Aku bisa berbicara di depan seribu mahasiswa tanpa membaca teks.
Namun ketika Nara menggenggam tanganku setelah kamera mati, aku lupa kalimat berikutnya.
Konferensi pers pertama berlangsung di aula kecil fakultas. Tim komunikasi memilih panggung tanpa podium agar kami terlihat sant**. Nara duduk di sebelahku dengan blus biru muda, rambut diikat rendah, dan map kosong di pangkuan sebagai sesuatu untuk dipegang ketika cemas.
Pertanyaan pertama masih aman. Kapan mulai dekat? Mengapa merahasiakan hubungan? Apakah keluarga tahu?
Lalu seorang reporter akun kampus mengangkat tangan.
“Apakah benar Nara mendapat beasiswa karena kedekatannya dengan Ketua BEM?”
Aku merasakan tubuh Nara mengeras.
“Tidak,” jawabku. “Keputusan beasiswa dibuat Direktorat Kemahasiswaan melalui proses akademik. BEM tidak memiliki kewenangan.”
Reporter itu tidak berhenti. “Tapi Anda punya pengaruh.”
“Pengaruh sosial bukan otoritas administratif.”
“Apakah Anda pernah menghubungi pihak beasiswa untuknya?”
“Tidak.”
“Nara, apakah kamu bisa membuktikan prestasimu tanpa perlindungan Aksa?”
Pertanyaan itu terlalu kejam untuk disebut jurnalistik. Aku hendak mengambil mikrofon, tetapi Nara lebih dulu mengangkatnya.
“Transkrip nilai, laporan magang, dan rekam seleksi saya tersedia di institusi,” katanya. Suaranya pelan, tetapi tidak bergetar. “Saya tidak perlu membuktikan harga diri kepada akun anonim. Namun saya bersedia mengikuti klarifikasi resmi karena beasiswa adalah tanggung jawab publik.”
Ruangan hening.
Aku melihat sesuatu yang sering luput dari orang lain. Nara bukan pendiam karena tidak punya kata. Ia pendiam karena tidak mau membuang kata pada orang yang tidak layak menerimanya.
Konferensi berakhir tanpa ledakan. Sponsor mengirim pesan bahwa mereka puas. Tim media bersorak kecil di belakang panggung.
Aku mendekati Nara. “Kamu baik-baik saja?”
“Tidak.”
Jawaban jujur itu membuatku lebih khawatir daripada air mata.
“Kita bisa pulang lewat pintu belakang.”
“Aku tidak mau terlihat kabur.”
“Bukan soal terlihat.”
“Semua yang kita lakukan sekarang soal terlihat.”
Ia benar. Itu salah satu alasan kontrak ini mulai terasa seperti kesalahan.
Ketika pintu panggung dibuka, kamera kembali menyala. Sesuai rencana, aku mengulurkan tangan. Nara menatap telapak tanganku sejenak, lalu menggenggamnya.
Kami berjalan melewati wartawan. Ia tersenyum tipis. Aku menyesuaikan langkah agar tidak terlalu cepat.
Di ujung lorong, kamera terakhir sudah mati. Aku bersiap melepaskan tangan.
Nara tidak.
Jari-jarinya justru mengencang, seolah seluruh keberanian di aula tadi baru meminta pembayaran sekarang. Aku tidak menoleh, takut ia akan merasa diperhatikan. Kami terus berjalan sampai tangga sepi.
“Sudah aman,” kataku pelan.
“Aku tahu.”
Tangannya masih di tanganku.
“Ini bagian kontrak?”
“Tidak.”
Aku menunggu. Jika ia ingin melepaskan, aku tidak akan membuatnya merasa terlambat.
Nara menarik napas. “Aku cuma butuh satu menit tanpa harus terlihat kuat.”
Kalimat itu menembus semua strategi yang sudah kususun.
Aku membalik tangan, menggenggamnya dengan lebih utuh, tetapi tetap ringan. “Ambil satu menit.”
Kami berdiri di tangga darurat tanpa kamera, tanpa tim, tanpa penonton. Untuk pertama kali, sentuhan kami tidak punya fungsi publik.
Ponselku bergetar. Pesan dari Dito muncul: Sponsor aman. Rumor turun. Strategi berhasil.
Aku melihat tangan Nara di tanganku dan menyadari masalah sebenarnya.
Strategi itu memang berhasil.
Terlalu berhasil.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!