Dua bulan setelah kencan pertama, kencan kelima berlangsung di tempat yang sama sekali tidak strategis: warung mi di luar kampus yang kursinya goyah dan musiknya terlalu keras.
Aku memilih tempat itu karena tidak ada backdrop, sponsor, atau alasan untuk mengambil foto. Aksa datang tepat waktu, membawa buku yang pernah kusebut ingin kubaca. Bukan bunga besar. Bukan unggahan publik.
“Ini suap?” tanyaku.
“Bukti bahwa aku memperhatikan.”
“Kalimat itu pernah berbahaya.”
“Sekarang aku bertanya dulu. Boleh diberikan?”
Aku menerima buku. “Boleh.”
Hubungan kami belum diumumkan. Bukan karena malu, tetapi karena kami ingin memiliki beberapa minggu yang tidak menjadi milik siapa pun. Tami tahu. Kirana tahu. Selena menebak dan mengirim emoji mata. Bima hanya berkata akhirnya.
Setelah makan, kami berjalan ke kampus. Malam kelulusan membuat tangga rektorat dihiasi lampu kecil. Tempat itu menyimpan terlalu banyak versi kami: berdebat di bawah hujan, berbohong soal cemburu, mengakui ketakutan, dan berpisah.
Aksa duduk di anak tangga. Aku di sebelahnya.
“Ada satu hal yang belum kita bicarakan,” kataku.
“Publik?”
“Ya.”
Ia menunggu.
“Aku tidak ingin hubungan ini dirahasiakan selamanya. Tapi aku juga tidak mau diumumkan seperti kampanye.”
“Kita bisa menjalani biasa. Kalau orang tahu, kita tidak berbohong. Kalau tidak bertanya, kita tidak berutang penjelasan.”
“Dan kalau akun gosip unggah foto?”
“Kita tidak perlu membuat cerita lain.”
Jawaban itu sederhana. Mungkin karena kebenaran sering tidak membutuhkan tim komunikasi.
Aksa mengeluarkan selembar kertas lipat dari tas. Aku langsung menyipit.
“Kontrak?”
“Bukan.”
Ia membukanya. Itu halaman terakhir kontrak lama, bagian klausul kelima yang pernah kucoret. Di bawah garis merah, ia menulis tangan:
Cemburu boleh dirasakan. Tidak boleh menjadi hak atas orang lain.
“Aku menyimpannya sebagai pengingat,” katanya.
Aku membaca, lalu melipat kembali. “Ini hampir romantis.”
“Hampir?”
“Masih mirip catatan rapat.”
Ia tersenyum.
Di kejauhan, beberapa mahasiswa mengenal kami. Salah satu mengangkat ponsel. Aksa melihat, tetapi tidak mengubah posisi. Tidak menarikku mendekat untuk membuktikan sesuatu. Tidak menjauh untuk melindungi citra.
Ia membiarkan aku memilih.
Aku menggenggam tangannya.
Kamera mungkin menangkapnya. Untuk pertama kali, itu tidak penting.
“Aksa.”
“Ya?”
“Kamu pernah bertanya boleh mengajakku kencan.”
“Dan hasil auditnya?”
“Aku pikir kita bisa mengganti status percobaan.”
Ia menatapku, berhati-hati. “Menjadi?”
“Pacaran.”
Wajahnya berubah perlahan, dari terkejut menjadi bahagia dengan cara yang tidak pernah terlihat di panggung.
“Boleh aku memelukmu?”
“Boleh.”
Pelukannya hangat dan tidak terburu-buru. Aku menyandarkan kepala pada bahunya. Tidak ada sorak penonton, hanya suara kendaraan jauh dan angin malam.
Ketika kami mundur, Aksa bertanya, “Boleh aku mencium kamu?”
Aku tersenyum. “Kali ini tidak ada sponsor.”
“Tidak ada kamera yang perlu diyakinkan.”
“Dan tidak ada kontrak.”
“Jadi?”
Aku menarik kerah kemejanya dan menciumnya lebih dulu.
Ciuman itu tidak meledak seperti di panggung. Tidak penuh adrenalin atau ketakutan. Ia hangat, pelan, dan nyata karena tidak menyelesaikan masalah apa pun. Ketika kami berpisah, Aksa menempelkan dahinya ke dahiku.
“Pacarku,” katanya, seolah menguji kata itu.
“Bukan Ketua BEM-ku.”
“Syukurlah. Jabatan itu melelahkan.”
Kami tertawa.
Beberapa minggu kemudian, foto kami di tangga memang muncul di akun kampus. Caption-nya bertanya apakah hubungan palsu telah menjadi nyata.
Aku tidak memberikan klarifikasi. Aksa juga tidak.
Kami pergi minum kopi, memperdebatkan pilihan film, dan menyusun hidup yang tidak memiliki tanggal berakhir. Ketika cemburu muncul, kami mengatakannya. Ketika batas berubah, kami membicarakannya. Ketika takut pada perhatian publik, kami tidak membuat kebohongan baru.
Pada malam kelulusan, kami kembali duduk di tangga kampus. Tidak ada lanyard, map audit, atau naskah pernyataan.
Aku memegang tangannya di tempat terbuka.
Kontrak itu berakhir pada hari ketiga puluh.
Cinta kami baru dimulai ketika tidak ada lagi yang harus kami buktikan kepada siapa pun.
Lanjutkan Membaca Bab 22 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!