Kontrak Pacaran dengan Ketua BEM

Bab 2: Bab 2: Ketua BEM Mengetuk Meja

Pengaturan Membaca

Krisis selalu memiliki pola.

Pertama, semua orang bicara bersamaan. Kedua, orang yang paling takut kehilangan posisi menawarkan solusi paling cepat. Ketiga, seseorang yang tampak tenang justru menyimpan keputusan paling berbahaya.

Pagi setelah foto itu tersebar, sekretariat penuh suara. Tim media meminta konferensi pers. Sponsor festival menuntut penjelasan. Senat mahasiswa mengirim surat resmi. Dito berdiri di depan papan strategi sambil menuliskan tiga opsi yang semuanya berakhir dengan Nara dijadikan kesalahan kecil agar organisasi tetap utuh.

“Kita bilang dia datang meminta rekomendasi beasiswa,” katanya.

Aku mengetuk meja satu kali. Semua orang diam.

“BEM tidak mengeluarkan rekomendasi beasiswa,” kataku. “Dan kita tidak akan membuat kebohongan yang menempatkan dia sebagai pemohon bantuan pribadi.”

Dito menghapus tulisannya. “Kalau begitu, bilang kalian memang dekat. Publik lebih mudah menerima skandal asmara daripada skandal dana.”

Kirana, wakil ketuaku, menatapku. “Masalahnya, kalian tidak dekat.”

“Belum,” jawab Dito.

Aku tidak suka cara ia mengucapkannya, tetapi idenya menempel di kepala.

Foto itu tidak menunjukkan apa pun selain pertemuan dua orang. Namun rumor berkembang karena ruang kosong selalu diisi cerita yang paling menarik. Jika kami memberi cerita yang sederhana—hubungan pribadi—maka alasan pertemuan malam bisa disembunyikan sampai audit aman.

Masalahnya, cerita itu akan memakai tubuh dan reputasi Nara sebagai tameng.

Aku menemukannya di ruang diskusi perpustakaan. Ia duduk dengan punggung lurus, kedua tangan memegang kopi yang belum disentuh. Nara tidak terlihat seperti orang yang sedang menunggu penyelamatan. Ia terlihat seperti auditor yang siap memeriksa kebodohanku.

“Apa cerita lain itu?” tanyanya.

Aku menjelaskan pelan. Hubungan publik sementara. Tiga puluh hari. Sampai audit internal selesai dan festival melewati puncaknya. Kami akan mengakui sedang dekat, tampil bersama pada beberapa acara, lalu mengakhiri hubungan secara baik-baik.

Wajahnya tidak berubah. Itu lebih mengintimidasi daripada amarah.

“Jadi, reputasiku diserang karena berdiri di dekatmu, lalu solusi darimu adalah aku berdiri lebih dekat?”

“Secara strategis, itu—”

“Jangan pakai suara pidato.”

Aku berhenti.

Ia mencondongkan tubuh. “Kamu tidak punya kuasa atas beasiswaku.”

“Benar.”

“Tidak punya hak menentukan apa yang harus kukatakan.”

“Benar.”

“Dan kalau aku menolak?”

“Aku akan tetap melindungi identitasmu sebagai pelapor. Kita cari strategi lain.”

Jawaban itu membuat ketegangan di bahunya turun sedikit.

Aku menjelaskan risiko audit. Jika kami membuka alasan sebenarnya, Dito—atau siapa pun yang terlibat—akan tahu kami punya bukti. Sistem kas sudah menunjukkan beberapa file hilang. Kami butuh waktu untuk menelusuri vendor dan log akses.

Nara mengetuk kuku pada tutup cangkir. Satu, dua, tiga. Ia selalu menghitung saat cemas; aku menyadarinya malam sebelumnya.

“Hubungan palsu ini menguntungkanmu,” katanya. “Kamu tetap terlihat sebagai pemimpin yang punya kendali. Aku terlihat sebagai perempuan yang beruntung dipilih Ketua BEM.”

“Itu alasan kamu harus menulis syaratnya.”

Ia menatapku. “Apa?”

“Kita buat kontrak. Kamu tentukan batas. Tidak ada penggunaan jabatan. Tidak ada sentuhan tanpa persetujuan. Kamu bisa keluar kapan saja.”

“Ini terdengar seperti gagasan yang sudah kamu pikirkan.”

“Aku baru memikirkannya dua puluh menit.”

“Itu tidak membuatku lebih tenang.”

Ponsel Nara menyala. Pesan baru dari Direktorat Kemahasiswaan meminta ia hadir untuk klarifikasi. Di bawahnya, ibunya mengirim tangkapan layar foto dengan pertanyaan: Ini apa?

Nara menutup mata sesaat.

Aku ingin mengatakan akan menyelesaikan semuanya. Kalimat itu sudah biasa keluar dari mulutku. Namun ia bukan anggota panitia, bukan staf yang menunggu arahan. Ia orang yang ikut menanggung akibat dari keputusan organisasi.

“Aku tidak bisa menjanjikan ini aman,” kataku. “Aku hanya bisa menjanjikan kamu punya hak yang sama dalam setiap keputusan.”

Ia membuka mata. “Berapa lama?”

“Tiga puluh hari.”

“Kenapa tiga puluh?”

“C**up untuk audit. Tidak terlalu lama untuk menjadi kebohongan permanen.”

Nara mengambil buku catatan, membalik halaman kosong, dan menulis judul dengan huruf kecil rapi: Risiko Kontrak.

“Kalau aku setuju, kontraknya aku yang revisi.”

“Setuju.”

“Dan sebelum tanda tangan, aku mau semua dokumen audit yang sudah kamu punya.”

Aku mengangguk.

Ia menulis satu baris lagi, lalu mendorong buku itu kepadaku.

Tidak ada hubungan nyata. Tidak ada tuntutan pribadi. Tidak ada cemburu.

Aku membaca kalimat terakhir lebih lama dari seharusnya.

“Klausul itu penting?” tanyaku.

Nara menatapku datar. “Kalau kita harus berpura-pura, kita perlu melarang hal-hal yang membuat orang lupa sedang berpura-pura.”

Aku menawarkan hubungan palsu selama tiga puluh hari.

Untuk pertama kali, aku takut bukan pada kemungkinan ia menolak—melainkan pada kemungkinan ia menerima.

Apresiasi Penulis

Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!

Komentar Pembaca