Aku hanya berniat berada di sekretariat BEM selama sepuluh menit.
Pukul 22.16, gedung pusat kegiatan mahasiswa hampir kosong. Poster Festival Arunika menutupi dinding, lampu lorong tinggal separuh, dan suara pendingin ruangan terdengar seperti dengung mesin tua. Aku duduk di depan meja Aksa Mahardika dengan map audit biru di pangkuan.
Ketua BEM paling terkenal di Universitas Arunika itu tidak tampak seperti orang yang sedang menerima laporan penyalahgunaan dana. Kemeja putihnya masih rapi. Lanyard BEM tergantung lurus di dada. Hanya lingkar gelap di bawah matanya yang menunjukkan ia sudah memimpin rapat sejak pagi.
“Angka ini tidak mungkin kebetulan,” kataku sambil membuka tabel transaksi. “Tiga vendor berbeda menerima nominal bulat pada hari yang sama. Alamat penagihannya juga mengarah ke ruko yang sama.”
Aksa membaca tanpa menyela. Itu salah satu alasan aku berani menghubunginya secara anonim dua bulan lalu. Ia terkenal pandai bicara, tetapi malam itu ia memilih mendengar.
“Siapa lagi yang punya salinan?” tanyanya.
“Aku.”
“Nama pelapor anonim itu kamu?”
Aku mengangguk. Rasanya seperti menyerahkan leher kepada seseorang yang bisa menyelamatkan atau menghancurkan beasiswaku hanya dengan satu unggahan. Bukan karena Aksa punya kuasa atas beasiswa—ia tidak punya—tetapi karena namanya c**up besar untuk membuat siapa pun yang berdiri di dekatnya ikut disorot.
“Aku tidak akan menyebut namamu,” katanya. “Sampai kita punya bukti yang bisa bertahan di pemeriksaan.”
Aku mendorong map ke arahnya. “Salinan digitalnya sudah kusimpan di tempat lain. Jangan taruh semua ini di komputer sekretariat.”
Pintu terbuka sebelum ia menjawab.
Dito Prakoso, bendahara BEM sekaligus sahabat lama Aksa, berdiri di ambang pintu. Tatapannya turun ke map biru, lalu kepadaku.
“Masih rapat?” tanyanya ringan.
“Bukan urusan festival,” jawab Aksa terlalu cepat.
Dito tersenyum. “Aku cuma mau ambil charger.”
Ia ma**k, membuka laci di dekat meja, dan mengobrol seolah tidak ada ketegangan. Namun aku melihat bagaimana matanya kembali ke map. Aku juga melihat ponselnya terangkat sesaat ketika aku berdiri untuk pulang.
Aku tidak memikirkannya sampai keesokan pagi.
Pukul tujuh lewat dua belas, Tami menelepon dengan suara panik.
“Nara, jangan buka akun gosip kampus.”
Tentu saja aku langsung membukanya.
Sebuah foto memperlihatkan aku keluar dari sekretariat BEM malam-malam sambil membawa map. Aksa berdiri di belakangku, satu tangan memegang pintu. Tidak ada sentuhan. Tidak ada ekspresi romantis. Namun caption-nya berbunyi:
Penerima beasiswa jalur khusus Ketua BEM? Pertemuan rahasia sampai tengah malam.
Dalam dua puluh menit, namaku muncul di grup kelas, forum mahasiswa, dan komentar akun festival. Orang-orang yang bahkan tidak tahu jurusanku mendadak yakin aku tidur dengan kekuasaan demi mempertahankan beasiswa.
Di perpustakaan, tempatku bekerja paruh waktu, dua mahasiswa berhenti bicara ketika aku lewat. Salah satunya menatap kartu identitasku, lalu berbisik kepada temannya.
Aku ma**k ke ruang arsip dan mengunci pintu.
Tanganku gemetar, tetapi aku tetap membuka laptop. Fakta, pikirku. Fakta selalu lebih kuat daripada suara orang.
Lalu email dari Direktorat Kemahasiswaan ma**k.
Subjek: Permintaan Klarifikasi Status Beasiswa.
Aku belum selesai membaca ketika Aksa menelepon.
“Jangan jawab media dulu,” katanya.
“Aku tidak punya media.”
“Sekarang punya.”
“Aku tidak meminta ini.”
“Aku tahu.”
“Tidak, kamu tidak tahu. Besok orang akan lupa kamu punya pacar rahasia. Mereka tidak akan lupa aku dituduh menjual diri.”
Di seberang, ia diam. Suara panggungnya hilang. Yang tersisa hanya napas seorang laki-laki yang sedang menghitung kerusakan.
“Audit belum boleh terbuka,” katanya akhirnya. “Kalau kita mengatakan pertemuan itu soal dana, orang yang kita cari akan menghapus sisanya.”
“Lalu kita harus bilang apa?”
Aksa meminta aku datang ke ruang diskusi perpustakaan. Ketika ia tiba, ia melepas lanyard sebelum duduk. Untuk pertama kali, Ketua BEM itu tampak seperti mahasiswa biasa yang tidak punya jawaban.
Ia menaruh dua cangkir kopi di meja, lalu menatapku lurus.
“Kita harus membuat mereka percaya pada cerita lain.”
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!