Aksa memiliki tiga jenis suara.
Suara pertama dipakai untuk pidato: tenang, bulat, dan selalu berhenti pada kata yang tepat. Suara kedua dipakai dalam rapat: lebih pendek, tajam, dan membuat orang berhenti mengulang alasan. Suara ketiga muncul ketika ia melepas lanyard dan kami hanya berdua.
Suara ketiga adalah masalah.
Hari keempat kontrak, kami berlatih untuk konferensi pers di ruang media kampus. Tami berperan sebagai wartawan paling menyebalkan. Kirana mengatur kamera. Selena belum kembali, sehingga tim media BEM hanya mengandalkan mahasiswa magang yang terlihat lebih gugup daripada aku.
“Pertanyaan pertama,” kata Tami sambil mengangkat ponsel seperti mikrofon. “Apakah hubungan ini memengaruhi beasiswa Nara?”
“Tidak,” jawab Aksa. “BEM tidak memiliki kewenangan atas beasiswa.”
“Kenapa kalian bertemu malam hari?”
Aku menjawab, “Karena jadwal kuliah dan pekerjaanku selesai malam.”
“Apakah kalian berciuman di sekretariat?”
Aku tersedak udara.
Aksa menahan senyum. “Tidak.”
“Terlalu cepat,” kata Tami. “Kedengarannya defensif.”
“Karena jawabannya sederhana,” katanya.
Tami mengalihkan pertanyaan kepadaku. “Apa yang membuatmu tertarik pada Aksa?”
Aku tahu jawaban yang kami tulis: integritas, kemampuan mendengar, kepedulian pada mahasiswa.
Namun saat menatapnya, aku teringat bagaimana ia menyisihkan kopi tanpa gula karena membaca catatan pesananku. Bagaimana ia tidak menyentuh tangan sebelum bertanya. Bagaimana ia mengatakan salah kita, bukan salahmu.
“Dia tidak selalu percaya bahwa dirinya paling tahu,” jawabku.
Ruangan diam.
Aksa menoleh. “Itu pujian?”
“Sebagian.”
Kirana tertawa kecil. “Bagus. Terdengar nyata.”
Latihan berikutnya tentang gestur. Aturan nomor empat mengharuskan persetujuan. Aksa menunjukkan tiga pilihan untuk foto: tangan di bahu, menggenggam tangan, atau telapak di punggung bawah.
“Yang terakhir tidak,” kataku.
“Baik.”
“Tidak ada negosiasi?”
“Batas bukan pembukaan lelang.”
Ia mengatakannya ringan, tetapi kalimat itu membuat dadaku hangat. Aku memilih tangan. Kami berdiri di depan backdrop festival. Aksa mendekat, memberi ruang satu telapak di antara tubuh kami, lalu bertanya dengan suara pelan, “Siap?”
Aku mengangguk.
Kamera menyala.
Senyumnya berubah. Bukan palsu, tetapi diarahkan. Ia menatapku seolah ruangan tidak memiliki orang lain. Aku mendadak sadar bahwa Ketua BEM memenangkan pemilihan bukan hanya karena program. Ia tahu cara membuat seseorang merasa dipilih.
“Jangan gunakan tatapan itu,” bisikku.
“Tatapan apa?”
“Yang membuat orang lupa ini latihan.”
“Kalau wartawan lupa, berarti berhasil.”
Setelah kamera mati, ia langsung mundur. Perubahan jarak itu terasa lebih jelas daripada kedekatan sebelumnya.
Kami meninjau foto. Di salah satu frame, aku tampak tersenyum sungguhan. Aksa tidak menatap kamera; ia menatapku.
“Foto ini,” kata Kirana. “Kelihatan paling natural.”
Aksa menyetujui. Aku tidak.
“Kenapa?” tanyanya setelah yang lain keluar.
“Karena kamu terlihat seperti—”
“Seperti apa?”
Aku menutup laptop. “Tidak penting.”
Ia mengambil dua kopi dari meja. Satu ia berikan kepadaku: americano, sedikit gula, suhu tidak terlalu panas karena aku selalu menunggu lima menit sebelum minum.
“Aku tidak pernah memberitahumu pesanan ini,” kataku.
Aksa mengangkat bahu. “Hari pertama di perpustakaan, kamu membeli yang sama. Hari kedua juga.”
“Kamu memperhatikan?”
“Ketua BEM harus memperhatikan det**l.”
“Katamu saat melepas lanyard, kamu bukan Ketua BEM.”
Tangannya berhenti di udara. Kemudian ia melepas lanyard dan menaruhnya di meja.
“Baik,” katanya dengan suara ketiga. “Aksa memperhatikan.”
Aku menunduk pada kopi.
Di luar, tim media mengunggah foto pertama kami dengan caption sederhana: Tidak semua hal perlu dijelaskan kepada semua orang.
Dalam enam menit, unggahan itu mendapat ribuan respons.
Namun yang membuatku sulit tidur malam itu bukan komentar publik.
Melainkan fakta bahwa Aksa mengingat bagaimana aku minum kopi sebelum kontrak meminta ia mengingat apa pun tentangku.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!