Aksa menungguku di perpustakaan lant** tiga tanpa lanyard, tanpa tim, dan tanpa rencana komunikasi.
Aku hampir tidak mengenalinya.
Bukan karena pakaiannya berbeda. Ia tetap memakai kemeja rapi. Namun tubuhnya tidak lagi membawa keyakinan bahwa ruangan akan menyesuaikan diri. Ia berdiri ketika aku datang, lalu menunggu aku memilih kursi.
“Aku hanya perlu menyerahkan bukti,” katanya.
“Tidak ada pidato?”
“Sudah dilarang.”
Aku duduk. Ia meletakkan flashdisk, salinan CCTV, dan surat kronologi di meja. Setiap file diberi nama jelas, tetapi tidak ada satu pun dokumen yang menempatkannya sebagai pahlawan.
“Kenapa kartu Kirana dipakai?” tanyaku.
“Dito meminjam dengan alasan mengambil dokumen sponsor. Kirana mengaku.”
“Foto pertama?”
“Sudutnya cocok dengan ruang bendahara. CCTV malam pertemuan awal tidak tersimpan, tapi metadata asli menunjukkan perangkat yang pernah login ke akun Dito.”
Aku membaca kronologi. Aksa tidak mencoba menyentuh tanganku, tidak menanyakan apakah aku merindukannya, dan tidak meminta kesempatan.
Itu seharusnya membuatku lega.
Sebaliknya, aku merasakan kehilangan yang tidak sopan.
“Senat bagaimana?” tanyaku.
“Aku tetap dinonaktifkan sampai pemeriksaan selesai.”
“Festival?”
“Kirana memimpin.”
“Kariermu?”
Ia mengangkat bahu. “Belum tahu.”
Dulu Aksa selalu memiliki jawaban. Sekarang ia membiarkan ketidakpastian duduk bersama kami.
“Aku melihat konferensi persmu,” kataku.
Ia mengadakan pernyataan sehari sebelumnya. Tanpa aku. Ia mengakui kontrak sebagai keputusan strategis yang merugikan Nara dan publik, menegaskan tidak ada pengaruh pada beasiswa, lalu menolak membahas hubungan pribadi.
“Aku tidak menyebut perasaan kita,” katanya. “Bukan hakku.”
“Kamu bisa saja membela diri lebih banyak.”
“Aku memang harus membela fakta. Tapi dampak kontrak tetap tanggung jawabku.”
Aku menutup dokumen.
“Aksa, aku belum bisa percaya hanya karena kamu melakukan hal yang benar setelah semuanya rusak.”
“Aku tahu.”
“Dan aku tidak tahu apakah kita masih punya sesuatu setelah audit.”
“Aku tahu.”
“Berhenti menjawab seperti itu.”
Ia tersenyum kecil. “Aku sedang mencoba tidak mengatur arah percakapan.”
Aku hampir tertawa. Itu membuat mataku panas.
Aksa melihat perubahan wajahku, tetapi tetap di kursinya. Tidak datang memeluk. Tidak menyentuh.
“Aku benci bahwa aku masih ingin kamu mendekat,” kataku.
Ia menarik napas pelan. “Aku tidak akan melakukannya tanpa kamu minta.”
Keheningan di antara kami tidak nyaman, tetapi untuk pertama kali tidak manipulatif.
Aku membuka video CCTV. Dito terlihat jelas ma**k menggunakan kartu Kirana. Waktu 22.16 cocok dengan log komputer. Metadata file kontrak menunjukkan salinan dibuat pada menit yang sama.
“Ini c**up untuk membuktikan kebocoran,” kataku. “Belum c**up untuk aliran dana.”
“Bima menemukan rekening penerima berikutnya.”
Aku menatapnya.
“Aku tidak menghubungi Bima,” tambah Aksa cepat. “Selena yang menghubungkan tim.”
“Tidak cemburu?”
“Ada. Tapi bukan hak.”
Aku tersenyum tanpa sengaja.
Ia memperhatikan, lalu menunduk agar tidak membuatku merasa ditangkap.
Sebelum pergi, Aksa menyerahkan satu amplop. Di dalamnya ada salinan kontrak asli. Tanda tangannya masih ada; milikku juga.
“Aku pikir kamu mungkin membutuhkannya sebagai bukti,” katanya.
“Dan setelah forum?”
“Kamu yang putuskan apakah disimpan atau dihancurkan.”
Aku mema**kkan amplop ke map.
Aksa berjalan menuju pintu. Saat tangannya menyentuh gagang, aku memanggil namanya.
Ia menoleh.
“Terima kasih sudah tidak meminta aku kembali.”
Ada rasa sakit di wajahnya, tetapi juga pemahaman.
“Aku ingin kamu kembali,” katanya. “Aku hanya tidak ingin keinginanku menjadi beban yang harus kamu tanggung.”
Setelah ia pergi, aku menatap kursi kosong.
Bukti membuatku percaya Dito bersalah.
Namun yang mulai membuatku percaya kepada Aksa lagi bukan bukti bahwa ia mencint**ku.
Melainkan cara ia akhirnya membiarkan cintanya tidak menentukan pilihanku.
Lanjutkan Membaca Bab 17 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!