Aku menyusun presentasi forum seperti menyusun audit: setiap klaim harus memiliki bukti, setiap bukti harus punya asal, dan setiap emosi harus dipisahkan dari angka.
Masalahnya, publik tidak hidup seperti tabel.
Mereka mengingat ciuman lebih cepat daripada transfer. Mereka membagikan potongan kontrak lebih banyak daripada metadata. Mereka bertanya siapa yang mencint** siapa, bukan ke mana uang mahasiswa pergi.
Karena itu aku memutuskan tidak menghindari cerita pribadi.
Slide pertama menampilkan foto awal. Aku keluar dari sekretariat membawa map biru.
Slide kedua menampilkan isi map: transaksi mencurigakan.
Slide ketiga menunjukkan kontrak. Aku menjelaskan itu adalah strategi keliru yang kusetujui, bukan bukti bahwa audit palsu.
Tami menatap layar. “Kamu yakin mau mengakui persetujuanmu? Orang bisa menyalahkanmu.”
“Mereka sudah melakukannya.”
Bima meletakkan laporan pemilik manfaat. Perusahaan Ratih Prakoso menerima dana, lalu mengirim sebagian ke rekening konsultan bernama RDP Advisory. Inisial itu terhubung pada Dito melalui nomor pajak pribadi.
Selena datang membawa hasil metadata. “Unggahan kontrak pertama dibuat dari perangkat yang pernah terhubung ke akun media Dito. Waktu unggah dua menit setelah akses komputer.”
“Kamu siap bersaksi?” tanyaku.
“Siap. Dan kalau orang bilang aku mantan yang balas dendam, biarkan. Bukti tidak punya status hubungan.”
Aku menatapnya. Beberapa minggu lalu, aku menganggapnya ancaman. Sekarang ia berdiri di sampingku tanpa meminta kedekatan kami dijelaskan.
Kirana membawa pernyataan peminjaman kartu. Dr. Ratna memastikan proses forum tidak dikendalikan BEM. Aksa tidak hadir dalam persiapan akhir karena statusnya diperiksa.
Itu penting.
Aku harus membuktikan bahwa aku bisa menyampaikan ka**s tanpa popularitasnya sebagai penyangga.
Malam sebelum forum, Ibu datang ke perpustakaan. Ia membawa makanan dan wajah khawatir.
“Kamu bisa mundur,” katanya.
“Aku tahu.”
“Ibu bukan ingin membungkam. Ibu takut kamu terluka lagi seperti dulu.”
“Aku juga takut.”
“Lalu kenapa terus?”
Aku memandang rak-rak buku yang selama ini menjadi tempatku bersembunyi. “Karena waktu sekolah, aku diam dan mereka tetap menyimpan versi buruk tentangku. Diam tidak melindungi. Diam hanya membuat orang lain menulis akhir.”
Ibu menatapku lama, lalu memegang tanganku. “Ayahmu pasti bangga.”
Aku tidak menangis. Hampir.
Setelah ia pergi, aku membuka pesan dari Aksa. Hanya satu kalimat:
Besok aku duduk di baris belakang. Kalau kamu tidak ingin aku hadir, katakan.
Aku mengetik beberapa jawaban, lalu menghapus semuanya.
Akhirnya aku menulis: Hadir. Jangan mengambil mikrofon kecuali diminta.
Balasannya cepat: Dipahami.
Pukul dua dini hari, aku memeriksa slide terakhir. Isinya bukan kesimpulan romantis. Hanya rekomendasi: audit independen, perlindungan pelapor, akses vendor transparan, dan penghapusan kewenangan tunggal bendahara.
Di bawahnya, aku menambahkan satu kalimat:
Citra tidak dapat menggantikan akuntabilitas.
Aku menutup laptop.
Besok, Dito mungkin menyerang karakterku. Publik mungkin kembali membahas kontrak. Aksa mungkin harus mengakui kesalahan di depan semua orang.
Namun data yang kami punya tidak lagi berada pada satu komputer, satu map, atau satu tokoh berpengaruh.
Bukti sudah disalin ke lima tempat.
Dan kali ini, suaraku akan menjadi salinan keenam yang tidak bisa mereka hapus.
Lanjutkan Membaca Bab 18 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!