Aku memeriksa tanda tangan digital Aksa tiga kali.
Sertifikatnya sah. Waktu penandatanganan tercatat dua bulan lalu. Nomor perangkat mengarah ke komputer sekretariat. Semua hal yang biasa dipakai untuk membuktikan keaslian justru membuat pemalsuan itu tampak sempurna.
Aksa berdiri di belakang kursiku. Ciuman di panggung baru terjadi satu jam lalu, tetapi rasanya berasal dari kehidupan lain.
“Komputer ini pernah kamu tinggalkan dalam keadaan terbuka?” tanyaku.
“Sering saat rapat inti.”
“Siapa yang punya akses?”
“Kirana, Dito, staf administrasi.”
“Dan siapa yang merekomendasikan vendor?”
Ia diam.
Aku memutar kursi. “Aksa.”
“Dito.”
Nama itu tidak mengejutkanku. Yang mengejutkan adalah cara Aksa mengucapkannya—seperti seseorang mengakui retak pada fondasi rumah sendiri.
Aku membuka map audit biru. Data yang selama ini terpisah mulai membentuk pola: vendor baru, transaksi bulat, alamat sama, lampiran pengadaan yang dibuat setelah pembayaran, dan tanda tangan Aksa yang ditempel pada dokumen final.
“Ada rekening tujuan yang belum kita lihat,” kataku. “Bima sedang memeriksa pemilik manfaat.”
Aksa menegang ketika mendengar nama Bima, lalu mengembuskan napas. “Baik.”
Aku hampir tersenyum. “Kemajuan.”
“Jangan menilai aku ketika kita sedang mencari pencuri.”
“Aku auditor. Menilai adalah kebiasaan.”
Kami bekerja sampai lewat tengah malam. Aksa menghubungi Kirana untuk membekukan akses tanpa menjelaskan target. Aku memeriksa versi file. Dito beberapa kali mengirim pesan menanyakan hasil festival, tetapi Aksa tidak menjawab.
Di sela pekerjaan, mataku terus kembali ke bibirnya. Itu membuatku marah pada diri sendiri. Seseorang sedang mengalihkan dana mahasiswa, beasiswaku dipertaruhkan, dan otakku memilih mengulang satu ciuman.
Aksa menyadari tatapanku.
“Apa?” tanyanya.
“Tidak ada.”
“Suaramu berubah kalau berbohong.”
“Sejak kapan kamu memperhatikan?”
“Sejak sebelum kontrak.”
Ruangan menjadi terlalu tenang.
Aku menunjuk layar. “Fokus.”
Ia duduk di seberang. “Nara, soal panggung—”
“Besok.”
“Aku tidak ingin kamu tidur dengan pertanyaan apakah aku menyesal.”
Tanganku berhenti di keyboard.
“Aku tidak menyesal mencium kamu,” katanya. “Aku menyesal keadaan membuat persetujuan kita tidak sesederhana yang seharusnya.”
Jawaban itu tepat. Bukan rayuan, bukan pembenaran.
“Aku juga tidak menyesal,” kataku. “Tapi itu membuat audit lebih berbahaya.”
“Karena?”
“Karena sekarang kalau aku menemukan bukti tentang orang yang kamu sayangi, aku tidak tahu apakah kamu akan percaya dataku atau melindungi hidupmu.”
Aksa menatap map biru. “Aku akan memilih bukti.”
“Kalimat itu mudah sebelum bukti punya nama.”
Ponselku berbunyi. Bima mengirim hasil awal. Perusahaan penerima dana dimiliki oleh seorang perempuan bernama Ratih Prakoso.
Nama keluarga yang sama dengan Dito.
Aku menunjukkan layar.
Aksa membaca tanpa berkedip. “Ibunya.”
“Masih mau bilang belum c**up dasar?”
“Aku mau verifikasi.”
“Kita sudah punya alamat, nomor telepon, dan hubungan keluarga.”
“Aku tidak bilang kamu salah.”
“Tapi kamu belum bilang aku benar.”
Ia berdiri dan berjalan ke jendela. Dalam pantulan kaca, Ketua BEM yang karismatik itu tampak seperti anak laki-laki yang baru tahu sahabatnya mungkin memakai kepercayaannya sebagai kunci.
“Aku mengenal Dito sejak SMA,” katanya. “Dia yang ada saat ayahku menjadikan keluargaku materi kampanye. Dia yang membantu aku menang pemilihan tanpa uang keluarga.”
“Aku mengerti.”
“Tidak, kamu sedang menyiapkan diri untuk mengatakan pemahaman tidak boleh mengubah fakta.”
“Itu memang yang akan kukatakan.”
Aksa tertawa pendek tanpa humor. “Karena itu aku membutuhkanmu.”
Kalimat itu terdengar terlalu pribadi untuk ruang audit.
Aku menutup lampiran. “Besok kita bicara dengan Dito?”
“Belum. Kalau dia pelakunya, ia akan menghapus jejak.”
“Lalu?”
“Kita cari log akses komputer.”
Aku menyimpan file ke drive terenkripsi. Saat hendak pergi, layar menampilkan det**l baru: lampiran palsu dibuat pukul 22.16.
Waktu yang sama dengan foto pertama kami.
Aku menatap Aksa.
“Seseorang memotret pertemuan kita,” kataku, “lalu memakai kekacauan itu untuk menutup perubahan dokumen.”
Untuk pertama kalinya, skandal dan audit bukan dua masalah terpisah.
Seseorang telah merancang keduanya sebagai satu perangkap.
Lanjutkan Membaca Bab 12 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!