Hari kedua puluh tiga, aku mengembalikan lanyard Aksa.
Benda itu tertinggal di tas sejak konferensi pers pertama. Selama berminggu-minggu, aku membawanya seperti simbol kedekatan yang tidak pernah kuminta. Sekarang aku meletakkannya di meja sekretariat di antara kami.
“Aku mengakhiri kontrak,” kataku.
Aksa berdiri di sisi lain. Ruangan kosong. Poster festival sudah mulai diturunkan, menyisakan bekas selotip dan warna dinding yang tidak rata.
“Kamu yakin?” tanyanya.
“Jangan tanya seperti kamu berharap aku berubah pikiran.”
“Aku berharap. Tapi aku tetap harus memastikan ini pilihanmu.”
Aku membuka dokumen digital, memilih klausul hak berhenti, dan menandatangani pemberitahuan. Tanggal berhenti: hari ke-23.
Aksa menerima notifikasi di ponselnya. Wajahnya tidak menunjukkan banyak, tetapi tangannya menggenggam tepi meja.
“Aku akan menghormati keputusanmu.”
“Bagus.”
“Untuk audit, aku sudah menyerahkan salinan log kepada Dr. Ratna.”
“Aku akan bekerja langsung dengan tim pemeriksa.”
“Aku tidak akan menghubungi pihak beasiswa.”
“Bagus.”
Percakapan kami berubah menjadi daftar, mungkin karena daftar lebih aman daripada perasaan.
Aksa berkata ingin mengadakan konferensi pers sendiri dan mengakui kontrak sebagai strateginya. Aku menolak hadir.
“Publik harus tahu kamu tidak memanfaatkan jabatan,” katanya.
“Aku akan membela diriku dengan caraku.”
“Nara—”
“Aku bukan alibimu.”
Kalimat itu menghentikannya.
Aku mengambil map biru, laptop, dan salinan data. Saat melewati meja, Aksa berkata, “Perasaanku tidak berakhir karena kontraknya berakhir.”
Aku tidak menoleh. “Perasaan bukan alasan untuk mempercayai seseorang.”
Di luar sekretariat, Bima menunggu. Ia tidak menanyakan apa yang terjadi. Ia hanya mengambil satu kardus dokumen dan berjalan di sampingku.
Kami melewati kerumunan mahasiswa. Beberapa memotret. Aku mendengar bisikan: pacar palsu, beasiswa palsu, auditor palsu.
Setiap kata membuat punggungku ingin membungkuk. Namun aku memaksa langkah tetap lurus.
Di rumah, Ibu Wening sudah menunggu setelah melihat berita. Ia memelukku, lalu langsung menyarankan aku mengambil cuti.
“Damarah kampus akan reda kalau kamu berhenti muncul,” katanya.
“Aku tidak melakukan kesalahan.”
“Ibu tahu. Tapi kadang aman lebih penting daripada benar.”
Kalimat itu mengembalikan aku ke sekolah, ketika pesan pribadiku disebarkan dan semua orang menyuruhku diam sampai mereka bosan.
“Aman untuk siapa?” tanyaku.
Ibu terdiam.
Malamnya, pesan dari nomor tak dikenal ma**k: Kami bisa menghentikan isu dan memulihkan beasiswamu. Syaratnya hentikan audit dan katakan Aksa memaksamu membuat kontrak.
Aku tahu gaya kalimat itu. Terlalu rapi, terlalu paham titik lemah.
Aku meneruskannya kepada Dr. Ratna.
Kemudian Aksa mengirim satu pesan:
Aku tidak akan meminta kamu kembali. CCTV malam kontrak disalin sedang dicari. Jaga salinan auditmu.
Aku tidak membalas.
Beberapa menit kemudian, akun gosip mengunggah foto Aksa mema**ki gedung senat. Caption: Ketua BEM dinonaktifkan sementara.
Aku menatap gambar itu lama.
Sebagian diriku ingin datang, berdiri di sampingnya, dan mengatakan kami akan menyelesaikan ini bersama. Bagian lain mengingat bagaimana setiap kali aku berdiri di sampingnya, publik berhenti melihatku sebagai diriku sendiri.
Aku mematikan ponsel.
Kontrak kami berakhir tujuh hari lebih cepat.
Namun untuk pertama kalinya, skandal itu menjadi nyata bukan karena publik tahu hubungan kami palsu.
Melainkan karena aku menyadari perasaan kami nyata, dan itu tetap tidak c**up untuk membuatku tinggal.
Lanjutkan Membaca Bab 15 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!