Cahaya biru dari layar laptop adalah satu-satunya sumber penerangan di kamar Naya malam itu. Jam dinding sudah menunjukkan pukul satu pagi, namun jemari Naya masih menari lincah di atas *trackpad*, menggulir tumpukan informasi yang terasa hampa. Di depannya, sebuah dokumen Excel berjudul *Relationship Audit* terbuka lebar. Seluruh baris telah terisi dengan catatan rapi hasil wawancara dengan para mantan, kecuali satu baris di paling bawah yang masih kosong melompong.
Bumi Narendra.
Nama itu terasa berat di lidah, bahkan saat hanya diucapkan dalam hati. Naya menghela napas panjang, membiarkan punggungnya bersandar pada kursi kerja yang mulai terasa keras. Matanya perih, efek dari tiga jam tanpa henti menatap layar. Ia mematikan filter *blue light*, membuat layar tampak lebih kuning dan hangat, namun rasa sesak di dadanya tak kunjung mereda.
Ia memulai pencarian dari tempat paling logis: Instagram. Naya mengetikkan nama lengkap Bumi di kolom pencarian. Hasilnya? Nihil. Ada ratusan "Bumi Narendra" di luar sana, mulai dari fotografer di Bali hingga seorang balita di Surabaya, tapi tak satu pun yang memiliki sorot mata jenaka dan tahi lalat kecil di bawah alis kiri seperti Bumi yang ia kenal.
"Nggak mungkin kamu nggak punya media sosial, Bum. Mustahil," gumam Naya pada kesunyian kamarnya.
Naya mencoba mengingat-ingat nama pengguna lama Bumi. *Earthbound_B? Narendra.B?* Ia mencoba segala kombinasi, namun yang ia temukan hanyalah halaman-halaman "User Not Found" yang seolah mengejek usahanya. Bumi seolah-olah telah menguap dari peradaban digital. Bagi Naya yang hidup dengan data dan keteraturan, hilangnya jejak digital seseorang terasa seperti sebuah anomali yang mengganggu.
Frustrasi, ia beralih ke LinkedIn. Jika Bumi tidak ingin ditemukan untuk urusan personal, setidaknya ia pasti butuh pekerjaan, bukan? Naya mengetikkan nama itu lagi. Beberapa profil muncul. Ada seorang analis keuangan di Singapura dan arsitek di Jakarta. Naya mengklik profil si arsitek dengan jantung berdebar. Foto profilnya menunjukkan seorang pria dengan kacamata hitam di depan gedung bertingkat. Naya memperbesar foto itu hingga pecah dan kabur. Bukan. Struktur rahangnya berbeda.
Naya memijat pelipisnya. Mencari Bumi ternyata jauh lebih sulit daripada menghadapi sinisme mantannya yang kedua atau tangisan mantannya yang ketiga. Bumi bukan sekadar mantan; dia adalah lubang hitam dalam sejarah hidup Naya. Mereka tidak pernah secara resmi mengakhiri apa pun, karena mereka bahkan tidak pernah secara resmi memulainya. Mereka hanya... berhenti. Tepat sebelum Naya sempat bertanya, *'Kita ini apa?'*
Pikirannya melayang pada malam terakhir mereka bertemu, enam tahun lalu, di kedai kopi pinggir jalan yang kini sudah berganti menjadi minimarket. Bumi berjanji akan mengabarinya setelah urusan keluarganya di luar kota selesai. Kabar itu tidak pernah datang. Teleponnya mati, pesannya hanya centang satu, dan rumah keluarganya kosong saat Naya memberanikan diri berkunjung sebulan kemudian.
"Oke, cara lama," bisik Naya.
Ia membuka aplikasi WhatsApp dan mencari nama 'Dika'. Dika adalah teman satu tongkrongan Bumi saat SMA, tipe orang yang biasanya tahu segalanya tentang semua orang. Naya ragu sejenak. Sudah hampir empat tahun ia tidak bertegur sapa dengan Dika sejak pertemuan tidak sengaja di sebuah mal.
*Naya: "Dika, sori ganggu malem-malem. Gue Naya. Lo masih punya kontak Bumi Narendra nggak ya?"*
Naya menatap layar, menunggu. Satu menit. Lima menit. Ia hampir melempar ponselnya ke ka**r saat sebuah notifikasi muncul.
*Dika: "Naya? Wah, lama nggak dengar kabar. Bumi ya? Aduh, Nay. Terakhir gue dengar dia pindah ke Malang, tapi itu udah lama banget. Dia kayak mutus kontak sama anak-anak sini."*
Jantung Naya mencelos. *Mutus kontak?*
*Naya: "Serius? Sama sekali nggak ada yang tahu dia di mana? IG atau apa gitu?"*
*Dika: "Dia sempat punya IG, tapi setahun lalu kayaknya dihapus deh. Eh, bentar. Gue ada foto grup pas nikahan si Rendy dua tahun lalu. Kayaknya ada dia di situ, tapi dia nggak di-tag. Gue kirim ya."*
Sebuah gambar terunduh perlahan. Naya menahan napas. Foto itu menunjukkan kerumunan orang di sebuah aula pernikahan. Di sudut kanan belakang, berdiri seorang pria dengan kemeja batik yang tampak sedikit terlalu besar untuk tubuhnya. Pria itu tidak menghadap kamera; dia sedang berbicara dengan pelayan.
Naya menzoom foto itu sekuat tenaga. Meski buram, ia mengenali gestur itu. Cara pria itu mema**kkan satu tangan ke saku celana dan sedikit memiringkan kepala saat mendengarkan lawan bicara. Itu Bumi. Pasti itu dia.
*Dika: "Cuma itu yang gue punya, Nay. Oh, ada satu lagi. Dulu dia pernah kerja di sebuah agensi desain grafis di Bandung, namanya 'Titik Temu'. Coba lo cek di sana, siapa tahu masih ada temannya yang nyangkut."*
"Titik Temu," Naya menuliskan nama itu di buku catatannya dengan tinta hitam yang tebal.
Naya segera mencari agensi tersebut di internet. Akun Instagram agensi itu aktif. Ia mulai melakukan *deep-stalking* pada daftar pengikut dan unggahan lama mereka. Ia memeriksa foto demi foto, mencari wajah yang ia rindukan sekaligus ia benci itu.
Setelah hampir satu jam menyisir ratusan foto kegiatan kantor, ia menemukannya. Sebuah foto perpisahan karyawan setahun yang lalu. Di sana, Bumi berdiri di tengah-tengah rekan kerjanya, memegang sebuah plakat kecil. Wajahnya terlihat lebih dewasa, ada sedikit gurat kelelahan di bawah matanya, tapi senyum tipis itu tetap sama.
Naya membaca takarir (caption) unggahan tersebut: *"Selamat menempuh babak baru di tempat yang lebih tenang, Bumi! Sukses untuk project barunya di Yogyakarta."*
Yogyakarta.
Naya tertegun. Kota itu tidak terlalu besar, tapi juga tidak c**up kecil untuk menemukan seseorang hanya dengan modal sebuah nama. Ia kembali ke daftar pengikut agensi tersebut dan menemukan satu akun yang sering menyukai foto Bumi di masa lalu: @Larasati_R.
Naya mengklik profil Larasati. Akun itu tidak dikunci. Ia menggulir ke bawah dengan cepat, dan jarinya mendadak kaku saat melihat sebuah unggahan foto dua minggu yang lalu.
Foto itu menunjukkan dua buah cangkir kopi di atas meja kayu yang menghadap ke sawah. Di bawahnya tertulis: *"Diskusi sore yang selalu mencerahkan bersama si penghilang jejak @---"*
Username tersebut kosong, hanya berupa strip. Namun, di kolom komentar, ada seseorang yang bertanya, *"Bumi masih nggak mau buat akun baru ya, Ras?"*
Larasati membalas: *"Katanya dia lebih suka jadi hantu. Kalau mau ketemu, ya harus datang langsung ke tempatnya."*
Naya merasakan sensasi dingin menjalar di tengkuknya. Bumi tidak hanya hilang; dia sengaja bersembunyi. Dia menciptakan benteng di sekeliling hidupnya agar tidak bisa dijangkau oleh siapapun dari masa lalunyaβterma**k Naya.
Naya menutup laptopnya dengan bunyi klik yang tajam. Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang gelap. Ia sudah berhasil menemukan jejak-jejak kecil itu, namun rasanya seperti sedang mengejar bayangan di tengah kabut.
Apakah Bumi sengaja menghapus jejak digitalnya karena tidak ingin diingat? Atau apakah ada sesuatu yang ia hindari?
Naya meraih ponselnya, membuka aplikasi pemesanan tiket kereta api. Jarinya gemetar saat mengetikkan tujuan: Yogyakarta. Untuk audit yang satu ini, data digital ternyata tidak c**up. Ia harus terjun langsung ke lapangan, meskipun ia tahu risiko terbesarnya bukan sekadar penolakan, melainkan kenyataan bahwa mungkin Bumi memang tidak pernah ingin ditemukan olehnya.
Saat konfirmasi pembayaran tiket muncul di layar, sebuah notifikasi pesan baru ma**k dari Dika.
*Dika: "Eh Nay, gue baru inget. Dulu pas Bumi pamit, dia titip pesen aneh buat siapa pun yang nanyain dia. Katanya: 'Bilang aja aku lagi nyari cara buat berhenti jadi koma'."*
Naya terpaku. Berhenti jadi koma? Kalimat itu menggantung di udara, menciptakan teka-teki baru yang lebih menyesakkan daripada hilangnya jejak digital Bumi selama ini. Ia tahu, perjalanan ke Yogyakarta bukan lagi sekadar misi mencari jawaban, melainkan sebuah konfrontasi dengan masa lalu yang belum benar-benar selesai.
Lanjutkan Membaca Bab 9 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium π
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!