Satu bulan setelah forum, kampus mulai bosan pada kami.
Itu hadiah terbaik.
Festival selesai. Dito menjalani proses disiplin dan penyelidikan hukum. BEM membentuk sistem persetujuan ganda. Nama Aksa tidak lagi muncul setiap hari di akun gosip. Aku kembali menghabiskan sore di perpustakaan tanpa orang berhenti untuk mengambil foto.
Aksa dan aku tetap berkomunikasi, tetapi tidak seperti pasangan. Ia mengirim rekomendasi buku hukum yang membosankan. Aku mengirim koreksi angka pada laporan transparansi. Sesekali kami minum kopi bersama orang lain.
Tidak ada sentuhan.
Tidak ada klaim.
Tidak ada klausul.
Satu bulan setelah forum, aku menerima tawaran magang lanjutan. Pada hari yang sama, Aksa mengirim pesan: Selamat. Boleh aku merayakannya dengan mengajakmu makan?
Aku menjawab: Sebagai apa?
Balasannya datang lima menit kemudian, lebih lama daripada biasanya.
Sebagai Aksa. Tidak ada jabatan, tidak ada strategi, tidak ada alasan.
Kami bertemu di kafe dekat kampus. Ia memakai kemeja gelap dan benar-benar tanpa lanyard. Tidak ada tim media. Tidak ada meja yang dipesan atas nama BEM.
Aksa terlihat gugup.
Aku menikmati pemandangan itu lebih dari seharusnya.
“Kamu menyiapkan pidato?” tanyaku.
“Dua versi. Keduanya kubuang.”
“Perkembangan.”
Kami berbicara tentang hal-hal normal: pekerjaan, skripsi, rencana setelah lulus. Aku mengetahui ia ingin ma**k lembaga advokasi transparansi mahasiswa. Ia mengetahui aku ingin belajar audit forensik. Tidak ada krisis yang memaksa kami menjadi dekat. Percakapan tetap mengalir.
Setelah makan, kami berjalan menuju tangga kampus. Malam acara kelulusan latihan membuat gedung terang, tetapi sudut tempat kami duduk sepi.
Aksa menatap tangannya sendiri. “Aku mau bertanya sesuatu.”
“Silakan.”
“Boleh aku mengajakmu kencan?”
Aku menunggu bagian kedua. Tidak ada syarat, tanggal selesai, atau strategi.
“Bukankah ini sudah kencan?”
“Aku tidak berani bera**msi.”
“Bagus.”
Ia tertawa kecil. “Jadi?”
Aku memikirkan semua alasan untuk takut. Perhatian publik mungkin kembali. Aksa masih dikenal. Luka lama tidak hilang hanya karena pelaku dihukum. Namun aku juga memikirkan bulan-bulan ketika ia tidak mendesak, tidak memakai kesedihan sebagai alat, dan tidak menyelinap ke dalam keputusan yang bukan miliknya.
“Boleh,” kataku.
Aksa mengembuskan napas seperti baru lolos sidang.
“Tapi ada batas.”
“Tentu.”
“Batas dibicarakan, bukan ditulis. Bisa berubah. Tidak ada yang dianggap otomatis.”
Ia mengangguk. “Aku setuju.”
“Dan kalau cemburu?”
“Diakui. Tidak dipakai untuk mengontrol.”
“Kalau ada masalah?”
“Aku bertanya sebelum membuat konferensi pers.”
Aku tertawa.
Aksa menatapku dengan suara ketiganya di wajah, suara yang tidak perlu keluar untuk terdengar.
“Boleh aku memegang tanganmu?”
Aku mengulurkan tangan.
Genggamannya terasa familier, tetapi kali ini tidak ada kamera yang harus diyakinkan. Kami duduk begitu saja di tangga, dua orang dewasa yang memilih sentuhan tanpa penonton.
Ia tidak mencoba menciumku.
Anehnya, kesabaran itu membuatku lebih ingin mendekat.
“Aksa.”
“Ya?”
“Kamu boleh bertanya satu hal lagi.”
Ia menatap bibirku, lalu kembali ke mata. “Belum.”
“Kenapa?”
“Karena aku ingin kencan pertama kita selesai tanpa aku membuat a**msi tentang hadiah.”
Aku menggeleng, setengah kesal, setengah terharu. “Kamu belajar terlalu serius.”
“Guru auditku menakutkan.”
Kami berjalan pulang sambil bergandengan. Di gerbang, ia melepaskan tangan lebih dulu karena aku harus naik kendaraan.
Ponselku berbunyi sebelum mobil bergerak.
Terima kasih sudah datang tanpa kontrak.
Aku membalas:
Besok jam tujuh. Kencan kedua. Jangan terlambat.
Tiga titik muncul, menghilang, lalu muncul lagi.
Baik, pacar—maaf. Calon kemungkinan pacar?
Aku tertawa keras di dalam mobil.
Untuk pertama kalinya, ketidakjelasan tidak membuatku takut.
Karena sekarang, aku yang memilih ke mana hubungan ini bergerak.
Lanjutkan Membaca Bab 21 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!