Hari keenam kontrak, aku belajar bahwa tersenyum bersama seseorang di depan kamera jauh lebih mudah daripada berhenti memikirkannya setelah pulang.
Bazar kampus dipenuhi tenda makanan, musik terlalu keras, dan mahasiswa yang berpura-pura tidak mengambil foto kami. Aku memakai jaket BEM milik Aksa karena tim media mengatakan itu akan terlihat manis. Jaketnya terlalu besar dan menyimpan aroma sabun, kertas, serta sesuatu yang hanya bisa kusebut Aksa.
“Jangan tarik lengan terus,” katanya.
“Jaketmu menelan tanganku.”
“Pengikut akun kampus menyebutnya menggemaskan.”
“Aku tidak ingin dinilai seperti kucing memakai sweater.”
Aksa tertawa. Kamera menangkapnya. Dalam beberapa menit, potongan video kami berdebat soal ukuran jaket menjadi konten paling banyak dibagikan.
Kami menjalani permainan pasangan dari satu stan ke stan lain. Menebak makanan favorit, memilih lagu, menjawab siapa yang lebih sering terlambat. Sebagian jawaban harus kami karang. Sebagian lain mengejutkan karena kami benar-benar tahu.
“Makanan yang Nara cari saat stres?” tanya pembawa acara.
“Roti cokelat dari kantin lama,” jawab Aksa.
Aku menoleh. “Dari mana kamu tahu?”
“Kamu membelinya setelah konferensi pers.”
Giliran pertanyaanku: kebiasaan Aksa ketika cemas.
Aku menjawab, “Melepas lanyard.”
Senyumnya meredup sesaat.
Penonton bersorak karena mengira itu tanda kami saling mengenal. Aku justru merasa telah menyentuh sesuatu yang pribadi.
Setelah acara, kami bersembunyi di belakang tenda panitia untuk minum. Aksa menunduk mengecek pesan. Aku memperhatikan garis lelah di wajahnya dan keinginan aneh untuk merapikan rambut yang jatuh di dahinya.
“Jangan,” kataku pada diri sendiri.
“Apa?”
“Tidak apa-apa.”
Seseorang memanggil namanya. Seorang perempuan berjalan mendekat dengan kamera kecil tergantung di leher, blazer merah marun, dan percaya diri yang langsung mengubah udara.
Selena Azzahra.
Aku mengenal wajahnya dari media kampus. Ia kreator konten, alumni tim pers, dan mantan Aksa yang hubungannya pernah menjadi tontonan publik selama setahun.
“Akhirnya ketemu pasangan baru yang membuat algoritma hidup lagi,” katanya.
Aksa berdiri. “Kapan kamu kembali?”
“Pagi tadi. Sponsor meminta aku menangani kampanye festival.”
Selena memeluk Aksa singkat. Gerakan normal. Profesional. Tidak ada alasan dadaku bereaksi seperti seseorang baru menarik kabel di dalamnya.
Ia menatapku dari ujung rambut sampai jaket yang kupakai. “Nara?”
Aku mengangguk.
“Foto kalian bagus. Terlalu bagus, malah.”
“Apa maksudnya?” tanyaku.
Selena tersenyum. “Aksa selalu lebih mudah dibaca ketika dia berusaha terlihat tidak peduli.”
Aksa memotong, “Kita punya rapat sponsor jam empat.”
“Ya. Aku datang untuk itu.”
Mereka berjalan berdua menuju tenda utama sambil membahas rundown. Aku tertinggal memegang botol air.
Tami muncul di sampingku. “Jangan bilang kamu cemburu.”
“Aku tidak cemburu.”
“Wajahmu baru saja menulis esai.”
“Klausul kelima.”
“Kontrak tidak bisa mengatur hormon.”
Aku menarik lengan jaket sampai menutupi jari. “Aku cuma tidak suka tidak tahu apa yang sedang terjadi.”
Aksa menoleh dari kejauhan, mencari aku di antara kerumunan. Ketika mata kami bertemu, ia mengangkat tangan kecil, seolah memastikan aku masih di sana.
Aku membalas tanpa sadar.
Selena melihat gerakan itu.
Sore harinya, sebuah pesan ma**k dari akun Selena: Kita perlu bicara. Bukan soal Aksa. Soal foto pertama kalian.
Aku membaca pesan itu dua kali.
Di panggung, Aksa sedang tersenyum kepada sponsor. Namun untuk pertama kali, aku bertanya apakah mantannya tahu lebih banyak tentang skandal kami daripada yang ia katakan.
Lanjutkan Membaca Bab 6 Secara Gratis!
Masuk atau daftar gratis sekarang untuk melanjutkan membaca cerita ini secara GRATIS dan menyimpan riwayat bacaan Anda secara otomatis di seluruh perangkat.
Memverifikasi lisensi bab premium Anda...
Bab ini Premium 🔒
Anda perlu membuka bab ini menggunakan koin atau bergabung dengan keanggotaan VIP untuk mendapatkan akses penuh.
Apresiasi Penulis
Suka dengan bab ini? Berikan hadiah untuk mendukung karya penulis favoritmu!