Panggung Festival Arunika adalah tempat terburuk untuk menyadari aku jatuh cinta.
Lampu putih menyorot, ribuan mahasiswa memenuhi lapangan, dan sponsor utama berdiri di sisi panggung dengan wajah tidak senang. Beberapa menit sebelumnya, akun gosip mengunggah rumor bahwa hubunganku dengan Nara hanya strategi BEM untuk menutupi masalah keuangan festival.
Rumor itu terlalu dekat dengan kebenaran.
Pembawa acara menyerahkan mikrofon. “Ketua Aksa, publik ingin tahu—apakah hubungan ini nyata atau sekadar pencitraan?”
Tim komunikasiku membeku.
Rencana awal adalah jawaban singkat, lalu foto bersama. Namun sponsor memberi isyarat dari bawah panggung: yakinkan mereka atau dukungan dihentikan.
Aku menatap Nara.
Kami sudah menyepakati isyarat untuk sentuhan: aku mengangkat tangan, ia mengangguk. Untuk sesuatu yang tidak direncanakan, kami punya pilihan berhenti.
Aku mengulurkan tangan.
Nara melihatnya, lalu menatap mataku. Ia tahu apa yang mungkin kulakukan. Aku tidak bergerak sampai ia mengangguk kecil.
Aku menariknya mendekat dan mencium bibirnya.
Suara penonton meledak.
Namun setelah detik pertama, dunia menjadi sunyi.
Nara tidak kaku. Tangannya mencengkeram depan kemejaku. Ciuman itu seharusnya singkat, c**up untuk kamera. Tetapi ketika ia membalas, semua naskah hilang. Aku merasakan napasnya, ketegangan yang dilepas, dan sesuatu yang selama ini kami kunci di antara klausul.
Aku mundur sebelum kehilangan sisa akal.
Wajah Nara memerah. Matanya tidak marah, hanya terkejut oleh sesuatu yang sama-sama kami rasakan.
Aku menghadap penonton. “Hubungan kami bukan alat untuk memengaruhi keputusan akademik. Dan kehidupan pribadi Nara tidak mengurangi haknya atas beasiswa yang diperoleh melalui prestasi.”
Sorak penonton menutupi gemetar kecil dalam suaraku.
Sponsor bertahan. Acara lanjut. Tim media menganggap krisis selesai.
Di belakang panggung, Nara berdiri di ruang gelap dekat tumpukan properti. Aku ma**k setelah memastikan tidak ada kamera.
“Itu tidak ada di kontrak,” katanya.
“Aku tahu.”
“Dan bukan bagian dari isyarat.”
“Kamu mengangguk.”
“Aku mengangguk karena tahu kamu akan menciumku. Bukan karena tahu rasanya akan seperti itu.”
Aku tidak punya jawaban aman.
“Maaf,” kataku. “Kalau kamu merasa—”
“Jangan langsung mengubahnya jadi permintaan maaf publik.”
“Aku tidak.”
“Kamu memakai suara Ketua BEM.”
Aku melepas lanyard dan meletakkannya di atas kotak kabel.
“Nara.”
Ia memejamkan mata sebentar. “Kamu juga merasakannya?”
Aku sudah berjanji pada diri sendiri tidak akan mengaku penuh selama kontrak aktif. Namun berbohong sekarang akan lebih buruk.
“Ya.”
Ia membuka mata.
“Sejak kapan?”
“Tidak tahu persis. Sebelum hari ini.”
“Kenapa tidak bilang?”
“Karena kontrak itu idenya dariku. Karena aku punya posisi publik lebih besar. Karena kamu harus bisa memilih tanpa merasa berutang pada strategi.”
Nara menatap lanyard di kotak. “Tapi kamu baru saja menciumku untuk menyelamatkan sponsor.”
Kalimat itu menusuk tepat. Persetujuan ada, tetapi konteksnya tetap tekanan.
“Aku salah menjadikan satu-satunya jalan seolah keputusan spontan,” kataku. “Kamu berhak marah.”
“Aku tidak tahu aku marah pada apa.”
“Pada aku?”
“Pada diriku karena ingin kamu mengulanginya.”
Darah berdesir di telingaku.
Kami berdiri satu langkah terpisah. Aku bisa mendekat. Ia tidak mundur. Namun aku memaksa tangan tetap di sisi tubuh.
“Tidak di sini,” kataku.
Nara tersenyum pahit. “Karena kamera?”
“Karena aku ingin ciuman berikutnya tidak punya fungsi apa pun.”
Sebelum ia menjawab, Kirana mengetuk pintu. “Aksa, ada masalah di ruang keuangan. Nara juga harus datang.”
Kami mengikuti Kirana ke sekretariat. Di layar komputer, Nara membuka lampiran anggaran yang baru dikirim.
Satu perusahaan menerima transfer terbesar. Di bagian otorisasi terdapat tanda tangan digitalku.
“Aku tidak pernah menandatangani ini,” kataku.
Nara memperbesar metadata. Wajahnya berubah.
“Kalau begitu,” katanya, “seseorang bukan cuma mencuri dana. Mereka sedang menyiapkan kamu sebagai tersangka.”
Lanjutkan Membaca Bab 11 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!