Aku duduk di baris belakang auditorium sesuai perintah Nara.
Untuk seseorang yang terbiasa berdiri di panggung, tidak melakukan apa pun terasa seperti ujian paling sulit.
Nara berjalan ke podium membawa map biru. Tidak ada jaket BEM, tidak ada genggaman tangan untuk kamera, tidak ada aku di sisinya. Ia mengenakan kemeja putih sederhana dan berbicara dengan suara pelan yang memaksa ruangan ikut tenang.
“Nama saya Nara Wening Prameswari. Saya adalah pelapor anonim pertama dalam audit dana Festival Arunika.”
Riuh muncul. Ia menunggu sampai reda.
Ia menunjukkan foto awal dan menjelaskan konteksnya. Lalu kontrak.
“Saya menyetujui kontrak hubungan publik selama tiga puluh hari,” katanya. “Keputusan itu keliru karena mengaburkan kebenaran dan menjadikan reputasi sebagai alat. Tetapi kesalahan strategi tidak mengubah keaslian bukti keuangan.”
Dito duduk di meja terperiksa. Pengacaranya tidak hadir; proses ini forum internal. Namun ia tetap tersenyum seperti orang yang yakin bisa mengubah ruangan.
Ketika Nara menunjukkan transfer vendor, Dito mengangkat tangan.
“Apakah Saudari Nara memiliki hubungan romantis dengan Ketua BEM?”
Dr. Ratna menegur, tetapi Nara menjawab.
“Perasaan pribadi saya tidak membuat rekening fiktif.”
Beberapa orang bertepuk tangan.
Dito melanjutkan, “Audit ini muncul setelah Anda dekat dengan Aksa. Bukankah Anda membuat bukti untuk menyelamatkan pacar Anda?”
Nara mengganti slide. Tanggal laporan anonim muncul dua bulan sebelum foto.
“Laporan dibuat sebelum hubungan publik. Ini hash file, waktu unggah, dan email penerimaan.”
Senyum Dito retak.
Bima menjelaskan pemilik rekening. Selena menyampaikan metadata unggahan. Kirana mengakui kartunya dipinjam. Video CCTV 22.16 diputar di layar besar.
Dito terlihat ma**k sekretariat, membuka komputerku, dan menyalin file.
Auditor kampus menampilkan alur transfer ke perusahaan ibunya.
Aku ingin berdiri ketika Dito mulai menyerang Nara secara pribadi. Tanganku sudah mencengkeram kursi. Namun aku ingat pesannya: jangan mengambil mikrofon kecuali diminta.
Nara tidak membutuhkan penyelamatan.
Ia membutuhkan ruang yang tidak direbut darinya.
Dr. Ratna akhirnya memanggilku sebagai saksi.
Aku berjalan ke depan tanpa lanyard.
“Apakah kontrak dibuat atas keputusan Anda?” tanyanya.
“Gagasan awal dari saya. Nara menegosiasikan batas dan berhak mengakhiri.”
“Apakah Anda menggunakan jabatan untuk memengaruhi beasiswa?”
“Tidak. Saya tidak memiliki kewenangan dan tidak menghubungi pihak beasiswa.”
“Mengapa audit tidak dibuka sejak awal?”
Aku menatap Dito. “Karena saya mencurigai orang dekat dan memilih loyalitas terlalu lama. Itu kesalahan kepemimpinan saya.”
Dito berdiri. “Aku melakukan semua itu untuk menutup kekurangan kas festival! Dana akan kembali!”
Ruangan meledak oleh suara.
Dr. Ratna meminta ia duduk. Namun pengakuan sudah keluar.
Nara membuka slide terakhir: rekening, vendor, waktu akses, dan nilai yang belum kembali.
“Dana yang disebut sementara telah berpindah melalui tiga rekening dan digunakan untuk biaya kampanye politik mahasiswa di luar festival,” katanya.
Dito memandangku. “Kamu akan menghancurkan semuanya demi dia?”
Aku mengambil mikrofon, lalu berhenti. Pertanyaan itu sengaja mengubah kebenaran menjadi romansa.
Aku menyerahkan mikrofon kepada Nara.
Ia menjawab, “Bukan demi saya. Karena dana itu bukan milik kalian.”
Tidak ada kalimat yang bisa lebih tepat.
Forum berakhir dengan keputusan sementara: Dito dicopot, rekening dibekukan, ka**s diteruskan ke disiplin dan hukum. Audit independen dilanjutkan. Beasiswa Nara dipulihkan sementara menunggu verifikasi final. Penonaktifanku tetap berlaku sampai evaluasi kepemimpinan selesai.
Di luar auditorium, kamera menunggu. Aku berjalan beberapa langkah di belakang Nara.
Seorang reporter berteriak, “Apakah kalian kembali bersama?”
Nara berhenti.
Aku tidak menjawab.
Ia menatap kamera. “Hari ini bukan tentang hubungan kami.”
Lalu ia berjalan pergi.
Dadaku sakit, tetapi aku juga tersenyum.
Karena beberapa minggu lalu aku akan merebut mikrofon dan membuat jawaban yang lebih indah.
Hari itu, aku akhirnya memahami cinta mungkin berarti berdiri di belakang seseorang tanpa meminta dunia menganggapmu bagian dari keberaniannya.
Lanjutkan Membaca Bab 19 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!