Hari ketiga puluh datang satu minggu setelah aku mengakhiri kontrak.
Secara hukum kecil buatan kami, tidak ada lagi yang perlu ditutup. Secara emosional, terlalu banyak hal belum selesai.
Direktorat mengirim surat bahwa beasiswaku dipulihkan penuh. Audit mengonfirmasi tidak ada pengaruh Aksa pada seleksi. Kantor magang menawarkan perpanjangan di divisi kepatuhan. Ibu memasak makanan favoritku. Tami mengunggah foto kami tanpa menyebut Ketua BEM.
Semua seharusnya terasa seperti kemenangan.
Namun ketika aku membuka kalender dan melihat catatan Hari 30—Kontrak Selesai, aku duduk lama di depan layar.
Aksa meminta bertemu di perpustakaan, tempat gagasan buruk itu pertama kali dijelaskan. Aku menyetujui.
Ia datang tanpa lanyard. Status penonaktifannya dicabut sebagian, tetapi ia memilih menyelesaikan masa jabatan di bawah pengawasan dan menyerahkan urusan keuangan kepada komite independen.
“Kabar beasiswa?” tanyanya.
“Aman.”
Ia tersenyum, lega dengan cara yang tidak menuntut penghargaan.
Aku mengeluarkan amplop kontrak. “Ini.”
Aksa membukanya. Dua tanda tangan masih ada.
“Aku tidak mau menyimpan dokumen yang membuat semua orang berpikir perasaan kita bisa dijelaskan dengan jadwal,” kataku.
Ia mengambil pena. Bukan menandatangani. Ia menarik garis melalui namanya sendiri, lalu merobek bagian tanda tangan dari salinan itu.
“Kita simpan isi sebagai bukti pemeriksaan,” katanya. “Tapi tidak sebagai janji.”
Aku melakukan hal yang sama pada namaku.
Kertas itu kini hanya dokumen strategi, bukan ikatan.
“Aku mencint**mu,” kata Aksa.
Aku menatapnya.
“Bukan permintaan,” tambahnya. “Bukan solusi. Hanya informasi yang kamu berhak tahu.”
“Aku juga mencint**mu.”
Wajahnya berubah, tetapi aku mengangkat tangan sebelum ia bicara.
“Dan aku belum mau kembali.”
Rasa sakit muncul, lalu ia mengangguk. “Baik.”
“Aku perlu tahu perasaan ini bertahan setelah krisis. Setelah orang berhenti memperhatikan. Setelah kamu bukan tempatku berlindung dari rumor dan aku bukan alasanmu memperbaiki diri.”
“Itu adil.”
“Kamu selalu mengatakan itu sekarang.”
“Aku sedang berlatih.”
Aku tertawa kecil. Untuk pertama kali setelah kontrak bocor, tawa bersama tidak terasa seperti pengkhianatan pada diriku sendiri.
Kami berjalan keluar perpustakaan. Di tangga, beberapa mahasiswa masih memotret. Aksa menjaga jarak, bukan karena malu, tetapi karena aku belum memilih kedekatan.
“Berapa lama?” tanyanya.
“Aku tidak tahu.”
“Aku boleh mengirim pesan?”
“Boleh. Bukan setiap jam.”
“Setiap dua jam?”
Aku menatapnya.
“Humor. Buruk.”
Di gerbang, kami berpisah. Tidak ada pelukan. Tidak ada ciuman. Hanya dua orang yang sudah mengakui cinta dan tetap memilih ruang.
Malamnya, Aksa mengirim satu foto. Lanyard BEM diletakkan di dalam kotak penyimpanan. Caption-nya: Masa jabatan hampir selesai. Tidak ada strategi tambahan.
Aku membalas foto map audit biru yang sudah kosong: Ka**s utama selesai. Belum ada keputusan tambahan.
Ia mengirim emoji tertawa.
Aku mematikan layar dengan perasaan hangat dan sedih sekaligus.
Kontrak tiga puluh hari telah berakhir.
Untuk pertama kali, tidak ada dokumen yang memberi tahu kami kapan harus bertemu, kapan harus menyentuh, atau kapan harus pergi.
Sekarang cinta kami harus bertahan di satu-satunya keadaan yang belum pernah diuji:
kebebasan.
Lanjutkan Membaca Bab 20 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!