Hujan selalu membuat kampus tampak lebih jujur.
Poster basah menempel miring, cat tembok memudar, dan orang-orang berhenti menjaga penampilan karena terlalu sibuk mencari tempat berteduh. Malam sebelum festival, aku dan Aksa keluar dari rapat pukul sebelas. Hanya ada satu payung hitam di sekretariat.
Kami berjalan di bawahnya dengan bahu bersentuhan.
“Kamu bisa lebih ke tengah,” katanya.
“Kalau aku ke tengah, kamu kehujanan.”
“Aku lebih tinggi.”
“Air tidak menghormati jabatan.”
Ia tertawa, lalu memiringkan payung ke arahku. Akibatnya, lengan kirinya basah.
Kami baru saja menyelesaikan latihan panggung. Tim komunikasi meminta Aksa merangkul pinggangku saat sponsor bertanya soal hubungan. Aku menolak. Aksa mendukung. Kami memilih genggaman tangan dan tatapan.
Masalahnya, tatapan tidak lagi mudah dihentikan.
Di depan rektorat, petir memutus lampu taman sesaat. Aku terpeleset di anak tangga basah. Aksa menangkap lenganku, menarikku dekat. Tangannya tidak berada di pinggang, tetapi tubuh kami hampir menempel.
“Tidak apa-apa?” tanyanya.
Aku mengangguk, meski napasku tidak.
Ia tidak langsung melepaskan. Matanya turun ke bibirku lalu kembali ke mata. Gerakan kecil, tetapi aku melihatnya.
“Aksa.”
“Ya.”
“Ini tidak ada di jadwal.”
“Aku tahu.”
Hujan memagari kami dari dunia. Tidak ada kamera. Tidak ada alasan publik. Hanya satu payung, dua orang, dan jarak yang bisa hilang dengan satu keputusan.
Aku hampir mendekat.
Ponsel Aksa berdering. Nama Dito muncul. Ia melepaskan tanganku dan menjawab dengan suara rapat.
Kesempatan itu hilang.
Dito melaporkan ada perubahan pada lampiran anggaran. Aksa meminta ia tidak menyentuh sistem sampai kami datang besok. Setelah telepon selesai, kami melanjutkan berjalan.
“Dito tahu soal audit?” tanyaku.
“Tidak semua.”
“Tapi kamu mencurigainya.”
Aksa diam.
Aku berhenti lagi. “Sejak kapan?”
“Beberapa transaksi mengarah ke vendor yang ia rekomendasikan.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Belum ada bukti.”
“Aku bagian dari audit.”
“Aku tidak ingin kamu menuduh orang tanpa dasar.”
“Jangan mengemas kontrol sebagai perlindungan.”
Ia menutup mata sesaat. Kalimat itu jelas mengenai tempat yang sama dengan peringatan Selena.
“Aku salah,” katanya. “Aku terbiasa menahan informasi sampai punya strategi.”
“Dan aku terbiasa diam sampai orang lain sudah memilih cerita untukku. Kita tidak bisa membawa kebiasaan itu ke sini.”
“Ke audit atau hubungan?”
Pertanyaan itu membuatku menatapnya.
“Hubungan ini kontrak,” jawabku.
“Benar.”
“Tapi kamu tidak mengatakannya seperti percaya.”
Aksa menurunkan payung sedikit agar aku bisa melihat wajahnya jelas.
“Kalau ini bukan pura-pura,” katanya, “kamu akan tetap pergi setelah hari ketiga puluh?”
Dunia mengecil menjadi suara hujan.
Aku ingin menjawab tidak. Aku ingin mengatakan sudah mulai menghitung hari dengan rasa takut, bukan lega. Namun aku juga tahu kami berdiri di tengah audit, rumor, dan kontrak. Perasaan yang tumbuh dalam krisis bisa terasa seperti kebenaran karena tidak pernah diuji dalam keadaan normal.
“Aku tidak tahu,” kataku.
Aksa mengangguk. “Jawaban yang jujur.”
“Dan kamu?”
Ia menatapku lama. “Aku tahu jawabanku. Tapi aku tidak akan mengatakannya saat kamu masih terikat pada kesepakatan yang kubuat.”
Kami tiba di depan kos. Ia menyerahkan payung kepadaku.
“Besok,” katanya, “apa pun yang terjadi di panggung, kita ikuti isyarat yang sudah disepakati.”
Aku menerima payung. “Tidak ada improvisasi.”
“Tidak ada.”
Kami berdua berbohong.
Karena sejak cemburu diakui, hampir semua yang kami lakukan sudah menjadi improvisasi.
Lanjutkan Membaca Bab 10 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!