Aku sedang menyusun buku di rak perpustakaan ketika seluruh ponsel di ruangan berbunyi hampir bersamaan.
Tidak ada suara yang lebih menakutkan daripada notifikasi massal ketika hidupmu sedang menjadi topik publik.
Tami datang berlari. “Nara, jangan lihat komentar dulu.”
Aku sudah membuka unggahan.
Dua belas halaman kontrak kami tersebar dalam bentuk PDF. Nama lengkap, tanda tangan digital, jadwal tampil, aturan sentuhan, dan klausul yang kucoret dengan pena merah terlihat jelas. Caption akun gosip menyebut kami pembohong yang memanipulasi publik, sponsor, dan sistem beasiswa.
Watermark di sudut kanan: SEKRETARIAT_BEM_COPY02.
Versi komputer Aksa.
Tanganku dingin.
Aksa menelepon. Aku menolak. Ia menelepon lagi. Kutolak lagi.
Beberapa menit kemudian ia muncul di perpustakaan bersama tim media. Lanyard masih tergantung. Suara Ketua BEM sudah aktif.
“Kita harus keluarkan pernyataan dalam tiga puluh menit,” katanya. “Kita akui kontrak sebagai strategi perlindungan privasi, jelaskan BEM tidak punya kuasa atas beasiswa, lalu—”
“Apa kamu bertanya dulu kepadaku?”
Ia berhenti.
“Aku sedang mencoba menghentikan kerusakan.”
“Dengan membuat cerita baru?”
“Nara, setiap menit tanpa respons membuat rumor tumbuh.”
“Biarkan.”
“Beasiswamu—”
“Bukan milikmu untuk diselamatkan.”
Tim media saling pandang. Aksa memberi isyarat agar mereka keluar. Setelah pintu tertutup, ia melepas lanyard.
Terlambat.
“Aku minta maaf,” katanya. “Aku ma**k dengan mode krisis.”
“Mode krisismu selalu berarti kamu bicara dulu, aku mengikuti.”
“Itu tidak adil.”
“Kontrak ini idemu. Konferensi pers idemu. Ciuman di panggung juga keputusanmu dalam beberapa detik.”
“Kamu memberi persetujuan.”
“Aku tahu. Aku tidak mengatakan kamu memaksa. Aku mengatakan seluruh situasi membuatku terus memilih dari opsi yang sudah kamu susun.”
Wajahnya berubah. Ia mendengar perbedaannya.
Ponselku berbunyi. Email dari Direktorat Kemahasiswaan ma**k.
Status beasiswa ditinjau sementara sampai pemeriksaan etik selesai.
Aku menunjukkan layar.
Aksa memejamkan mata. “Aku akan bicara dengan Dr. Ratna.”
“Tidak.”
“Aku tidak akan memengaruhi keputusan, hanya menjelaskan—”
“Tidak. Klausul ketiga.”
Ia menurunkan tangan.
Aku membuka salinan kontrak. Setiap aturan yang dulu membuatku merasa terlindungi kini tampak seperti bukti bahwa seluruh kedekatan kami bisa dijelaskan sebagai tugas.
Foto kopi. Genggaman tangan. Jaket. Payung. Ciuman.
Komentar publik mengulang pertanyaan yang selama ini kuhindari: mana yang nyata?
“Apa perasaanmu juga bagian strategi?” tanyaku.
“Tidak.”
“Buktikan tanpa pidato.”
Aksa mendekat satu langkah, lalu berhenti. “Aku jatuh cinta padamu.”
Kalimat itu seharusnya menjadi jawaban yang kuinginkan.
Namun ia mengatakannya ketika seluruh kampus menyebut kami pembohong. Ketika kontrak membuat setiap pengakuan terdengar seperti taktik baru.
“Aku tidak bisa menerimanya sekarang,” kataku.
“Aku tidak meminta kamu menjawab.”
“Tapi kamu tetap memilih waktu pengakuan setelah krisis memaksamu.”
Ia menunduk. “Ya.”
Kejujuran itu menyakitkan lebih dalam.
Tami mengetuk dan ma**k dengan wajah pucat. “Akun resmi kampus meminta klarifikasi. Senat memanggil Aksa. Dan ada unggahan baru—mereka bilang audit dana cuma rekayasa untuk memberi Nara peran pahlawan.”
Audit yang sebenarnya kini terlihat seperti bagian dari sandiwara.
Aksa mengambil napas. “Kita harus lindungi bukti.”
“Kita akan lindungi bukti,” kataku. “Tapi tidak sebagai pasangan.”
Ia menatapku.
Aku belum mengakhiri kontrak. Belum saat itu. Namun di antara kami, sesuatu sudah pecah lebih dulu.
Di luar perpustakaan, kamera mulai berkumpul.
Di layar, seluruh kampus membaca aturan hubungan kami.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak tahu apakah orang yang paling banyak kehilangan diriku adalah publik, Aksa, atau aku sendiri.
Lanjutkan Membaca Bab 14 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!