Kontrak itu memiliki sebelas klausul, tiga lampiran, dan satu kalimat yang seharusnya tidak terasa seperti tantangan.
Aku membacanya di sekretariat BEM pukul 21.10. Ruangan sudah kosong kecuali aku, Aksa, dan suara mesin pencetak yang bekerja terlalu keras.
Klausul pertama: hubungan publik berlaku tiga puluh hari.
Klausul kedua: kedua pihak memiliki hak mengakhiri kesepakatan kapan saja tanpa penalti.
Klausul ketiga: Aksa dilarang menggunakan jabatan, jaringan organisasi, atau akses institusional untuk memengaruhi beasiswa, nilai, magang, dan keputusan pribadi Nara.
Klausul keempat: setiap sentuhan publik harus disepakati sebelum acara, kecuali keadaan darurat.
Klausul kelima: tidak ada cemburu, tidak ada tuntutan pribadi.
“Kenapa kamu tersenyum?” tanyaku.
Aksa menurunkan kertas. “Aku sedang membayangkan bagaimana cara mengaudit cemburu.”
“Kita tidak perlu mengaudit kalau tidak terjadi.”
“Benar.”
Nada suaranya terlalu patuh. Aku menambahkan garis bawah pada klausul itu.
Kami membahas jadwal unggahan, konferensi pers, bazar, Festival Arunika, dan cara menjawab pertanyaan tentang kapan hubungan dimulai. Aksa ingin mengatakan kami dekat sejak dua bulan lalu. Aku menolak karena itu akan menghubungkan waktu pertemuan dengan laporan anonim.
“Tiga minggu,” kataku. “Kita mulai berbicara setelah kegiatan perpustakaan.”
“Aku tidak hadir di kegiatan perpustakaan.”
“Ketua BEM tidak perlu hadir untuk punya alasan menanyakan laporan kegiatan.”
“Ma**k akal.”
Aku membenci betapa mudahnya kami menyusun kebohongan.
Latihan pertama lebih buruk. Aksa berdiri di sebelahku, lalu meminta izin menyentuh tanganku.
“Untuk foto,” katanya.
Aku mengulurkan tangan. Telapak tangannya hangat dan kering. Ia tidak menggenggam kuat, hanya c**up untuk terlihat akrab. Namun tubuhku bereaksi seperti ada sesuatu yang lebih besar daripada strategi komunikasi sedang terjadi.
“Jangan kaku,” katanya.
“Aku sedang mencoba tidak tampak seperti korban penculikan.”
“Tatap aku.”
Aku menatapnya.
Kesalahan.
Tanpa mikrofon dan penonton, wajah Aksa lebih mudah dibaca. Ada lelah, kehati-hatian, dan sesuatu yang hampir seperti rasa bersalah. Ia melepas lanyard, meletakkannya di meja, lalu mencoba lagi.
“Sekarang aku bukan Ketua BEM,” katanya. “Aku Aksa. Orang yang sedang meminta kamu menjalankan gagasan buruk bersamanya.”
“Itu tidak lebih meyakinkan.”
“Tapi lebih jujur.”
Kami berlatih berjalan berdampingan, duduk berdekatan, dan menjawab pertanyaan. Aku merancang jawaban faktual. Aksa mengubahnya menjadi kalimat yang terdengar manusiawi.
“Bagaimana kalian mulai dekat?” tanyanya, berperan sebagai wartawan.
“Kami sering bertemu karena urusan kampus.”
“Terlalu formal.”
“Kami bertemu karena dia terus mengganggu pekerjaanku di perpustakaan.”
“Aku tidak pernah mengganggu.”
“Ini cerita lain, ingat?”
Ia tertawa. Suaranya rendah dan tanpa teknik pidato. Untuk sesaat, aku lupa bahwa kami sedang membuat alat perlindungan.
Dito ma**k sambil membawa dua botol air. Tatapannya jatuh pada tangan kami yang masih berdekatan.
“Cepat juga chemistry-nya,” katanya.
Aku menarik tangan. Aksa tidak.
“Kami sedang latihan,” jawabnya.
Dito menyodorkan botol kepadaku. “Semoga ini sepadan dengan risikonya.”
“Audit juga punya risiko,” kataku.
Mata Dito menyipit, tetapi senyumnya bertahan. “Audit apa?”
Jantungku bergerak terlalu cepat.
Aksa mengambil alih. “Audit komunikasi. Nara membantu tim membuat laporan dampak isu.”
Dito mengangguk, seolah percaya. Setelah ia pergi, Aksa menutup pintu.
“Kita harus lebih hati-hati,” katanya.
“Kamu yang hampir menyebut audit di depan bendaharamu.”
“Kamu yang menyebutnya.”
Aku menatapnya. Ia mengangkat kedua tangan.
“Baik. Salah kita.”
Itu mungkin pertama kalinya seorang pemimpin organisasi mengucapkan kata kita tanpa menggunakannya untuk membagi kesalahan secara licik.
Kami menandatangani dua salinan digital. Aku menyimpan satu di penyimpanan pribadi. Aksa menyimpan satu di komputer sekretariat dengan watermark khusus.
Setelah itu, ia mengulurkan tangan lagi.
“Mulai besok?” tanyanya.
Aku menyambutnya. “Mulai sekarang. Rumor tidak menunggu jadwal.”
Genggaman kami bertahan satu detik terlalu lama.
Di layar laptop, kontrak tiga puluh hari resmi aktif. Di bagian tengah halaman, klausul kelima tampak sederhana:
Tidak ada cemburu.
Aku menutup dokumen sebelum kalimat itu sempat terasa seperti kebohongan pertama kami.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!