan seperti ini," sahutku, nada suaraku naik satu oktav. Aku merasa seperti sebuah produk di rak supermarket yang sudah hampir kedaluwarsa, sehingga pemilik toko harus segera banting harga agar ada yang mau mengambilnya.
"Ini bukan dijodohkan, ini dikenalkan. Apa salahnya mencoba? Dari dulu kamu itu selalu pilih-pilih sendiri, tapi hasilnya apa? Ujung-ujungnya cuma menangis di kamar dan menghapus foto-foto di HP. Kamu itu terlalu logis dalam bekerja, tapi terlalu berantakan dalam memilih laki-laki."
Kata-kata Ibu menghujam tepat di pusat rasa sakitku. Berantakan. Itulah alasanku memulai 'Relationship Audit' ini. Aku ingin merapikan keberantakan itu. Aku ingin tahu di mana letak kerusakannya agar aku bisa memperbaikinya. Namun, mendengar Ibu mengucapkannya dengan begitu gamblang membuat usahaku terasa seperti lelucon.
"Naya cuma mau cari penutupan, Bu. Naya mau tahu kenapa Naya selalu gagal sebelum Naya mulai hubungan yang baru," kataku dengan suara yang sedikit bergetar.
Ibu mendengus, tawa kecil yang terdengar pahit keluar dari bibirnya. "Penutupan itu diciptakan sendiri, Naya, bukan dicari dari masa lalu. Kamu itu seperti orang yang mau maju jalan, tapi matanya terus-terusan melihat ke spion. Ya menab**k terus! Sudahlah, hari Minggu nanti Satria mau mampir ke rumah. Kamu dandan yang cantik, jangan pakai baju kantoran yang kaku itu."
"Bu, Naya nggak bisaβ"
"Ibu sudah janji sama Pak Bambang," potong Ibu tegas, tatapannya tidak menerima bantahan. "Sekali ini saja, Naya. Buka hati kamu sedikit. Jangan sampai kamu menyesal saat teman-teman seangkatanmu sudah punya anak, dan kamu masih sibuk menganalisis kenapa mantan pacarmu di zaman kuliah dulu tidak membalas pesanmu."
Ibu berdiri, mengusap kepalaku sekali, lalu keluar dari kamar tanpa menunggu jawaban. Pintu tertutup dengan bunyi *klik* yang terasa seperti vonis mati bagiku.
Aku kembali menatap layar laptop. Cahayanya kini terasa membakar mata. Aku membuka kembali tabel audit itu. Di bawah nama-nama mantan yang sudah aku centang, ada satu baris yang sengaja aku beri warna merah. Baris yang dari awal perjalananku selalu ingin kuhindari, tapi aku tahu dia adalah kunci dari semua kegagalanku.
*Bumi.*
Hanya itu namanya. Tanpa evaluasi, tanpa alasan putus, karena memang kami tidak pernah benar-benar putusβkarena kami tidak pernah benar-benar memulai. Dia adalah hantu yang menghuni setiap sudut kepalaku, perbandingan yang aku gunakan untuk menilai setiap laki-laki yang mendekatiku, dan alasan mengapa tidak ada satu pun dari mereka yang pernah merasa c**up.
Tiba-tiba, misi audit ini terasa begitu melelahkan. Rasanya seperti mendaki gunung yang puncaknya tidak pernah terlihat. Aku bertanya-tanya, apakah aku sedang mencari kebenaran, atau aku hanya sedang menunda waktu agar tidak perlu menghadapi kenyataan bahwa mungkin saja, masalahnya bukan pada mantan-mantanku. Mungkin masalahnya adalah aku masih mencint** bayangan yang sudah lama hilang.
Ponselku bergetar di atas meja. Sebuah pesan WhatsApp ma**k dari nomor yang tidak kukenal.
*βHalo, Naya. Ini Satria, anaknya Pak Bambang. Ibu kamu bilang aku boleh hubungi kamu. Boleh kita bicara sebentar?β*
Aku menatap layar ponsel itu dengan perasaan mual. Tekanan dari Ibu, audit yang buntu, dan kini Satria. Aku merasa tercekik. Jemariku gemetar saat aku justru tidak membalas pesan Satria, melainkan menggeser kursor ke arah sebuah folder tersembunyi di sudut desktop. Folder yang berisi foto-foto lama sepuluh tahun yang lalu.
Di sana, seorang remaja laki-laki dengan tawa lepas merangkul bahuku di bawah pohon kersen sekolah. Bumi.
"Aku harus menyelesaikannya," bisikku pada kesunyian kamar. "Bukan dengan Satria, bukan dengan audit bodoh ini. Tapi dengan dia."
Namun, saat aku mencoba mencari keberadaan Bumi di media sosial untuk kesekian kalinya, sebuah notifikasi baru muncul di email kantorku. Sebuah undangan pertemuan koordinasi untuk proyek baru di kantor pusat. Dan di kolom daftar undangan, sebuah nama tercetak dengan jelas, membuat jantungku seolah berhenti berdetak: *Bumi Langit - Senior Architect.*
Tanganku dingin seketika. Apakah ini jawaban dari semesta, atau justru sebuah jebakan yang akan membuat audit patah hatiku berakhir dengan kehancuran total?
Lanjutkan Membaca Bab 8 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!